logo alinea.id logo alinea.id

Ahok komentari cara Anies Baswedan tangani banjir Jakarta

Banjir Jakarta selalu menjadi momok bagi Gubernur yang menjabat. Tak terkecuali Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Akbar Persada
Akbar Persada Rabu, 01 Mei 2019 00:07 WIB
Ahok komentari cara Anies Baswedan tangani banjir Jakarta

Banjir Jakarta selalu menjadi momok bagi Gubernur yang menjabat. Tak terkecuali Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dua pemimpin Jakarta di periode berbeda.

Keduanya pun punya pandangan berbeda menangani masalah klasik banjir Jakarta. Bila Anies menargetkan sungai di Jakarta dapat dinaturalisasi, Ahok sebelumnya fokus untuk menormalisasi. 

Terbaru, Anies menyatakan akan menggenjot pembangunan waduk sebagai lokasi parkir air di kawasan hulu Ciliwung sebelum menuju Jakarta.

Mantan Menteri Pendidikan itu pun meyakini pembangunan dua bendungan besar di Sukamahi dan Ciawi, Jawa Barat dengan tujuan penampungan air serupa sebelum menerjang Jakarta akan menjadi solusi mengatasi banjir.

Berbeda, Ahok saat berkesempatan mengunjungi rumah dinas Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi juga punya asumsi lain untuk mengatasi banjir. Menurutnya, DKI Jakarta sebelum ditinggalkannya sudah sangat siap menghadapi banjir kiriman dari hulu Sungai Ciliwung di Bogor, Jawa Barat.

"Karena sebenarnya Jakarta itu pompanya sudah cukup oke, tanggul juga sudah oke," ungkapnya, Selasa (30/4).

Hanya saja, pompa-pompa tersebut sering tidak diperhatikan saat musim kemarau. Sementara saat tiba musim hujan, banyak sampah di sungai, situ, maupun embung yang sering menyumbat pompa-pompa air tersebut. Karena itu, Pemprov DKI dulu sering menurunkan alat berat seperti eskavator untuk mengambil sampah dari dasar maupun permukaan sungai sampai embung yang ada di Jakarta.

"Karena kalau saringan (pompa) tertutup, volume air tidak bisa turun cepat, dan tentu pasukan orange dulu mesti keliling, pasukan biru juga keliling," terangnya.

Sponsored

Ahok mengakui bahwa debit air yang dikirim dari hulu Sungai Ciliwung yang melintasi Jakarta sebelum menuju hilir sangat luar biasa tinggi. Karena itu, sejak memerintah, dirinya tak pernah lelah mengingatkan seluruh petugas pintu air dan rumah pompa untuk selalu siaga.

"Jalan jamnya (air) mesti diperhatikan dan dipenuhi, jangan ngidupin pompa telat, kalau kamu telat, enggak akan keburu. Saya kira mungkin tergenang itu karena ada pompa yang telat, tapi saya enggak tahu," tutur Ahok.