sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
M Rahmat Yananda

Dilema antara kesehatan dan ekonomi melawan Covid-19

M Rahmat Yananda Jumat, 15 Mei 2020 14:25 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 392.934
Dirawat 61.851
Meninggal 13.411
Sembuh 317.672

Dilema antara melakukan intervensi kesehatan atau intervensi ekonomi di masa pandemi, mengemuka dalam pernyataan pemerintah saat mengambil kebijakan atau tindakan di lapangan. Dilema tersebut muncul sejak awal pandemi ketika pemerintah memilih untuk membuka pintu untuk wisatawan ketimbang membatasi kedatangan orang yang berpotensi membawa Covid-19.

Dilema terjadi juga dalam keputusan memilih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dilema kembali berlanjut dalam keputusan untuk tetap menjalankan moda transportasi atau membuka pabrik di masa PSBB. Terakhir muncul wacana untuk melakukan relaksasi sementara angka-angka pasien positif dan meninggal korban virus masih terus naik.

Dilema kesehatan versus ekonomi dapat diselaraskan diwadahi oleh kepercayaan (trust) antarsektor (kesehatan, transportasi, ekonomi, dan lainnya) dan antarpemangku kepentingan, publik, privat, dan masyarakat. Landasan berpikirnya adalah kemampuan sektor kesehatan mengelola Covid-19 dengan hasil yang nyata membangun kepercayaan yang akan mengungkit (leverage) sektor lain bergerak menyiapkan diri melakukan pembukaan (reopen).

Sebaliknya, ketidakmampuan pengelolaan sektor kesehatan tanpa hasil yang nyata akan menyebabkan terjadinya keraguan atau ketidakpercayaan sektor-sektor dan pemangku kepentingan untuk memulai berkegiatan. Dalam skala yang lebih luas, investor atau manufaktur belum bersedia datang ke Indonesia.  Jadi, capaian kinerja sektor kesehatan menjadi panduan sektor atau pemangku kepentingan, termasuk investor luar negeri.

Menurut survei yang dilakukan Edelman Trust Barometer (2020, Spring Update): Trust and the Covid-19 Pandemic, negara (pemerintah) mendapatkan kepercayaan paling tinggi menghadapi pandemi. Di Mei 2020, pemerintah mendapatkan indeks 65 poin di atas LSM dengan indeks 62 poin, bisnis dengan indeks 62 poin dan media dengan indeks 56 poin. Survei dilakukan di Kanada, China, Perancis, Jerman, India, Jepang, Meksiko, Saudi Arabia, Korea Selatan, Inggris and Amerika Serikat dengan total responden 13,200 orang. Indeks kepercayaan di Mei 2020 terhadap negara tersebut meningkat 11 poin dari indeks Januari yang berada di posisi 54 poin.

Di Januari 2020, posisi indeks negara masih berada di bawah indeks LSM dengan indeks 58 poin dan bisnis dengan indeks 58 poin. Seiring kenaikan poin indeks muncul fakta bahwa pemerintah mendapatkan mandat yang tinggi dari publik untuk merespons pandemi di semua area. Area-area tersebut adalah mengantisipasi pandemi (73), menginformasikannya ke publik (72), memberikan bantuan dan dukungan ekonomi (86), membantu penduduk menghadapi pandemi (72), dan mengembalikan ke situasi normal (79).

Sementara itu, media mendapatkan mandat terbatas untuk lebih menginformasikan pandemi kepada publik dengan indeks 58 poin, bisnis diharapkan dapat memberikan bantuan dan dukungan ekonomi dengan indeks 56 poin, dan LSM diharapkan dapat membantu orang menghadapi pandemi dengan indeks 47 poin. Tidak dapat disangkal, publik menaruh harapan tinggi kepada pemerintah sebagai wakil negara untuk mengelola permasalahan. Perolehan indeks negara di semua area melampaui harapan publik kepada aktor-aktor lain. Melihat kompleksitas permasalahan pandemi, harapan publik tersebut sangat realistis. Negara melalui pemerintah harus hadir membela warga berperang melawan Covid-19.

Survei tersebut juga menemukan bahwa untuk mengembalikan situasi dan memulai kehidupan sehari-hari seperti pembuatan keputusan untuk kembali bekerja, otoritas kesehatan mendapatkan kepercayaan tinggi. Otoritas kesehatan mendapatkan indeks 32 poin diikuti oleh pemerintah dengan indeks 27 poin, pemerintah daerah dengan indeks 16 poin, CEO dan manager senior dengan indeks 11 poin, dan karyawan dengan indeks 7 poin. 75% responden mengharapkan CEO harus bersikap konservatif untuk kembali ke operasi normal bahkan perlu menunggu sampai virus dapat dikendalikan. Hanya 25% responden yang menyatakan bahwa CEO harus agresif untuk kembali ke operasi normal mendahului saran otoritas kesehatan.

Sponsored
Berita Lainnya