sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kualitas jurnalisme Indonesia dalam ancaman Google dan Facebook

Kekalahan perusahaan media untuk bersaing dengan Google dan Facebook membuat mereka harus menekan biaya liputan.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Selasa, 06 Agst 2019 19:40 WIB
Kualitas jurnalisme Indonesia dalam ancaman Google dan Facebook

Jurnalis senior Andreas Harsono menyarankan perusahaan news media untuk mencari strategi pendanaan alternatif di luar iklan, untuk menopang hidup perusahaan. Menurutnya, hal ini disebabkan pendapatan dari iklan media massa di Indonesia yang lebih banyak dikuasai raksasa dunia maya, Google dan Facebook. 

Dia menyebut, penguasaan kue iklan media oleh Google dan Facebook mencapai 60%. Selain pemasukan menjadi berkurang, hal ini dikhawatirkan akan semakin menurunkan kualitas produk jurnalistik di Indonesia.

“Anggaran redaksi menjadi berkurang, juga membuat gaji jurnalis dan alokasi untuk biaya peliputan menjadi minim. Belum pula berefek pada biaya untuk pelatihan bagi jurnalis,” ujar Andreas saat menghadiri seminar "Tantangan Jurnalisme di Era Digital" di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (6/8).

Andreas mencontohkan besaran gaji jurnalis surat kabar di Jakarta. Pada 25 tahun lalu, kata dia, angkanya rata-rata 550% dari upah minimum regional (UMR). “Tapi sekarang, hanya sekitar 150% dari UMR,” katanya.

Peneliti Human Right Watch Indonesia ini pun menyinggung wacana perlu-tidaknya pembatasan akses atau pemisahan antara Facebook dan Google. Selama ini, Facebook menguasai pengelolaan informasi pada aplikasi media sosial Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Sementara Google menguasai pencarian di dunia maya dengan mesin pencarinya, Youtube, dan beragam aplikasi lainnya.

“Dengan kecanggihan sistem daring, beragam bentuk iklan dapat secara kompatibel menempel dengan konten hiburan ataupun informasi di fitur media sosial itu,” ucap mantan jurnalis The Star (Kuala Lumpur) ini. 

Namun bila dibanding Malaysia, asosiasi pers dan pemerintah di Indonesia tak cukup ketat mengatur akses publik terhadap Google dan Facebook.

Karena itu, demi menjamin kuantitas dan kualitas produksi berita, Andreas mengusulkan agar setiap perusahaan media di Indonesia mencari peluang pembiayaan alternatif. Beberapa sumber pendanaan antara lain bisa didapat dengan kerja sama pendanaan dengan lembaga pendonor, atau menjalankan lini bisnis di luar bisnis media namun tetap berkaitan.

Sponsored

Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Afwan Purwanto mengatakan, pembatasan Google dan Facebook bisa dilakukan dengan meniru cara yang diterapkan di China. 

Dia menjelaskan, akses warga China pada Google dan Facebook telah dialihkan melalui aplikasi informatif konvergen berbayar We Chat. Lewat aplikasi We Chat, publik dapat tetap mengakses informasi yang disediakan dengan pengelolaan aktif oleh pemerintah China.

“Bisa saja pemerintah kita membuat regulasi pembatasan Google dan Facebook, tapi perlu bikin pengembangan aplikasi semacam We Chat untuk mewadahi layanan akses informasi publik,” kata Afwan.