logo alinea.id logo alinea.id

Film Iqro: My Universe, memperhadapkan sains dengan agama

Sebagai film yang ketat dengan keislaman, ada nilai yang ingin ditonjolkan dalam film yang berdurasi 101 menit itu. 

Armidis
Armidis Minggu, 21 Jul 2019 05:58 WIB
Film Iqro: My Universe, memperhadapkan sains dengan agama

Film Iqro: My Universe adalah perjalanan seorang pelajar yang gigih berjuang meraih mimpinya menjadi penjelajah angkasa, astronot. Demi ambisi itu, Aqilla (Aisha Nurra Datau) rela melakukan apapun, bahkan mengabaikan orang tuanya sendiri.

Untuk menggapai cita-citanya, Aqilla yang duduk di sekolah menengah mengikuti berbagai perlombaan. Setelah gagal dalam lomba di sekolahnya, Aqilla mengikuti lomba vlog yang diselenggarakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Menurutnya, lomba itu bisa menjadi anak tangga mendekatkan pada mimpinya.

Dia sangat bersemangat mengikutinya. Lantaran hadiah yang ditawarkan berupa kunjungan ke pusat pelatihan astronot di Inggris yang sangat menggodanya.

Opa Aqilla (Cok Simbara) yang juga seorang astronom, seharusnya memudahkan penyelesaian tugas vlog yang diminta dengan tenggat terbatas. Tetapi sayangnya, Opa sedang bertugas ke luar negeri, Inggris.

Namun bukan karena Opa yang membuat Aqilla gagal memenangkan lomba, melainkan video vlog yang tersimpan di gawainya hilang, lantaran dimasukan ke dalam aquarium mini di kamar Aqilla oleh adiknya. Beruntungnya, Aqilla tetap bisa mengunjungi pusat pelatihan astronot atas undangan astronot perempuan Indonesia bernama Tsurayya (Maudy Koesnaedi).

Melawan orang tua

Untuk menjaga mimpi, memang dituntut bekerja keras. Setidaknya itu yang dilakukan Aqilla agar mimpinya menjadi astronot tetap bisa terwujud. Waktu Aqilla tersita untuk menyelesaikan tugas yang diberikan Tsurayya. Dia mengerjakan tugas dari Tsurayya hingga larut malam, bahkan tugas utamanya di sekolah terbangkalai.

Kegigihan itu membuat ibunya khawatir. Pekerjaan rumah yang diberikan sekolah tidak pernah dikerjakan. Bahkan Aqilla nekat kabur lewat pintu belakang tanpa sepengetahuan ibunya, sewaktu dilarang ke luar rumah karena hendak mengerjakan tugas vlog.

Sponsored

Sebagai keluarga yang taat beragama, perilaku Aqilla tersebut merupakan gambaran keegoisannya yang sangat bertentangan dalam kultur keluarganya yang islami.

Pertentangan semakin jelas dengan peran saudaranya Fauzi. Fauzi diplot sebagai anak yang saleh dan taat pada orang ayah (Mike Lucock) dan ibunya (Meriam Belina), bahkan lulus dalam seleksi beasiswa di pondok pesantren tahfiz Alquran.  

Sebagai film yang ketat dengan keislaman, ada nilai yang ingin ditonjolkan dalam film yang berdurasi 101 menit itu. 

Pesan nilai Islam banyak ditemukan di dalam film garapan Iqbal Alfajri ini. Salah satunya soal kesuksesan tidak akan pernah tercapai tanpa memperbaiki hubungan baik dengan orang tua. Pesan sebuah hadis, rida Tuhan terletak pada orang tua, menjadi pesan yang ingin juga ditampilkan dalam kesuksesan Aqilla.

Keseimbangan sains vs Islamisasi

Film ini mencoba memperhadapkan pengetahuan antariksa dengan Islam. Wacana yang mengemuka, ingin mempertentangkan Islam dengan disiplin ilmu antariksa.

Salah satunya terlihat dari dialog Aqilla dengan suami Raudah, Kak Muklis (Mario Irwinsyah) yang meminta Aqilla menjawab pertanyaan astronot pertama mendarat di luar angkasa. Jawaban polos Aqilla “Yuri Gagarin!”. Padahal, Muklis menjawab Nabi Muhammad SAW merupakan astronot pertama.

Perjalanan isra mikraj Nabi Muhammad SAW menjemput perintah salat dianggap sebagai astronot pertama. Namun, penjelasan itu tidak pernah dijawab tuntas dengan teori-teori ilmiah. Model pendekatan Islamisasi seperti demikian kerap membuat dikotomi kontraproduktif, sehingga dianggap tidak pernah memperkaya wawasan sains. Seolah-olah terdapat dikotomi antara Islam dan ilmu pengetahuan yang belum diselesaikan. 

Faktor individu

Film Iqro: My Universe juga mengisahkan persaingan Aqilla  dengan June (Azra Mayraina) dan kemudian lebih menonjol sebagai konflik-konflik kecil untuk menopang ending film. Persaingan ketat keduanya sangat kentara, baik dalam perlombaan sekolah maupun dalam lomba lainnya.

Sekaligus menjadi kritik terhadap lembaga pendidikan yang cenderung mengabaikan kerja sama (team work) sebagai salah satu indikator keberhasilan dalam sistem pendidikan Indonesia. 

Dialog antara Aqilla dan Fauzi saat berkunjung ke rumah Raudah sedikit menyentil soal ambisi Aqilla yang ingin selalu menang dalam perlombaan. Hanya saja, dialog itu sepintas sehingga terkesan dialog biasa. Padahal, proses kesuksesan dengan membuat premis kerja sama yang baik bagi seseorang, bisa saja menjadi angle baru yang ikut memperkuat imajinasi penonton soal syarat kesuksesan.