logo alinea.id logo alinea.id

Mengelola gaya hidup untuk mengatur keuangan

Cara manusia menjalani kehidupan tercermin dalam kemampuannya mengelola keuangan pribadi.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 08 Mar 2019 11:39 WIB
Mengelola gaya hidup untuk mengatur keuangan

Cara manusia menjalani kehidupan tercermin dalam kemampuannya mengelola keuangan pribadi. Hal itu  yang menjadi bahasan utama dalam buku "Manage Your Cash Flow, Manage Your Life" karya Joice Tauris Santi dan Mohammad Andoko.

Seringkali seseorang sulit mengatur arus pendapatan dan pengeluaran (cash flow). Sebab, manusia sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jika dibiarkan, tentu rasa tidak puas akan terus menghampiri dan menjadi gaya hidup.

Santi dan Andoko dalam buku ini menyebut gaya hidup manusia akan berpengaruh pada pengaturan cash flow. Untuk itu, buku ini menegaskan pentingnya hidup dalam batas kemampuan.

Ketika memperoleh gaji di awal bulan, ada baiknya untuk segera membagi pos pengeluaran. Sebetulnya, tidak ada rumus baku yang berlaku persis untuk setiap orang mengelola gajinya. Namun, perlu diperhatikan secara bijak dan cerdas pengeluaran yang menjadi kewajiban dan prioritas.

Mengutip dari buku tersebut, "Idealnya, pengeluaran bulanan lebih kecil dari pendapatan, sehingga masih ada rencana-rencana jangka panjang yang dapat dilakukan".

Buku

Jika tidak, maka orang akan berada dalam kondisi cash flow negatif atau yang biasa disebut besar pasak daripada tiang. Hal ini biasanya disebabkan oleh kelalaian kecil dari kebocoran pengeluaran seperti menyepelekan uang receh. Jika diakumulasikan, pengeluaran uang receh bisa saja menjadi nominal yang besar.

Kata "diskon, promo, sale, potongan harga, buy 1 get 1" menjadi musuh terbesar bagi manusia karena banyak yang tergiur dengannya. Hasilnya, banyak yang membeli barang-barang diskon padahal mereka tidak begitu membutuhkannya.

Sponsored

Santi dan Andoko juga menyebut lingkungan sangat memengaruhi pengeluaran.  Misalnya, setiap hari kita terbiasa membeli minuman di kantor dengan harga Rp20.000 per hari. Angka tersebut memang terlihat kecil, namun apabila diakumulasikan selama satu bulan, pengeluaran unutuk membeli minuman telah memotong sekian persen dari pendapatan kita.

Contoh lain adalah, kebiasaan menggunakan taksi untuk berangkat dan pulang kantor. Padahal, sebenarnya kita bisa menggunakan jasa angkutan umum lainnya yang harganya lebih terjangkau, sehingga dapat mengurangi pengeluaran bulanan.

Apabila seseorang berhasil mengatur pendapatan dengan baik, sekecil apapun pendapatan tentu akan efektif dan bermanfaat. Selain itu, sebagian dari pendapatan juga harus disisihkan untuk menabung. Santi dan Andoko menekankan pentingnya menabung sehingga harus dijadikan gaya hidup oleh setiap orang. Jangan sampai, kata mereka, penghasilan tersandera oleh utang atau cicilan. 

Buku ini tidak terlalu tebal dan ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami serta contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, buku ini juga menawarkan beberapa solusi dalam mengatur cash flow.

Dengan diksi dan rangkaian kata yang mengalir, buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan mulai dari milenial, pekerja pemula, ibu rumah tangga ataupun yang sudah berkeluarga. Sayangnya, dalam buku ini Santi dan Andoko tidak menulis pilihan instrumen tabungan atau investasi bagi para pembaca.