sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kegembiraan hidup Ria Irawan hingga napas terakhir

Ria menjalani beragam pengobatan dan kemoterapi, termasuk untuk menyembuhkan kanker dinding rahim atau endometrium sejak 2014.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Selasa, 07 Jan 2020 13:24 WIB
Kegembiraan hidup Ria Irawan hingga napas terakhir
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Keluarga seniman

Chandra Ariati Dewi Irawan dilahirkan di Jakarta, 24 Juli 1969. Kemudian lebih dikenal sebagai Ria Irawan, masa kanak-kanak Ria bertumbuh dalam keluarga seni film. Kedua orang tuanya, Bambang Irawan dan Ade Irawan, adalah aktor senior film layar lebar. Kakak Ria, Dewi Irawan, turut produktif membintangi sejumlah film layar lebar hingga kini.

Ria pertama kali bermain film sebagai figuran dalam Sopir Taksi (1973) yang juga disutradarai oleh ayahnya. Di tahun yang sama, Ria kembali berperan di film Belas Kasih juga dengan arahan sutradara ayahnya sendiri. Dia juga berperan dalam film Chicha (1976) dan Bila Saatnya Tiba (1985).

Berkat perannya di film Bila Saatnya Tiba, Ria meraih nomine dalam Festival Film Indonesia 1986 sebagai Aktris Pendukung Terbaik.

“Gemblengan tetap ada, tetapi perlu dicatat, saya selalu berusaha bermain baik pada setiap film-film yang saya bintangi,” kata Ria, suatu kali.

Aktor kawakan Slamet Rahardjo Djarot yang kala 1984 menyutradarai film Kembang Kertas mengenang Ria sebagai aktris muda yang punya talenta cukup menjanjikan. Dalam film ini, Ria berperan sebagai anak-anak yang harus pindah tempat tinggal dari rumah mewah ke sebuah rumah susun.

“Dia (Ria) pribadi yang bebas, tak punya prasangka macam-macam. Dengan keterbukaan pikiran hati dan pikirannya, dia menjalankan akting sebagai cerminan kemanusiaan, bahwa hidup itu kebahagiaan, bukan penderitaan,” ucap Slamet, dihubungi Senin sore (6/1).

Sementara itu, Ria juga sempat berperan dalam film Ibunda (1986) bersama aktris Niniek L. Karim. Kala itu, Niniek mengagumi permainan akting Ria. Dalam film itu, mereka digembleng oleh sutradara Teguh Karya. Mereka juga sama-sama tercatat menjadi nomine Pemeran Pendukung Wanita Terbaik. Namun kala itu, Niniek yang dinobatkan sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik pada FFI 1986.

“Saya saat itu sangat terkesan, dia (Ria) amat berbakat. Saya bilang ke dia, pelihara bakatmu. Itu karunia Tuhan,” kata Niniek, dihubungi Senin sore (6/1).

Dua tahun berselang, giliran Ria yang berhasil memenangkan Piala Citra sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di FFI 1988 lewat perannya dalam film Selamat Tinggal Jeanette (1987). Film ini turut melambungkan nama Mathias Muchus dan Meriam Bellina.

Beberapa sinetron kemudian juga dibintangi Ria, antara lain Cintailah Daku, Debu Tertiup Angin, Melompati Angin, Bidadari yang Terluka, dan Canting. Ria kembali bermain dalam layar lebar dengan berperan sebagai Renjani di film Biola Tak Berdawai (2003). Berkat pemeranannya, Ria diganjar penghargaan The Best Actress dalam Festival Film Asia Pasific 2003 yang diadakan di Iran.

Di Festival Film Indonesia 2006, Ria kembali menjadi nomine Pemeran Pendukung Wanita Terbaik berkat aktingnya di film Berbagi Suami (2006). Meskipun dalam kondisi mengidap kanker, Ria masih bermain dalam sejumlah film layar lebar pada 2019, seperti Mantan Manten dan Koboy Kampus.

Berita Lainnya