sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ditangkap, admin grup WhatsApp demo STM masih berstatus pelajar

Kreator grup WhatsApp demo STM itu berprofesi sebagai pedagang.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Rabu, 02 Okt 2019 18:56 WIB
Ditangkap, admin grup WhatsApp demo STM masih berstatus pelajar
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 74018
Dirawat 35764
Meninggal 3535
Sembuh 34719

Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri menangkap kreator dan enam pengelola atau admin grup WhatsApp (WA) yang dinarasikan di media sosial sengaja dibentuk oknum polisi untuk mendiskreditkan anak-anak sekolah teknik mesin (STM) peserta aksi unjuk rasa di DPR, beberapa waktu lalu.

Kasubdit II Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Pol Rickynaldo Chairul mengungkapkan, kreator grup WhatsApp berinisial RO telah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 160 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang provokasi.

"Baru satu yang ditetapkan tersangka, kreatornya, RO. Yang lainnya masih dalam pemeriksaan karena baru ditangkap semalam," kata Rickynaldo di Gedung Humas Polri, Jakarta, Rabu (2/10).

Enam pengelola grup WhatsApp lainnya berinisial MAM, WR, MPS, DH, WI, dan KS. MAM dan RO berusia 29 tahun dan berprofesi sebagai pedagang. Sisanya berusia 16-17 tahun dan masih berstatus sebagai pelajar. 

Menurut Rickynaldo, dari 14 grup WhatsApp yang terdeteksi oleh tim patroli siber, 7 di antaranya dibikin oleh RO. Grup-grup WhatsApp itu ditemukan telah dibuat pada periode 24 September hingga 30 September 2019.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, ketujuh orang yang ditangkap mengaku membuat grup WhatsApp untuk meramaikan aksi unjuk rasa pelajar di Jakarta. "Ada link dari grup itu yang disebarkan di status WhatsApp dan media sosial lainnya. Ketika link itu diklik, otomatis dapat jadi member dan berkomunikasi dengan yang ada di grup itu," tutur Rickynaldo.

Lebih jauh, Rickinaldo menegaskan penangkapan tujuh orang itu membuktikan tidak ada peranan polisi dalam membuat grup ajakan demo bagi pelajar STM. Dari uji digital forensik, tim siber tidak menemukan adanya anggota polisi yang ada di dalam grup. "Ini membuktikan tidak ada polisi dalam grup WhatsApp," imbuhnya. 

Menurut dia, tak mudah melacak seluruh nomor yang ada di tangkapan layar yang beredar di media sosial beberapa hari terakhir. Sebagian nomor yang tertera hanya aktif pada WhatsApp, namun tidak aktif providernya.

Sponsored

Lebih lanjut, Rickynaldo menuturkan aplikasi True Caller dan Get Contact yang digunakan masyarakat untuk membuktikan adanya polisi di grup tersebut tidak benar. Meskipun nama pada kontak terlihat, bukan berarti informasi yang tertera di tangkapan layar itu valid. 

“Saya sudah melakukan pengecekan pada aplikasi True Caller, misal saya nulis nama si A, terus saya cek di True Caller, ada nama tukang becak. Tapi, bukan berarti benar dia tukang becak,” tuturnya. 

Berita Lainnya