sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Saat muda dan bugar bukan jaminan bebas penyakit jantung

Ashraf Sinclair dan sejumlah selebritas meninggal di usia muda karena gangguan jantung.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Sabtu, 29 Feb 2020 13:13 WIB
Saat muda dan bugar bukan jaminan bebas penyakit jantung
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Kabar duka kembali menghinggapi dunia selebritas. Kena serangan jantung, pemain film Ashraf Sinclair meninggal dunia, Selasa (18/2) lalu. Suami penyanyi Bunga Citra Lestari itu mengembuskan nafas terakhir di kamar tidurnya di kediamannya di kawasan Pejaten Barat, Jakarta Selatan. 

Ashraf meninggal di usia yang tergolong muda, yakni 40 tahun. Kematian Ashraf tak hanya mengagetkan bagi sang istri, tapi juga publik. Warganet bahkan sempat mengaitkan kematian Ashraf dengan program electric muscle simulation (EMS) yang tengah ia jalani. 

Empat hari sebelum terkena serangan jantung, Ashraf diketahui baru saja menjalani terapi EMS. Itu terapi untuk menumbuhkan otot menggunakan rangsangan listrik dari luar. 

Namun demikian, spekulasi liar itu dibantah spesialis kedokteran olahraga Andhika Raspati. Seperti dikutip dari Antara, Andhika menyebut tak ada kaitannya terapi EMS dengan penyakit jantung. 

"Itu bukan akibat EMS karena terapi EMS berlebihan pun tak ada hubungannya dengan gangguan jantung yang menyebabkan kematian almarhum. Jike berlebihan, hal itu (EMS) dapat menimbulkan nyeri pada otot," kata Andhika. 

Kematian Ashraf yang mendadak memang terkesan membingungkan. Pasalnya, Ashraf diketahui memiliki gaya hidup yang sehat. Selain tak sembarangan jajan di luar, Ashraf tidak memiliki riwayat penyakit kronis, tidak kelebihan berat badan, dan rajin berolahraga.

Meski begitu, Ashraf bukan satu-satunya selebritas bugar yang meninggal karena serangan jantung mendadak. Pada 2011, mantan pemain sinetron dan politikus Adjie Massaid juga meninggal karena gangguan jantung. 

Adjie diketahui terkena serangan jantung sehabis bermain futsal, salah satu olahraga yang ia gemari. Ketika itu, suami Angelina Sondakh tersebut baru berusia 43 tahun. 

Sponsored

Namun, data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berkata lain. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes pada 2018 menyebutkan, sebanyak 2.784.064 orang Indonesia menderita penyakit jantung pada 2018. Riset itu menemukan bahwa sebanyak 85% kematian pada tahun itu stroke dan serangan jantung.

Data Riskesdas 2018 pun mencatat prevalensi penderita jantung pada orang usia produktif (25–44 tahun) sebesar 2,1%. Rinciannya, pada penduduk berusia 25–34 tahun, prevalensi penyakit jantung sebesar 0,8%, sedangkan prevalensi sebesar 1,3% pada warga berusia 35–44 tahun.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes Cut Putri Arianie mengatakan, prevalensi penyakit jantung pada kalangan usia muda meningkat karena perubahan demografi usia harapan hidup orang Indonesia.

Cut menuturkan, usia harapan hidup yang meningkat membuat tren potensi masyarakat mengalami penyakit tidak menular juga meningkat. Perkembangan fasilitas berteknologi canggih dalam berbagai aktivitas masyarakat, menurutnya, telah membentuk gaya hidup baru yang malah meningkatkan risiko penyakit jantung.

“Perkembangan teknologi mempengaruhi karena semua kemudahan didapat dari kecanggihan layanan melalui gawai, seperti pemesanan makanan dan pemesanan jasa transportasi,” jelas Cut kepada Alinea.id di Jakarta, Kamis (27/2).

Selain itu, kata Cut, faktor promosi produk rokok yang gencar ditengarai turut memperluas tingginya jumlah konsumen rokok di usia muda. "Juga layanan pembelian rokok secara online," imbuh dia.

Merujuk data Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Cut menekankan, kasus jenis-jenis penyakit tidak menular mulai mengintai anak berusia 10–14 tahun. Penyakit jantung khususnya mulai banyak diderita oleh warga berusia 20-an.

Meskipun begitu, Cut menekankan risiko terkena penyakit jantung dapat dialami semua kalangan. Hal ini disebabkan adanya pengaruh yang mencakup faktor genetik dan perilaku hidup tidak sehat.

“Namun, yang paling besar berpotensi terkena penyakit jantung adalah usia di atas 30 tahun yang punya faktor risiko karena pola makan tidak sehat,” ujarnya.

Dalam penanganan penyakit jantung, menurut Cut, Kemenkes berpedoman pada empat pilar penanggulangan PTM. Pertama, promosi kesehatan dengan memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat. Kedua, deteksi dini untuk mengecek faktor-faktor risiko. 

Ketiga, perlindungan khusus dengan memberikan imunitas atau kekebalan melalui imunisasi. Keempat, Penanganan kasus pengobatan sesuai standar di fasilitas pelayanan kesehatan.

Cut mengungkapkan, imunisasi untuk penderita PTM baru dapat diberikan bagi penderita penyakit kanker serviks. Dia mengingatkan pentingnya upaya pencegahan risiko terkena PTM, termasuk gangguan jantung.

“Karena kalau sudah menderita penyakit hanya bisa dikendalikan dengan patuh minum obat seumur hidup. Meskipun merasa sudah menerapkan perilaku hidup sehat, jangan lupa lakukan deteksi dini atau cek berkala,” ujarnya.

Artis Ashraf Sinclair bersama rekan-rekannya berfoto di lapangan golf. Foto Instagram @ashrafsinclair

Gangguan jantung karena hipertensi 

Ketua Tim Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Dokter Erwinanto mengatakan hipertensi juga menjadi salah satu faktor penyebab gangguan jantung kian marak dialami kaum muda. 

Jika tidak dicegah, dalam jangka panjang, menurut dia, hipertensi dapat mengganggu kerja organ jantung, otak, dan ginjal.

"Jika tidak diobati, hipertensi dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal,” ujar Erwinanto di Jakarta, Senin (24/2).

Hipertensi adalah suatu kondisi ketika tekanan darah terhadap dinding pembuluh darah atau arteri terlalu tinggi. Umumnya hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah di atas angka 140/90 mmHg, dan dianggap parah jika tekanan darah di atas 180/120 mmHg.

Berdasarkan analisis Asosiasi Jantung Indonesia, Erwinanto menekankan, hipertensi juga menyumbang risiko bagi seseorang mengalami penyakit jantung. Meskipun risiko penyakit jantung cenderung masih lebih tinggi dialami orang-orang tua, kata Erwinanto, risiko terpapar hipertensi bagi kaum muda jauh lebih besar.

Dia menyebutkan tren terbaru peningkatan jumlah penduduk Indonesia berusia muda (30 tahun ke atas) dari yang sebelumnya non-hipertensi menjadi hipertensi. Menurutnya, hal itu berlangsung lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sejalan dengan perkembangan zaman dan bertumbuhnya perilaku hidup tidak sehat.

Riskesdas 2018 mencatat prevalensi hipertensi di Indonesia secara umum rata-rata sebesar 34,1%. Berdasarkan data prevalensi pada 2018, diketahui jumlah orang yang memiliki hipertensi terbanyak di Provinsi Kalimantan Selatan dengan prevalensi 44,1%. Yang terendah di Provinsi Papua dengan prevalensi 22,2%.

Prevalensi hipertensi nasional 2018 sebesar 34,1% itu meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. WHO dalam dokumen World Health Day 2013: High Blood Pressure, Global and Regional Overview mencatat, perkiraan persentase populasi orang dewasa di Indonesia yang mengalami peningkatan tekanan darah pada 1995 hanya 8%. Namun, pada 2008 meningkat menjadi 32%.

Lebih lanjut, Erwinanto menjelaskan hipertensi tidak dapat disembuhkan, tetapi hanya bisa dikontrol. Oleh karena itu, dia menyarankan beberapa perilaku yang dapat mencegah peningkatan tekanan darah.

Selain jumlah konsumsi garam perlu dikurangi, komposisi makanan yang sehat dan kaya serat sangat disarankan, yaitu buah-buahan dan sayur-mayur. “Juga mengurangi bahan makanan berlemak tinggi, seperti susu,” ucapnya.

Pengaturan nutrisi makanan yang sehat dan seimbang itu, kata dia, perlu diimbangi dengan membiasakan membuat menu olahan sendiri di rumah. Pasalnya, komposisi bahan makanan seperti gula atau garam di restoran dan warung tidak dapat diukur jumlah atau takarannya.

Selain itu, ia menganjurkan, kegiatan fisik berupa olahraga aerobik sangat efektif dalam mengontrol tekanan darah. 

“Orang yang dinyatakan hipertensi cukup memulai dengan olahraga ringan, lalu beban aktivitas olahraga bisa ditambahkan sedikit demi sedikit,” ucapnya.

Erwinanto mengimbau kesadaran kalangan muda untuk menerapkan gaya hidup sehat secara serius. Dengan rutin berolahraga dan membiasakan pola makan sehat, kata dia, saraf simpatetik yang rusak dapat diperbaiki.

Konsumsi obat juga dapat menurunkan tekanan darah. Dalam dunia medis, obat ini disebut dengan penghambat beta (beta-blockers). Obat ini berfungsi melebarkan pembuluh darah, sehingga dapat mendukung upaya menurunkan tekanan darah.

Menurut Erwinanto, beta-blockers pun berfungsi menurunkan tingkat potensi morbiditas seperti serangan jantung, gagal ginjal, dan stroke. Selaras dengan itu, tingkat kematian atau mortalitas juga dapat diperkecil.

Selain beta-blockers, ada lima jenis obat lain yang perlu dikonsumsi sebagai perawatan bagi orang yang terpapar hipertensi. Yaitu ACE-I, ARB, CCB, Diuretic, dan MRA. Erwinanto menjelaskan, jumlah jenis obat yang diminum disesuaikan dengan tujuan efektivitas menurunkan tekanan darah. 

Efek obat-obat itu, jelas Erwinanto, akan bertahan selama 4–6 minggu dalam tubuh. Dia mengingatkan agar obat dikonsumsi secara rutin. "Tekanan darah akan naik lagi bila obat beta-blocker dihentikan konsumsinya," kata dia. 

Ilustrasi gaya hidup sehat. Foto Unsplash

Ragam cara cegah penyakit jantung

Dokter ahli kardiologi dari Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Prof. Budhi Setianto menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat melakukan cek tekanan darah secara rutin, yaitu 1 kali dalam setahun bagi yang berusia 35 tahun ke atas.

“Kalau yang usianya di bawah 35 tahun cukup 2 tahun sekali atau bisa juga saat pemeriksaan kesehatan lainnya di klinik kesehatan,” kata Budhi saat dihubungi Alinea.id, Rabu (26/2).

Dia menyarankan agar warga berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui perlu-tidaknya meminum obat beta-blockers untuk mengontrol denyut jantung. “Konsumsi obat beta-blockers harus atas keputusan dokter,” katanya.

Menurut Budhi, pelayanan rumah sakit di Indonesia sudah memadai untuk menangani pasien penyakit jantung. Meskipun begitu, kata dia, belum semua rumah sakit dapat menjalankan pelayanan operasi jantung.

Selain hipertensi, Budhi mengatakan, risiko terkena sakit jantung bisa meningkat karena pengaruh penyakit lain dan gaya hidup. Bila seseorang memiliki dua atau lebih faktor risiko, potensi menderita penyakit jantung akan naik. "Besaran risikonya akan menjadi deret ukur, bukan deret hitung," imbuh dia.

Budhi mencontohkan, seorang perokok berisiko terkena penyakit jantung hingga tiga kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok. Sementara itu, orang yang terpapar penyakit diabetes atau kolesterol, dua kali lebih tinggi rentan terkena sakit jantung.

“Kalau seseorang punya kedua faktor risiko tersebut atau gabungan, misalnya antara merokok dan diabetes, risikonya menjadi tiga kali dua. Jadi, enam kali lipat lebih tinggi berisiko terkena penyakit jantung,” kata Budhi.

Budhi pun menganjurkan upaya pencegahan sakit jantung dengan mengacu pada Panca Usaha Sehat dari Yayasan Jantung Indonesia. Pertama, seimbangkan gizi dengan berhenti mengonsumsi junk food dan soft drink. Sebaliknya, lakukan diet tinggi serat, juga rendah lemak, rendah garam, dan rendah gula. 

Kedua, enyahkan rokok. Artinya, tidak merokok dan tidak terkena paparan asap rokok. Ketiga, hadapi dan atasi stres dengan mengelola waktu secara baik dan istirahat yang cukup.

Keempat, awasi tekanan darah pada batas aman dengan memeriksa tekanan darah secara teratur. Kelima, teratur berolahraga. 

"Berolahragalah lima sampai tujuh kali seminggu dengan sekali durasi 30 menit. Olahraga bisa di dalam rumah, jalan kaki mengitari halaman rumah atau di mal dengan halaman yang cukup besar,” kata Budhi. 


 

Berita Lainnya