sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menghibur diri, menyelamatkan kewarasan saat pagebluk

Pandemi Covid-19 menimbulkan stres pada sebagian orang.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Senin, 30 Nov 2020 22:27 WIB
Menghibur diri, menyelamatkan kewarasan saat pagebluk
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Pandemi Covid-19 yang tengah mendera Indonesia membuat banyak perubahan di kehidupan tiap individu, tak jarang adaptasi pada hal baru seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan bekerja dari rumah (WFH) berdampak pada aspek psikologis.

Joaninha (21), mahasiswi asal Jakarta mengaku bahwa kehidupannya berubah 180 derajat di tahun 2020 ini. Ia harus melakukan kuliah secara daring, menghabiskan banyak waktu di rumah saja, dan banyak rencana-rencana di tahun ini yang gagal ia realisasikan lantaran virus corona jenis baru tersebut.

"Tahun ini banyak tantangan, enggak mudah. Kuliah online itu bagi saya sangat mempengaruhi nilai, karena sepertinya semua nilai jadi sama rata dan itu enggak fair. Terus banyak diam di rumah jadi kurang gerak," ujar Joan kepada Alinea.id, Minggu (29/11).

Lantaran hanya di rumah saja dan tidak banyak melakukan aktivitas, ia merasa tubuhnya menjadi kurang fit karena tidak melakukan gerakan seperti hari-hari sebelum ada pandemi. 

Selain itu, lanjut Joan, akibat pandemi ini, kegiatan tahunan atau kegiatan rutin organisasi di kampusnya banyak yang tertunda. Joan juga sempat mengalami kendala saat memasukkan Sistem Kredit Semester (SKS) mata kuliah seminar.

"Untuk mata kuliah seminar, saya antara pasrah dan berserah, tetap dikejar sih ketertinggalannya, pokoknya tetap diusahainlah semaksimal mungkin," ucapnya.

Meski sempat mengalami stres, di tengah pandemi ini Joan tetap berusaha untuk menjaga kesehatan psikologisnya. Ia pun melakukan berbagai cara untuk mengantisipasi terjadinya stres yang berkepanjangan.

"Awal pandemi sempat stres karena di rumah aja, akhirnya memilih olahraga bersama keluarga. Papa juga sempat WFH (work from home), jadi kita sekeluarga jalan santai deket perumahan. Selain itu, waktu gereja mulai dibuka meski dibatasi, saya pergi beribadah buat nenangin diri," jelasnya.

Sponsored

Joan pun berharap semoga akhir tahun kita semua bisa kembali beraktivitas normal meskipun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah ada. 

"Sebelumnya saya mau berterima kasih untuk tahun 2020, meskipun di rumah aja tetapi justru membuat saya punya lebih banyak waktu dengan keluarga," katanya.

Hal serupa dirasakan Mentari (27). Ia merasa hilang semangat untuk melakukan aktivitas. "Kacau, hilang semangat untuk ngapa-ngapain, merasa kebebasan saya terenggut dan merasa terpenjara. Hidup seperti gitu-gitu aja, stuck, dan membosankan," katanya.

Mentari menjelaskan, akibat pandemi ini ia harus membatalkan kepulangannya ke kampung halaman pada Agustus 2020. Ia pun harus menggagalkan rencananya untuk berlibur ke Semarang pada Oktober 2020 lantaran virus corona jenis baru yang masih melanda.

"Saya juga gagal mendapat promosi atau naik jabatan di rumah sakit tempat saya bekerja," ucapnya.

Namun, Mentari tidak ingin terbelenggu dengan adanya avirus corona jenis baru ini. Ia tetap harus menjalani aktivitasnya seperti hari-hari sebelumnya saat belum ada pandemi. 

Mentari pun memaparkan upaya-upaya yang ia lakukan agar terhindar dari stres. Misalnya dengan menghibur diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan lewat berdoa. Selain itu, ia juga berusaha berpikir positif, rajin olahraga, mendengarkan musik, menonton film, dan mengonsumsi makanan manis.

"Semoga pandemi ini berakhir dan vaksinnya lekas ditemukan dan bisa kita gunakan. Karena saya sih mikirnya penyakitnya agak mustahil musnah, tetapi bisa dihindari dengan adanya vaksin," ucapnya.

Sebelumnya, dokter sekaligus influencer, dr.Tirta Mandira Hudhi mengatakan saat ini banyak masyarakat yang mengalami tekanan psikologis. Penyebabnya beragam, ada yang tertekan karena perubahan rutinitas, dinyatakan positif Covid-19 tapi tidak bergejala, hingga stres lantaran tidak bisa makan dan kerja. 

"Tekanan psikologis ini dapat menyebabkan turunnya imunitas tubuh yang bisa berdampak mudahnya terkena virus. Maka dari itu, kita perlu terus menjaga tubuh, agar tenaga medis dapat fokus untuk membantu yang sakit jadi sehat,” ujar dr.Tirta, dalam keterangan resmi, belum lama ini.

Berita Lainnya