sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Filosofi Teras: Belajar filsafat stoa dengan menyenangkan

Henry Manampiring mengemas filsafat stoa dengan cara yang menyenangkan.

Soraya Novika
Soraya Novika Jumat, 28 Jun 2019 21:38 WIB
Filosofi Teras: Belajar filsafat stoa dengan menyenangkan

Sejak pertama kali dipajang di toko-toko buku mulai 26 November 2018, buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini berbulan-bulan lamanya berhasil masuk dalam daftar 'Top 10' buku paling laris.

Sang penulis Henry Manampiring, menulis buku ini setelah mengenal filsafat Yunani-Romawi kuno. Semua berawal ketika ia mengalami kegelisahan terhadap pola pikir negatif dalam semua situasi.

Pada pertengahan 2017, ia sadar pribadi pikiran negatifnya itu sudah memengaruhi banyak hubungan, mulai dari dirinya sendiri, rekan kerja, hingga keluarga. Psikiater mendiagnosa Henry menderita major depressive disorder.

Ia terpaksa mengonsumsi obat-obat yang diresepkan. Lalu, ia mencari akar permasalahan, dan menemukan buku How to be a Stoic karya Massimo Pigliucci.

Dari buku itu, ia mengenal filsafat stoa atau stoisisme. Lewat filsafat stoa, Henry berhasil menjadi pribadi yang lebih tenang, damai, dan bisa mengendalikan emosi negatif.

Kemudian, ia mulai memperbanyak bacaan terkait filsafat stoa, selanjutnya ia rangkum apa pun yang sudah ia pelajari menjadi buku.

Meski terkesan seperti jurnal pribadi, yang digunting-tempel dari beragam buku filsafat stoa yang pernah ia baca, namun Henry menawarkan banyak riset segar yang menarik untuk dibaca.

Henry menamakan filsafat stoa dengan filosofi teras, yang dijadikan judul utama buku setebal 320 halaman ini. Selain istilah stoa atau stoisisme sulit diucapkan lidah orang Indonesia, filsafat ini punya sejarah tersendiri.

Filsafat ini berasal dari kisah seorang pedagang kaya raya dari Siprus bernama Zeno yang hidup 300 tahun sebelum Masehi. Zeno mendadak jatuh miskin karena kapal yang ditumpanginya karam dan menghanyutkan seluruh barang dagangannya.

Sponsored

Saat itu, Zeno terdampar di Athena dan belajar beragam filsafat, hingga menemukan dan mengajarkan filasafat sendiri, yakni stoisisme. Ia gemar mengajar di sebuah teras berpilar—dalam bahasa Yunani disebut stoa—yang terletak di sisi utara agora—semacam alun-alun—di Kota Athena. Sejak itu para pengikutnya disebut kaum stoa.

Ajaran stoisisme

Buku ini dikemas dengan bahasa sederhana, namun berisi hal menarik tentang filsafat stoa. Alinea.id/Soraya Novika.

Stoisisme banyak diterapkan para pesohor Yunani-Romawi kuno sebagai bagian penguat mental menghadapi perang fisik di zamannya. Pada abad ke-21, filosofi ini kembali populer. Terutama di belahan dunia Barat.

Beberapa tokoh yang memperkenalkan kembali filosofi ini ke publik, di antaranya William Irvine, Tim Feris, Ryan Holiday, dan Massimo Pigliucci. Filsafat ini masih dibutuhkan di zaman sekarang. Sebab, banyak dari kita lebih rentan menghadapi perang yang sifatnya tak langsung, tetapi bebannya lebih beragam.

Misalnya, perang di media sosial. Saat bangun tidur, membuka telepon seluler dan mendapati berita bohong muncul di media sosial kita, emosi langsung campur aduk.

Kita lebih mudah marah untuk alasan-alasan yang tak logis, mulai dari berdebat karena berbeda pendapat hingga merundung satu sama lain. Belum lagi masalah dalam hidup sehari-hari, seperti masalah kemacetan atau persoalan ekonomi.

Segala problem itu membuat kita memang membutuhkan mental sekuat baja agar tak mudah terpengaruh, tak mudah jatuh, dan tetap fokus menjalani kehidupan layaknya manusia.

Nah, filosofi teras hadir menawarkan alternatif penguat mental atas semua permasalahan tadi.

"Ada hal-hal yang berada di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita," kata salah seorang pelopor stoisisme kuno, Epictetus, seperti dikutip dalam buku ini.

Filosofi teras pada dasarnya mengajarkan dikotomi kendali menjadi dua hal itu saja. Pertama, ada hal-hal yang bukan di bawah kendali kita, yakni tindakan orang lain, opini orang lain, reputasi kita, kesehatan kita, kekayaan kita, kondisi kita saat lahir, segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita seperti cuaca, gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya, dan lainnya.

Kemudian, ada hal-hal yang berada di bawah kendali kita, yaitu pertimbangan, opini, atau persepsi kita sendiri, keinginan kita, tujuan kita, dan segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita.

Jadi, dengan sebegitu sempitnya lingkup kendali, artinya kita diwajibkan untuk menerima kenyataan bahwa banyak hal di luar sana yang senantiasa siap membuat kita kecewa. Sehingga, bagi filsuf stoa, menggantungkan kebahagian pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan adalah hal yang tak rasional.

Namun, bukan berarti kita diajarkan untuk menghindari hal-hal yang berada di luar kendali, justru kita harus menghadapinya dengan menerapkan kebijakan. Kita harus tetap sadar pada hal-hal di luar kendali, tetapi juga diwajibkan berbuat baik, apa pun alasannya serta kepada siapapun orangnya.

Cara hidup mudah

Ilustrasi unik menambah pembaca tak bosan membacanya sampai habis. Alinea.id/Soraya Novika.

Sang penulis berbagi langkah sederhana untuk mempermudah pembacanya mengendalikan diri, terutama ketika mulai merasakan emosi negatif.

Ia menyingkat rumus itu menjadi S-T-A-R (stop, think & assess, respond). Pada langkah “stop”, kita diarahkan untuk membiasakan diri berhenti sejenak atau tidak larut dalam perasaan atau emosi negatif yang muncul.

Lalu, pada langkah “think & assess”, kita diminta berpikir secara rasional dan menilai emosi atau situasi negatif yang tengah kita hadapi secara objektif.

Terakhir, barulah masuk pada tahap “respond”, di mana kita diminta memilih respons seperti apa yang baiknya kita ambil. Dengan catatan, respons tersebut adalah hasil penggunaan nalar yang sebaik-baiknya dengan prinsip bijak, adil, menahan diri, dan berani.

Contoh kecilnya, saat terjebak di jalanan yang macet, marah-marah tak ada gunanya. Bahkan, merugikan diri kita sendiri. Dengan menerapkan keempat langkah tersebut, kita bisa mengalihkan energi marah tadi kepada hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti membaca e-book atau mendengarkan podcast.

Buku ini menggunakan gaya bahasa yang sederhana dan mengalir. Ada pula beragam ilustrasi unik, yang semakin mendekatkan pembaca pada pesan yang hendak disampaikan.

Henry juga menyisipkan hasil wawancaranya dengan sejumlah tokoh dan ahli, terkait masalah pengendalian emosi maupun penerapan filsafat stoa di kehidupan sehari-hari narasumber.

Henry pun senantiasa konsisten merangkum intisari setiap bab di bukunya, pada masing-masing halaman terakhir bab. Hal ini tentu membantu pembaca untuk mengingat-ingat kembali pesan penting apa yang sudah dibaca, tanpa perlu repot-repot membacanya lagi dari awal.