sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Polri naikkan status dugaan pembunuhan berencana Brigadir J ke penyidikan

Polisi menyatakan peningkatan status itu demi mencegah hilangnya bukti karena membusuk.

Immanuel Christian
Immanuel Christian Jumat, 22 Jul 2022 17:02 WIB
Polri naikkan status dugaan pembunuhan berencana Brigadir J ke penyidikan

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menaikkan status dugaan tindak pidana pembunuhan berencana yang dilaporkan keluarga Brigadir Nofriansyah Yosua Hutarabat atau Brigadir J ke tahap penyidikan. Kesimpulan itu didapat setelah penyidik melakukan gelar perkara.

Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, tim khusus telah dikirim ke Jambi untuk meminta keterangan dari keluarga Brigadir J. Hasil dari keterangan itu kemudian dibawa ke ranah gelar perkara hingga mencapai kesimpulan tersebut.

"Jadi setelah gelar perkara, maka laporan dari pihak pengacara keluarga Brigadir J, dari penyelidikan naik ke penyidikan," kata Dedi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (22/7).

Menurutnya, langkah ini merupakan percepatan dari kepolisian. Penyidik disebut tidak ingin ambil risiko terhadap jenazah Brigadir J yang ditakutkan membusuk dan menghilangkan tampilan awal saat dirinya tewas di lokasi kejadian.

Jenazah tersebut rencananya akan dilakukan ekshumasi atau digali untuk autopsi ulang. Tujuannya, agar keluarga juga dapat mengetahui dan secara terbuka ditampilkan bagaimana hasil dari autopsi itu.

"Secepatnya dilakukan ekshumasi dan autopsi," ujar Dedi.

Dedi menyebut, proses ekshumasi dan autopsi ulang akan diikuti oleh dokter-dokter berdasarkan rekomendasi pengacara dari pihak keluarga. Hal ini disebut baik sebab keterbukaan penanganan kasus terlihat dari keterlibatan pihak-pihak di luar Polri.

"Telah ada komunikasi dengan Perhimpunan Kedokteran Forensik Indonesia dan pengacara juga ingin merekomendasikan pihak eksternal juga dipersilahkan," ucap Dedi.

Sponsored

Sebelumnya, tim kuasa hukum keluarga Brigadir J meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk membentuk tim baru yang bersifat independen untuk mengautopsi ulang jenazah. Tim ini mempunyai tugas untuk mengungkap secara terang perkara baku tembak Brigadir J dengan Bharada E di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo di kawasan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, 8 Juli 2022.

Versi polisi, terjadi baku tembak antara Brigadir J dengan Bharada E di rumah Sambo itu. Baku tembak terjadi setelah Brigadir J dinilai panik usai melakukan pelecehan seksual terhadap istri Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, yang tengah istirahat. Teriakan Putri didengar Bharada E, yang kemudian beranjak dari lantai dua rumah ke lantai satu.

Brigadir J yang panik lantas menembak Bharada E. Sebanyak 12 peluru terlontar dari senjata. Sebanyak tujuh pelor dari senjata yang dibawa Brigadir J, dan 5 dari senjata Bharada E. Dalam baku tembak itu, Brigadir J meninggal. Namun, oleh keluarga ditemukan banyak kejanggalan. Bukan hanya luka bekas tembak, tapi juga sayatan dan bahkan bekas jeratan di leher. 

Ketua tim kuasa hukum keluarga Brigadir J, Kamaruddin Simanjuntak mengatakan, komposisi dalam tim tersebut nantinya terdiri dari dokter yang berasal dari RSPAD, Rumah Sakit Angkatan Laut, RS Angkatan Udara, RS Cipto Mangunkusumo, serta rumah sakit dari swasta nasional.

"Kami memohon supaya Bapak Kapolri memerintahkan jajarannya, khususnya penyidik yang menangani perkara ini membentuk tim independen. Jadi mereka bersama sama, bukan sendiri. Jadi tim dia, supaya ini benar benar transparan dan autentik," kata Kamaruddin di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu (20/7).

Kamaruddin menyebut, dirinya akan menanggung biaya apabila tidak ada anggaran untuk pembentukan tim baru itu. Baginya ini semua demi keadilan.

"Mohon dibentuk tim yang baru, supaya legal, dan dapat dipercaya kredibilitasnya diakui dan autentik, maka dibentuklah yang baru. Soal biaya, saya kira ini Negara Republik Indonesia, kalau pemerintah tidak ada anggaran, saya bersedia menanggung biayanya untuk keadilan," ujar Kamaruddin.

Berita Lainnya
×
tekid