sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pemerintah diminta cermat hitung neraca vaksin

"Pemerintah hanya mampu menyuntikkan 800.000 dosis per hari. Itu pun sudah dengan termehek-mehek."

Marselinus Gual
Marselinus Gual Jumat, 30 Jul 2021 13:58 WIB
Pemerintah diminta cermat hitung neraca vaksin

Anggota Komisi VII DPR, Mulyanto, mendesak pemerintah menghitung neraca vaksin secara cermat di tengah tingginya antusiasme masyarakat mengikuti program vaksinasi. Karenanya, jangan sekadar menarget 5 juta dosis per hari.

"Faktanya hingga 28 Juli 2021, pemerintah hanya mampu menyuntikkan 800.000 dosis per hari. Itu pun sudah dengan termehek-mehek," katanya dalam keterangannya, Jumat (30/7).

Menurut Mulyanto, banyak kepala daerah yang teriak kehabisan vaksin. Di sisi lain, Kementerian BUMN mengklaim, sebanyak 12 juta dosis belum terpakai.

"Ada di mana barang itu? Jangan sampai vaksin ini kedaluarsa. Perlu kejelasan," tegas legislator asal Banten itu.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, sebelumnya menyampaikan, pemerintah sudah mendatangkan 173.306.740 dosis vaksin. Sebanyak 64,13 juta dosis (37%) di antaranya telah digunakan. Dengan demikian, stok tersedia sebesar 109 juta dosis (63%).

Sebagian besar vaksin sedang dalam proses pengujian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sisanya, mayoritas masih dalam bentuk bahan baku (bulk) dan perlu diproses PT Bio Farma (Persero).

"Kalau kita cermati angka-angka ini, maka ada dua titik krusial yang perlu mendapat perhatian pemerintah karena akan menjadi titik kemandegan, yakni vaksin yang tersisa di daerah dan lambatnya proses pengolahan bahan baku vaksin menjadi vaksin jadi di Bio Farma," papar politikus PKS itu.

"Jadi, memang pemerintah tidak usah ngotot dengan mendatangkan vaksin dalam bentuk bahan baku. Merek vaksin lain dalam bentuk jadi atau yang dapat diolah oleh BUMN lain perlu diperbanyak. Tentu saja dengan mempertimbangkan tingkat keamanan, kemanjuran, kehalalan dan keekonomian," sambungnya.

Sponsored

Menurut Mulyanto, hitung-hitungan neraca vaksin ini penting agar kecepatan dan pemerataan sebaran vaksinasi proporsional sesuai kebutuhan dan dapat terus ditingkatkan.

Dari 173 juta vaksin impor yang tersedia, sebesar 85% didominasi Sinovac. Lalu disusul AstraZeneca 8,6%, Sinopharm 3,5%, Moderna 2,5%, dan Pfizer 0%.

Per 26 Juli, jumlah orang yang telah divaksin dosis pertama sebanyak 45.5 juta jiwa atau 21,9% dari target. Sementara itu, yang telah menerima dosis lengkap sebanyak 18.6 juta akseptor atau 8.9% dari target.

Jika berdasarkan persentase populasi sebagaimana dirilis Our World ini Data per 30 Juli, Indonesia baru memvaksinasi 16,7% penduduknya.

"Kecepatan vaksinasi kita rata-rata masih di bawah 1 juta dosis per hari. Sementara program vaksinasi di Malaysia dan Thailand masing-masing sudah mencapai 39,7%  dan 17,6% populasi. Indonesia hanya sedikit lebih baik dibanding Vietnam," pungkas Mulyanto.

Berita Lainnya