sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Nurrochman

Nabi Muhammad: Teladan kebangsaan dan kemanusiaan 

Nurrochman Rabu, 13 Nov 2019 20:43 WIB

Dalam tradisi Islam, tidak ada sosok manusia yang paling berpengaruh selain Nabi Muhammad. Ia adalah pembawa risalah Islam, Rasulullah, sekaligus penutup para nabi (khatamul anbiya’). Ucap dan perilakunya adalah sunah yang menjadi salah satu sumber rujukan hukum Islam setelah Alquran. Membaca riwayat tentang Nabi Muhammad, niscaya kita akan menemukan cerita dari sosok yang multidimensi.

Nabi Muhammad adalah makhluk spritual, sosial, dan politis sekaligus. Darinya, umat muslim dan seluruh manusia di dunia bisa belajar berbagai macam hal. Sebagai figur historis, banyak sejarahwan mencatatnya sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam peradaban dunia. Tidak kurang dari Michael H. Hart, sang penulis buku fenomenal berjudul The 100: A Rangking of the Most Influential Persons in History menempatkan Nabi Muhammad di urutan teratas manusia paling berpengaruh sejagad raya. Tidak hanya Heart, intelektual sekaliber Annimarie Schimmel, sampai Philip K Hitti menaruh hormat pada Nabi Muhammad. 

Rasa hormat itu tentu bukan karena alasan teologis sebagaimana sebagian besar umat Islam menghormati Rasulullah. Melainkan karena sepak terjang Nabi Muhammad semasa hidupnya yang mampu mengubah kondisi masyarakat arab dari kondisi keterbelakangan (jahiliah) menuju masyarakat yang berperadaban tinggi (civilized). Selain itu, mereka juga mengakui kualitas pribadi Nabi Muhammad sebagai sosok yang cerdas, moderat dan berintegritas tinggi. 

Annemarie Schimmel misal, dalam bukunya yang berjudul And Muhammad is His Massanger: The Veneration of the Prophet menggambarkan bagaimana Nabi Muhammad adalah sosok teladan bagi nilai-nilai moralitas baik dalam ucapan maupun perbuatan. Meski merupakan pemimpin tertinggi Islam, nabi merupakan sosok egaliter yang berkomitmen penuh pada terciptanya kesetaraan dan keadilan. Komitmennya pada keadilan itu tertuang dalam sabdanya yang berbunyi “sendainya putriku Fatimah melakukan kesalahan, niscaya akan kuberi hukuman yang sama kepadanya”. 

Sementara sejarawan kondang, Philip K Hitti dalam magnum opusnya, History of the Arabs, menuturkan bahwa meski tengah ada di masa kejayaannya sebagai pemimpin Islam, Nabi Muhammad tetap hidup sederhana seperti ketika mengalami masa sulit. Nabi tinggal di rumah dari tanah liat, bahkan menjahit sendiri pakaiannya yang koyak. Namun, di balik kisah hidupnya yang sederhana itu, Nabi Muhammad dalam rentang hidupnya yang singkat berhasil menorehkan capaian luar biasa. Nabi berhasil mempersatukan bangsa Arab dan meletakkan fondasi bagi imperium Islam yang kelak menjadi pusat peradaban dunia. 

Krisis dunia Islam 

Kini, setelah 14 abad lamanya Nabi Muhammad wafat, kondisi dunia Islam secara umum bisa dikatakan memperihatinkan, untuk juga mengatakan mengalami kemunduran. Pascaberakhirnya era kejayaan Islam di era Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, dunia Islam memasuki masa-masa sulit alias krisis. Di bidang ilmu pengetahuan, Islam tidak lagi mampu melahirkan pemikir-pemikir brilian sekelas Ibnu Rusyd, Ibnu Sina atau al Ghazali yang diakui hingga wilayah Eropa. 

Begitu pula di bidang politik. Sebagian dunia Islam hari ini berada di bawah rezim otoriter yang tidak memberikan kebebasan berpendapat dan berbicara pada warganya. Lebih parah lagi, sejumlah negara muslim tengah dilanda konflik perang saudara lantaran persoalan politik dan agama. Di bidang ekonomi pun demikian. Meski dikenal memiliki kekayaan alam yang melimpah, negara-negara muslim umumnya tidak memiliki kemandirian secara ekonomi.

Kondisi tidak lebih baik juga dialami Indonesia. Dua puluh tahun sejak era Reformasi bergulir, umat Islam Indonesia menghadapi beragam tantangan yang tidak mudah. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, nyatanya kita gagal menginternalisasikan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan sosial-politik. Hal ini bisa dilihat dari tingginya angka korupsi, kerusakan alam dan terjun bebasnya nilai dan prinsip integritas moral. 

Para pejabat pemerintah yang mayoritas beragama Islam tidak mampu meneladani spirit kepemimpinan Nabi Muhammad yang tegas, egaliter dan sederhana. Sebaliknya, para pejabat pemerintah hari ini gemar hidup hedonistik, harus selalu didahulukan kepentingannya dan cenderung berjarak dengan rakyat. Akibatnya korupsi merajalela, sementara penegakan hukum gagal menghadirkan rasa keadilan bagi publik. 

Di level masyarakat muslim pun demikian. Seperti kita rasakan belakangan ini, kehidupan keagamaan di Indonesia diwarnai dengan gesekan-gesekan sosial. Relasi sosial-keagamaan kita didominasi oleh kecurigaan, fitnah, bahkan ujaran kebencian yang lalu-lalang nyaris saban hari di ruang publik. Di saat yang sama, kita menyaksikan juga bagaimana fenomena konservatisme keberagamaan telah mengikis komitmen kebangsaan dan mengancam eksistensi negara. Beberapa tahun terakhir, Indonesia menjadi salah satu negara muslim dengan fenomena kekerasan atas nama agama dan terorisme yang terbilang cukup tinggi. 

Kontekstualiasi ajaran nabi 

Semasa hidup Rasulullah sampai era khulafa al rasyidun, kelahiran nabi memang tidak pernah diperingati atau dirayakan. Kapan pertama kali maulid nabi diperingati pun sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatan. Sebagian kalangan meyakini peringatan maulid nabi pertama kali digagas oleh Salahuddin al Ayyubi pada tahun 1193 M. Sebagian kalangan lainnya meyakini maulid nabi pertama kali diperingati pada masa Dinasti Ubadiyyun atau disebut pula Dinasti Fatimiyyah.

Meski masih menjadi perdebatan, namun tujuan maulid nabi pada dasarnya bukan untuk seremonial belaka. Lebih dari itu, maulid nabi bertujuan untuk mengingat dan meneladani ajaran hidup Nabi Muhammad. Ini artinya, meski tidak secara langsung diperintahkan oleh Alquran dan hadis, peringatan maulid Nabi Muhammad tetap relevan bagi umat muslim. Terlebih bagi umat muslim kontemporer yang tengah berada dalam krisis berkepanjangan. 

Dalam konteks Indonesia sendiri, peringatan maulid nabi penting sebagai momentum untuk kembali mengaktualisasikan spirit akhlakul karimah sebagaimana diwariskan Nabi Muhammad. Begitu banyak keteladanan hidup yang dicontohkan oleh Rasulullah yang dapat kita elaborasi dalam konteks sekarang.

Dalam hal kepemimpinan misalnya, Nabi Muhammad telah meletakkan fondasi penting bagaimana menjadi figur pemimpin. Rasulullah menjalankan peran kepemimpinannya dengan etos egalitarianisme, yakni menempatkan semua entitas yang dipimpinnya secara setara.

Tidak ada satu kelompok yang diistimewakan, sekaligus tidak ada kelompok yang didiskriminasikan. Tidak hanya itu, ia melakoni kepemimpinannya dengan penuh integritas. Laku kepemimpinan bagi nabi bukanlah sesuatu yang pantas dibangga-banggakan. Baginya, menjalani peran kepemimpinan adalah bagian dari penghambaan terhadap Allah. Integritas, keikhlasan serta spirit egalitarianisme itulah yang sepatutnya diteladani oleh para pemimpin kita hari ini. 

Sedangkan dalam hal relasi sosial, Nabi Muhammad telah meletakkan dasar-dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Warisan terpenting nabi dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan ini ialah terciptanya Piagam Madinah (Madinah Charter) yang merupakan konstitusi tertulis pertama di dunia.

Piagam Madinah berisi butir-butir perjanjian antar berbagai kelompok dalam masyarakat Madinah, yakni kaum Anshor, Muhajiri, kaum Yahudi dan sejumlah suku asli Madinah. Di dalamnya termuat klausul-klausul yang intinya mengatur hak dan kewajiban masing-masing entitas agar tercipta kehidupan yang harmonis, toleran, adil dan setara. 

Spirit persatuan dan kesetaraan yang terkandung dalam Piagam Madinah itulah yang kiranya relevan untuk dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia hari ini. Terlebih lagi kita tengah menghadapi situasi sosial-politik yang serba terpolarisasi akibat Pemilihan Presiden 2019 lalu. Perbedaan pilihan politik di tengah masyarakat tidak pelak telah merenggangkan ikatan dan solidaritas kebangsaan kita.
Relasi sosial kita hari ini boleh dibilang tengah berada di titik paling nadir.

Padahal, ikatan dan solidaritas kebangsaan itulah salah satu modal terbesar kita untuk membangun peradaban. Oleh karena itu, menumbuhkan kembali semangat persatuan dan kesetaraan seperti diwariskan nabi melalui Piagam Madinah kiranya sangat relevan hari ini untuk membangkitkan kembali jiwa nasionalisme dan kemanusiaan kita.