sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Bandung Mawardi

Demokrasi pelukan itu picisan

Bandung Mawardi Rabu, 11 Des 2019 20:25 WIB

Tuhan, perlihatkan padaku

Wajah dia yang sangat kucintai

Tolong, buat dia merasa

Bahwa aku sedang memeluknya

Ku takkan tenang sebelum dia tahu

(Astrid, "Kucinta Dia")

Politik dan sastra terasa lagi setelah tahun-tahun berlalu dengan ragu. Peristiwa jarang terjadi tetapi memberi keharuan. Kesaksian diberikan oleh Lukman Ali, pakar bahasa dan dosen di Universitas Indonesia: "Ketika menyaksikan Pramoedya Ananta Toer merangkul HB Jassin dalam acara ulang tahun ke-76 HB Jassin, di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, dua tahun lalu, saya adalah seorang yang ikut terharu. Betapa tidak, dua tokoh besar sastra Indonesia modern berangkulan mesra. Saya yakin, jantung keduanya tentu berdegup tak biasa. Peristiwa ini cukup menyentakkan pengunjung" (Gatra, 23 September 1995).

Di mata Lukman Ali, rangkulan itu ajakan "melupakan" dan "memaafkan" masa lalu saat kubu-kubu sastra bersengketa. Masa 1950-an dan 1960-an, masa pertarungan, mata melotot, mulut mengumbar cacian, dan tulisan-tulisan menebar fitnah-marah. Pada masa 1990-an, masa lalu itu ingin terpahami secara berbeda setelah dua tokoh "utama" berangkulan. Dua tokoh sudah tua membawa biografi pernah erat dan bermusuhan.

Foto itu mungkin masih ada. Kita tak bisa memastikan rangkulan itu merampungi segala perdebatan dan dendam pernah bertumbuh di masa lalu. Kesaksian Lukman Ali memang terbaca puitis.

Rangkulan itu raga. Kita membaca bahasa dari adegan dua tokoh. Kata-kata diucapkan secara pelan atau bisikan oleh dua tokoh itu mungkin tak sempat tercatat. Wajah mungkin sudah memberi pesan-pesan terang. Rangkulan di situasi politik dan sastra tak terlalu berkecamuk seperti masa 1990. Kita tetap saja mencatat ada kehebohan. Tokoh penting masih Pramoedya Ananta Toer.

Rangkulan mulai terbaca lagi saat HB Jassin, Mochtar Lubis, Goenawan Mohamad, Ikranagara, Taufiq Ismail, Arief Budiman, Rendra, Wiratmo Soekito memberi sikap atas pemberian Hadiah Ramon Magsaysay (Filipina) untuk Pramoedya Ananta Toer. Perdebatan dan "pertengkaran" para pengarang menjadi berita besar. Mereka sibuk di politik-sastra, abai dulu memikirkan Soeharto. Pramoedya Ananta Toer membuat orang-orang pernah sekubu "berangkulan" menjadi "pecah" alias berbeda sikap.

Situasi membara sampai ke penilaian atas penerbitan buku dokumentasi berjudul Prahara Budaya disusun Taufiq Ismail dan DS Muljanto. Pramoedya Ananta Toer memberi ledekan: "Kalau sejarah Indonesia itu diibaratkan sebagai seekor cicak, maka buku tersebut hanya ujung buntutnya saja." Rangkulan mungkin sudah terlupa sebagai adegan dan pesan. Perbantahan dan saling menghantam dengan kata-kata memberi seribu tanda seru nasib sastra masa 1990-an.

Ledekan itu dimuat di majalah Ummat, 18 September 1995. Di situ, kita membaca pula pengakuan HB Jassin mengenai diri, Pramoedya Ananta Toer, Bintang Timur, Lentera, Alquran, Lekra, dan lain-lain. Semua ingatan di masa 1960-an. HB Jassin mengenang: "Saya ikut merasakan penindasannya pada waktu itu. Tetapi untung saya mendalami Alquran. Alquran memberi jawaban kepada saya lebih jauh, lebih indah. Jadi, kalau saya membaca Bintang Timur dan Lentera itu, lalu orang bertanya, mengapa tidak ditanggapi? Saya jawab, saya sedang mendalami Alquran saja. Saya tidak goyah sama sekali."

HB Jassin tekun membaca kita suci di masa gegeran politik dan sastra. Pada masa berbeda, ia menghormati gubahan-gubahan sastra oleh Pramoedya Ananta Toer. Tiada dendam tetapi terbuka memberi pujian atas kepengarangan, bukan melulu kesangaran di politik. Peristiwa HB Jassin dan Pramoedya Ananta Toer berangkulan berlalu tanpa ada catatan-catatan penting mungkin terbaca lagi di situasi politik dan sastra berbeda masa.

Di kongres-kongres partai politik dengan agenda pemilihan ketua umum, kita sering membaca berita mengenai persaingan para tokoh dan debat-debat menjemukan. Para tokoh ingin terhormat dengan predikat ketua umum lazim mengucap "merangkul" di pameran etika politik. Konon, tokoh terpilih bakal merangkul para pesaing menerima kekalahan atau kubu berseberangan untuk membesarkan partai politik dan meraih sukses di pemilu-pemilu.

Di depan jajaran kursi para elite atau di atas panggung, para tokoh selesai di perebutan jabatan umum biasa menampilkan adegan berangkulan atau berpelukan. Para wartawan dan fotografer diminta mengabadikan raga mereka. Wajah mereka sumringah. Tawa kadang terdengar. Air mata boleh menetes. Kita menduga itu "teater picisan", diselenggarakan secara manipulatif di pemenuhan etika atau kemauan meminta pujian dari publik.

Lakon politik Indonesia mulai rutin menggelar adegan rangkulan atau pelukan. Para elite politik beragumentasi itu menandai persahabatan, mufakat, rekonsiliasi, dan kekuatan. Rangkulan atau pelukan mungkin adegan puncak, setelah mereka salaman. Kita terlalu sulit membuata catatan baik-buruk para elite politik di pelbagai peristiwa politik, tahun demi tahun. Biografi mereka mengabur dan bergelimang "muslihat".

Di politik mutakhir, adegan itu keseringan tetapi mengacaukan imajinasi demokrasi. Posisi sebagai kawan atau lawan semakin tak jelas. Rangkulan atau pelukan terpilih menebar pesan-pesan politik. Di tatapan mata orang sedang ruwet dan bermusuhan, rangkulan atau pelukan itu ditanggapi dengan sinis dan picik. Polemik pun subur, mengisi hari demi hari, menandakan demokrasi sedang panas.

Kita sampai pada adegan mencipta drama agak panjang. Semula, dua tokoh berpelukan adalah Surya Paloh (Partai Nasdem) dan Sohibul Iman (PKS), 30 Oktober 2019. Orang-orang terlalu cepat membuat komentar. Konon, pelukan itu menandai siasat "baru" dua partai politik teranggap berbeda posisi di pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Tuduhan mengarah ke misi politik 2024. Peristiwa itu memicu Joko Widodo memberi sindiran ke Surya Paloh-Sohibul Imam, 6 November 2019. Publik mengira Joko Widodo cemburu dan menagih janji koalisi kompak-setia.

Kita memang sedang menonton adegan-adegan politik, bukan sastra. Bahasa digunakan dalam politik sering keras dan menghantam. Pelukan itu luput dari puisi. Adegan wagu dan memberi kesibukan ambigu.

Di Kongres II Partai Nasdem, 11 November 2019, Presiden Joko Widodo hadir dan memberi pidato. Kita mengutip: "Karena saya tidak pernah dirangkul seerat itu. Setelah sambutan ini saya peluk erat Bang Surya Paloh lebih erat ketimbang pelukan Pak Sohibul Imam." Kita boleh tertawa. Sekian orang mungkin kecewa dan sewot. Mereka menuduh "demokrasi pelukan" atau "demokrasi rangkulan" itu picisan.

Peristiwa pelukan ingin tercatat di sejarah. Dua foto berukuran besar dipasang di halaman depan Media Indonesia, 12 November 2019. Solopos, 12 November 2019, juga memuat foto pelukan di halaman 5, dilengkapi judul berita "Akui Cemburu, Akhirnya Jokowi Peluk Erat Paloh". Kita mulai menduga adegan pelukan antara Surya Paloh-Joko Widodo bakal terkenang lama ketimbang Pramoedya Ananta Toer-HB Jassin. Adegan "demokrasi pelukan" atau "demokrasi rangkulan" itu mencipta komentar-komentar ingin dianggap bijak.

Konon, adegan itu berniat untuk komitmen kenegaraan dan kebangsaan. Kita diajak menjadi penonton dan pembaca berita diharapkan menerima setiap penjelasan penting dari elite politik.

Orang jenuh dengan berita-berita politik boleh mendengar lagu-lagu asmara berselera cengeng atau sikap kemanusiaan mengimajinasikan pelukan. Ingat, pelukan tak terjadi di panggung politik. Duduk atau berbaring, dengarlah lagu-lagu mengisahkan pelukan dilantunkan oleh Dialog Dini Hari (Pemelukmu), Nidji (Dosakah Aku), Payung Teduh (Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan), Noah (Kupeluk Hatimu), dan Kla Project (Waktu Tersisa). Pelukan itu mungkin melampaui kamus dan politik. Pelukan tak perlu masuk dalam album sejarah (politik) Indonesia.

Pelukan bagi umat kasmaran dan menanggungkan patah hati sepanjang masa. Pelukan itu terdengar dan terimajinasikan saat kemarau memberi keringat atau hujan memberi dingin. Begitu.

Berita Lainnya