sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

127.977 jiwa di Gunung Kidul terdampak kekeringan

Jumlah warga dan area yang terdampak kekeringan diperkirakan masih akan bertambah.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Senin, 15 Jul 2019 07:10 WIB
127.977 jiwa di Gunung Kidul terdampak kekeringan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 236519
Dirawat 55000
Meninggal 9336
Sembuh 170774

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunung Kidul Edy Basuki memperkirakan kekeringan yang terjadi di wilayah tersebut akan semakin meluas. Saat ini, ada 14 kecamatan dengan 127.977 orang warga.

"Jumlah kecamatan yang terkena dampak kekeringan tetap sebanyak 14 kecamatan. Tapi jumlah desa yang terkena dampak kekeringan bertambah, begitu juga dengan jumlah warganya," kata Edy Basuki di Gunung Kidul, Senin (15/7).

Dia menjelaskan, setiap kecamatan mendapat dampak berbeda dari peristiwa ini. Kecamatan terdampak dengan kondisi parah adalah Kecamatan Girisubo dengan 21.718 jiwa terdampak, Kecamatan Paliyan dengan enam desa dan 16.978 jiwa terdampak.

Kecamatan Rongkop dengan 9.922 jiwa di delapan desa terdampak, Kecamatan Tepus dengan 12.441 jiwa di lima desa terdampak, serta Kecamatan Panggang dengan 8.310 jiwa di enam desa terdampak. 

Edy mengatakan, pihaknya bersama sejumlah lembaga dan instansi terkait terus berupaya mengatasi kekeringan yang terjadi. Sejauh ini, 400 tangki air bersih telah disalurkan pada masyarakat di 10 kecamatan.

Edy menyebut, pihaknya telah menyalurkan Rp90 juta untuk memberikan bantuan air bersih pada masyarakat. 

"Kami juga berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah yang lain untuk mengatasi kekeringan, termasuk dengan instansi lainnya. Kami juga menjalin komunikasi dengan swasta untuk bantuan air bersih," katanya.

Komandan Kodim 0730/Gunung Kidul Letkol Inf Noppy Laksana Armiyanto mengatakan, penyaluran air bersih bukan solusi untuk mengatasi kurangnya air akibat kekeringan yang terjadi. 

Sponsored

Untuk itu, pihaknya bersama instansi lain berupaya untuk mencari sumber air bersih. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Balai Besar Serayu Opak, diketahui terdapat sumber air yang cukup besar, kurang lebih 100 titik.

"Kami sudah membantu perpipaan di daerah Jepitu. Saat ini sedang dilakukan pemasangan oleh masyarakat sekitar," katanya.

Namun, sebelum sumber air baru ditemukan, distribusi air bersih pada masyarakat terdampak penting dilakukan. Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Anung Sugihantono, distribusi air bersih pada masyarakat terdampak kekeringan dapat mengurangi efek lain dari kekeringan yang terjadi, seperti timbulnya penyakit.

"Antisipasi supaya tidak meluas, pertama sumber air dipastikan yang tidak tercemar. Kami minta pemda mendistribusikan air bersih pada masyarakat," katanya. (Ant)

Berita Lainnya