sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jakpro akuisisi PT JSL, DPRD DKI: Ini berbahaya

"Pemborosan sebetulnya. Yang salah pihak Fortum, kok, kita yang beli?"

Fatah Hidayat Sidiq
Fatah Hidayat Sidiq Selasa, 29 Jun 2021 18:16 WIB
Jakpro akuisisi PT JSL, DPRD DKI: Ini berbahaya

DPRD DKI Jakarta mempersoalkan langkah PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro mengakusisi PT Jakarta Solusi Lestari (JSL) untuk melanjutkan pembangunan fasilitas pengelolaan sampah (intermediate treatment facility/ITF) di Sunter, Jakarta Utara (Jakut).

Jakpro mulanya bersama mitranya asal Finlandia, Fortum Power Heat and Oy, mendirikan usaha patungan, PT JSL, dalam membangun ITF Sunter. Fortum lalu hengkang dengan dalih terdampak pandemi Covid-19 sehingga sahamnya sebesar 56% di PT JSL dibeli Jakpro pada 23 Juni 2021.

"Pemborosan sebetulnya. Yang salah pihak Fortum, kok, kita yang beli? Ini berbahaya," tegas Anggota Komisi C DPRD Jakarta, Prabowo Soenirman, kepada alinea.id, Selasa (29/6). "Kecuali gratis, ya."

Menurutnya, Fortum seharusnya membayar denda karena melanggar kontrak kerja sama dan wanprestasi. "Itu enggak benar. Harusnya mereka didenda dulu."

Politikus Partai Gerindra ini menduga, Jakpro melakukan hal tersebut dilakukan untuk mempermudah proses penjualan ITF Sunter kepada peminat.

"Arahnya sudah ketahuan, ,nantinya pihak yang berminat ITF Sunter disuruh beli atau ganti uang Jakpro yang dipake untuk membeli saham Fortum di JSL," tuturnya.

Di sisi lain, Prabowo berpendapat, proyek ITF Sunter tidak pantas dilanjutkan. Salah satu pertimbangannya, lahannya tidak terlalu luas.

"Pada prinsipnya, pembangunan ITF Sunter sangat tidak layak, terutama lahannya sekitar 3 ha, sedangkan idealnya 7-10 ha," ujarnya. "Kedua, saya tidak setuju jika dibiayai dengan PMD dan Jakpro belum punya pengalaman dalam mengelola ITF."

Sponsored

Karenanya, mantan Direktur Utama Perumda Pasar Jaya ini meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta mencabut mandat kepada Jakpro melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 33 Tahun 2018. Kemudian, menyerahkannya kepada swasta.

"Sebaiknya serahkan ke swasta dengan lahan milik mereka dan modal punya swasta. Jadi, seluruhnya dikelola swasta, sedangkan pemprov hanya mengawal perizinan saja untuk memastikan semua syarat dan prosedur terpenuhi," tutup Prabowo.

Direktur Pengembangan Bisnis Jakpro, M. Hanief Arie, sebelumnya menyatakan, pihaknya mengambil alih PT JSL dari Fortum yang hengkang dengan dalih pembangunan ITF Sunter tak dimaksudkan untuk investasi, tetapi penugasan dari pemprov sesuai Pergub 33/2018.

Meski Fortum telah keluar, dia memastikan nilai investasi yang dibutuhkan untuk menggarap proyek dekat Jakarta International Stadium (JIS) ini tetap sebesar US$340 juta. Alasannya, kebutuhan teknologi, desain, dan lainnya tidak mengalami perubahan.

Di sisi lain, Jakpro mengakui belum ada pembangunan fisik di lapangan sampai sekarang sejak peletakan batu pertama (groundbreaking) pada 2018. Karenanya, perusahaan pelat merah Jakarta ini tengah fokus mencari pemberi pinjaman guna melanjutkan proyek.

Berita Lainnya