sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Last Christmas: Bukan romansa Natal pada umumnya

Film yang disutradarai oleh Paul Feig itu terinspirasi oleh lagu dari duo asal Inggris, Wham!

Valerie Dante
Valerie Dante Minggu, 15 Des 2019 05:47 WIB
Last Christmas: Bukan romansa Natal pada umumnya
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 396.454
Dirawat 60.694
Meninggal 13.512
Sembuh 322.248

Menjelang akhir tahun, film komedi romantis (romantic comedy/romcom) bertema Natal atau biasa disebut holiday romance menjadi salah satu hal yang ditunggu-tunggu. Tahun ini, salah satu opsi yang dapat ditonton adalah Last Christmas.

Film yang disutradarai oleh Paul Feig itu terinspirasi oleh lagu dari duo asal Inggris, Wham!, dengan judul yang sama. Karya-karya komedi Feig sebelumnya meliputi The Bridesmaid (2011), Spy (2015), hingga The Heat (2013).

Last Christmas bercerita tentang Kate Andrich (Emilia Clarke), perempuan berusia 20-an yang bekerja sebagai kasir di toko Natal di London. Sejak awal film, penonton akan mendapatkan kesan bahwa hidup Kate sangat berantakan.

Dia kehilangan tempat tinggal, membenci pekerjaannya, serta tidak memiliki hubungan baik dengan bos maupun keluarga sendiri. Gadis yang lahir dari keluarga imigran asal Yugoslavia itu kerap mengeluhkan mengapa hidupnya begitu sial.

Namun, sejak bertemu dengan seorang pria asing yang menawan, Tom Webster (Henry Golding), hidup Kate mulai menjadi lebih baik.

Seiring film berjalan, kisah pahit hidup Kate perlahan terungkap. Dia baru saja pulih dari penyakit yang membuatnya harus menerima cangkok jantung.

Suatu malam, kepada Tom dia mengaku sejak menjalani operasi itu, hidupnya tidak lagi sama. Ada sesuatu yang hilang darinya.

Sepanjang film, Tom kerap muncul di saat yang tepat, entah itu ketika Kate depresi, kesulitan, atau membutuhkan tempat untuk bermalam. Pria itu berupaya mengubah sisi pesimistis Kate, membuatnya lebih positif dengan kata-kata yang menjadi ciri khasnya, "Look up".

Sponsored

Kate pun menemukan motivasinya untuk bangkit kembali dan menata hidupnya. Dia berusaha memperbaiki hubungan dengan bos, ibu, ayah, dan kakak perempuannya.

Kejutan yang tertebak

Sejak awal Tom secara misterius timbul dan tenggelam. Melihat cara dia selalu hadir atau hilang di saat Kate membutuhkannya, saya menduga ada yang aneh darinya.

Awalnya, saya pikir Tom merupakan teman khayalan Kate. Pasalnya, banyak adegan yang membuat saya berpikir Tom sebagai sosok pria yang too good to be true.

Namun, nyatanya twist yang disuguhkan di film ini tidak jauh berbeda dari bayangan saya. Naskah Last Christmas secara harfiah mengikuti lirik dari lagu Wham! dengan judul yang sama: Last Christmas, I gave you my heart, but the very next day, you gave it away.

Mereka mengadopsi lirik tersebut dan membuatnya menjadi nyata dengan Tom yang ternyata merupakan donor jantung Kate. Momen ketika Kate mengetahuinya, semua menjadi jelas. Tom tidak nyata, entah dia hantu atau hanya imajinasi Kate. Ketika pernyataan itu terlontar dari mulut Kate, Tom hanya meletakan tangannya di dada perempuan itu seraya berkata, "Aku adalah bagian dari dirimu".

Meskipun tertebak, perlu diakui bahwa pemasaran film ini berhasil mengecoh saya. Bagaimana tidak? Jika menonton trailer filmnya di YouTube, suasana romansa antara Tom dan Kate sangat kental. Membuat orang berpikir mereka akan menonton holiday romance sebangsa Love Actually (2003) atau The Holiday (2006).

Emma Thompson, yang juga berperan sebagai Petra, ibu Kate, merupakan penulis naskah Last Christmas. Fakta bahwa aktris Inggris, yang berakting di film-film ternama seperti Nanny McPhee (2005) dan Saving Mr. Banks (2013), merupakan penulis naskah di film tersebut sedikit mengecewakan.

Pasalnya, pada 1996, Thompson menerima penghargaan Academy Awards kategori "Best Adapted Screenplay" untuk Sense and Sensibility (1995).  

Sisipan isu politik

Thompson berupaya menyisipkan isu politik terkini dalam dialog-dialognya. Sebut saja adegan ketika Kate menonton televisi dan selintas ada berita mengenai Brexit, persoalan mengenai sikap antiimigran di Inggris, dan hubungan LGBT.

Akan tetapi sayangnya dialog-dialog tersebut kerap terkesan seperti one-liner, canggung, dan gagal menyatu dengan jalan ceritanya.

Bagi saya, salah satu hal yang membuat film ini dapat dinikmati adalah performa Clarke. Bakat komedi Clarke sudah terlihat dari perannya sebagai Louisa di Me Before You (2016).

Chemistry antara Clarke dan Golding pun masih dapat dipercayai walaupun di awal hingga pertengahan film terkesan terlalu diburu-buru. Setidaknya mereka jauh lebih "hidup" dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya, seperti Michelle Yeoh yang berperan sebagai bos Kate, yang tidak memiliki dampak penting bagi jalannya cerita.

Pada akhirnya, Last Christmas tidak membawa perasaan hangat yang biasanya hadir dalam film-film Natal. Film ini justru menyoroti penyesalan dan pembelajaran hidup yang berupaya "dijual" dengan tema Natal.

Berita Lainnya