sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Hakim tolak eksepsi Ferdy Sambo

Hakim meminta JPU melanjutkan persidangan dengan memanggil 12 saksi.

Immanuel Christian
Immanuel Christian Rabu, 26 Okt 2022 11:05 WIB
Hakim tolak eksepsi Ferdy Sambo

Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) menolak nota keberatan atau eksepsi dari terdakwa pembunuhan berencana terhadap Brigadir Yosua atau Brigadir J dan perintangan penyidikannya, Ferdy Sambo. Hal itu disampaikan dalam persidangan dengan agenda putusan sela, Rabu (26/10).

Ketua majelis hakim, Wahyu Iman Santosa mengatakan, berbagai pertimbangan telah dibahas dalam musyawarah majelis. Maka, seluruh eksepsi dari pihak Ferdy Sambo tidak diterima.

"Menolak keberatan dari penasehat hukum terdakwa Ferdy Sambo untuk seluruhnya," kata Wahyu dalam persidangan, Rabu (26/10).

Wahyu juga meminta jaksa penuntut umum (JPU) untuk melanjutkan persidangan dengan memanggil para saksi. Agenda persidangan dengan pemeriksaan 12 saksi menjadi kalender selanjutnya, pada Selasa (1/11).

"Memerintahkan penuntut umum melanjutkan pemeriksaan perkara," ujarnya.

Sebelumnya, ketua tim kuasa hukum Sambo, Arman Hanis berpendapat, surat dakwaan JPU terhadap kliennya disusun secara kabur, tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap. 

"Dan oleh karenanya, harus dinyatakan batal demi hukum," kata Arman dalam persidangan.

Dalam sidang perdana, setidaknya ada enam poin keberatan yang disampaikan kuasa hukum Sambo. Di antaranya, JPU dinilai tak menguraikan rangkaian peristiwa dalam surat dakwaan secara utuh dan lengkap berdasarkan fakta.

Sponsored

Kemudian, JPU dianggap tidak jelas, tidak cermat, dan tidak lengkap dalam menguraikan rangkaian peristiwa dalam surat dakwaan. JPU pun disebut tidak cermat dalam menyusun surat dakwaan karena hanya berdasarkan asumsi dan membuat kesimpulan sendiri.

Selain itu, dakwaan JPU dinilai tidak terang atau karena hanya didasarkan pada satu keterangan saksi. Kemudian JPU dituding tidak cermat dalam menguraikan rangkaian peristiwa surat dakwaan karena mengabaikan fakta. JPU pun dianggap tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap lantaran tak menegaskan bentuk penyertaan terdakwa.

Tim kuasa hukum Sambo lantas meminta majelis hakim menerima seluruh nota keberatan dan menyatakan Surat Dakwaan No.Reg.Perkara: PDM-242/JKTSL/10/2022 tanggal 05 Oktober 2022 batal demi hukum. Selanjutnya, memerintahkan JPU menyetop pemeriksaan perkara dan membebaskan Sambo dari tahanan.

Ketiga, tim kuasa hukum Sambo meminta majelis hakim memulihkan nama baik, harkat, dan martabat kliennya dengan segala akibat hukumnya. Terakhir, membebankan biaya perkara kepada negara.

Sementara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) bersikeras dengan dakwaannya terhadap terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, Ferdy Sambo. Jaksa mengatakan, surat dakwaan terhadap Sambo telah dirumuskan secara cermat dan lengkap. Kuasa hukum Sambo dianggap tidak memahami isi dari dakwaan.

"Dari uraian jelas terlihat penasihat hukum Ferdy Sambo tidak memahami dakwaan. Patut kiranya eksepsi untuk dikesampingkan," kata jaksa saat membacakan nota tanggapan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (20/10).

Jaksa memohon kepada hakim supaya menolak seluruh eksepsi dari terdakwa dan tetap melanjutkan jalannya persidangan. Kelanjutan perkara dilakukan dengan menerima semua dakwaan yang disampaikan oleh Kejaksaan.

Berita Lainnya
×
tekid