logo alinea.id logo alinea.id

Apa kabar logistik untuk bayi pengungsi gempa?

Kekurangan logistik untuk bayi masih diperlukan para pengungsi di Balaroa, Palu Barat.

Dimeitri Marilyn
Dimeitri Marilyn Rabu, 10 Okt 2018 12:15 WIB
Apa kabar logistik untuk bayi pengungsi gempa?

Gempa bumi berkekuatan 7,4 skala Richter diiringi tsunami yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah merenggut ribuan nyawa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, korban meninggal akibat bencana alam itu mencapai 2.010 orang.

Saat ini, jumlah pengungsi 82.775 orang. Mereka tersebar di 112 titik pengungsian besar, dengan jumlah 74.044 orang di Sulawesi Tengah dan 8.731 orang di luar Sulawesi Tengah.

Saya mengunjungi salah satu titik pengungsian di sebuah gunung yang ada di Balaroa, Palu Barat, Senin (8/10). Saya ikut rombongan polisi dan wartawan menuju lokasi, menggunakan mobil Avanza. Kami berangkat menumpangi delapan hingga sebelas mobil. Perjalanan yang saya tempuh sekitar empat jam.

Ada sekitar seribuan pengungsi di sini. Ada 20 tenda pengungsi berdiri, satu tenda masing-masing diisi lima kepala keluarga. Setiap tenda berisi satu dapur umum. Tak ada dapur umum besar di sini.

Saya menemui tiga ibu muda di salah satu tenda, yakni Sri Rahayu, Hasna, dan Musdalifa. Mereka tengah sibuk memasak untuk anggota keluarga dan para pengungsi lainnya di salah satu tenda.

Mereka merupakan pengungsi asal tiga desa yang berbeda di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Masing-masing mereka terpaksa harus mengungsi, sembari mengasuh bayinya.

Seorang anak korban gempa dan tsunami berdiri mengharapkan sumbangan dari pengendara yang lewat di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (8/10). (Antara Foto).

Sponsored

Tak ada susu dan bubur bayi

Mereka satu suara, kekurangan logistik untuk bayi-bayi mereka, seperti popok, susu formula, dan bubur bayi.

“Sejak kami mengungsi di tempat ini, hanya sekali ada logistik untuk bayi saya, berupa bubur bayi. Setelah itu, empat kali datang logistik, tak ada satupun yang memberi makanan bayi saya,” kata Sri Rahayu, Senin (8/10).

Ibu muda berusia 21 tahun ini berasal dari Desa Labuan Induk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Bayi mungil yang tengah ditimangnya itu namanya Chacha. Usianya baru tiga bulan.

Sri bukannya tak berusaha. Dia sudah memberi buah hatinya air tajin yang didihkan.

“Tapi, bayi saya menolaknya,” kata Sri, yang menjadi transmigran asal Kota Palu, sejak 20 tahun lalu.

Hasna, seorang ibu muda berusia 19 tahun, pengungsi asal Desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, juga mengeluhkan hal sama dengan Sri. Anaknya berusia satu bulan. Sejak empat hari usai bencana di Palu, Sigi, dan Donggala, anaknya sangat membutuhkan susu formula.

“Shinta (bayi Hasna) butuh ASI (air susu ibu). Tapi, produksi ASI saya tidak banyak sejak di pengungsian,” ujar Hasna.

Sejak di pengungsian, Hasna beruntung mendapatkan jatah makan dua kali sehari. Namun, dia berujar, jatah makan itu tak membuat kuantitas air susunya meningkat.

“Saya membutuhkan susu formula untuk anak saya,” kata dia.

Musdalifa, ibu muda berusia 23 tahun, pengungsi asal Desa Toaya Vunta, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, juga mengalami hal serupa dengan Sri dan Hasna. Bayinya yang berusia delapan bulan, Husein, sangat membutuhkan asupan susu formula dan bubur bayi.

“Di sini tidak ada bubur bayi. Saya kasih nasi, dia tidak mau. Kasihan anak saya,” kata Musdalifa.

Selain kebutuhan bayi, para pengungsi pun mengeluhkan logistik keperluan perempuan, seperti pembalut. Dari pengakuan Sri, Hasna, dan Musdalifa, selama ini mereka mengatakan belum mendapatkan pembalut untuk kebutuhan bulanan.

Pengungsi berisitirahat di tenda pengungsian di Lapangan Vatulemo, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (2/10). (Antara Foto).

Prioritas lain

Rupanya keluhan pengungsi sudah sampai ke telinga tim relawan yang dipimpin Wakapolres Balikpapan Komisaris Polisi Yolanda Evalyn Sebayang, yang ketika itu berada di lokasi pengungsian. Menurutnya, kebutuhan susu, bubur bayi, dan pembalut menjadi prioritas lain, setelah kebutuhan pokok.

“Untuk itu dari tim renakta (remaja, anak, dan wanita) menyiapkan kebutuhan ibu dan anak. Ada bubur bayi kami siapkan. Pembalut juga ada,” kata Yolanda Evalyn Sebayang.

Yolanda mengakui, pembagian logistik untuk kebutuhan anak dan perempuan tak banyak diberikan. Alasannya, pihak Satgas Nusantara masih mengutamakan kebutuhan makanan dan pengobatan bagi pengungsi gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

“Logistik untuk kebutuhan khusus perempuan itu sudah disiapkan, tapi tidak banyak. Kami harus fokus dulu sama makanan, penyembuhan trauma anak-anak, obat-obatan, juga tenaga medis,” ujar Yolanda, yang juga anggota Satgas Nusantara.

Bila ditotal, ada sekitar seribuan kepala keluarga mengungsi dari tiga daerah asal Sri, Hasnah, dan Musdalifa. Berdasarkan data yang dihimpun Alinea.id, dari Desa Labuan Induk, jumlah pengungsi sekitar 700 kepala keluarga. Perempuan yang mengungsi dari desa tersebut sebanyak 323 orang, dan ada 18 bayi/balita.

Pengungsi asal Desa Lero sekitar 469 kepala keluarga. Jumlah perempuan dari desa tersebut, ada 241 orang, dan ada 16 bayi/balita. Dari Desa Toaya Vunta, ada 615 kepala keluarga yang mengungsi. Populasi pengungsi perempuan sebanyak 287 orang, dan ada 11 bayi/balita.

Melihat data tersebut, tentu saja kebutuhan dasar untuk perempuan dan bayi/balita sangat diperlukan pengungsi asal tiga daerah tadi. Supaya tak ada lagi rengekan bayi Husna, Musdalifa, dan Sri Rahayu di tenda pengungsian.