logo alinea.id logo alinea.id

Polisi intimidasi wartawan yang meliput demonstrasi di gedung DPR

Polisi meminta wartawan menghapus foto atau video yang telah direkam.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Jumat, 16 Agst 2019 14:33 WIB
Polisi intimidasi wartawan yang meliput demonstrasi di gedung DPR

Sejumlah wartawan mendapat intimidasi dari aparat kepolisan ketika hendak meliput aksi demontrasi yang dilakukan Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Aksi demonstrasi buruh itu bertepatan dengan sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Para awak media yang mendapat intimidasi polisi berasal dari berbagai media, baik televisi, cetak, maupun daring atau online. Salah satunya yaitu Syaefullah, jurnalis Vivanews. Ia mendapat tindakan represif pihak kepolisian saat tengah mengambil video para pengunjuk rasa buruh yang diamankan personel kepolisian di depan Masjid TVRI. 

“Hapus video tadi, kalau enggak saya bawa ke mobil,” kata salah satu anggota polisi yang mengenakan baju putih pada Jumat (16/8).

Tak hanya wartawan, fotografer pun juga mendapat tindakan tak menyenangkan dari pihak kepolisian. Pewarta foto dari Bisnis Indonesia juga mendapatkan perlakukan yang sama ketika sedang mengabadikan momen para buruh yang hendak melakukan aksi unjuk rasa. Wartawan itu diminta polisi agar menghapus foto di kameranya. 

“Ketika motret para buruh yang dibawa dimasukkan ke mobil, tiba-tiba petugas ada yang turun (dan) suruh hapus foto tersebut. Sempat adu mulut, saya mempertahankan foto, sampai akhirnya temannya (polisi) datang. Dia bilang saya bawa juga,” ujar pewarta foto dari Bisnis Indonesia itu. 

Sementara pewarta foto dari media Jawa Pos juga mendapat perlakukan tak menyenangkan yang lebih parah dari anggota kepolisian. Perlakuan represif itu dia dapatkan ketika mengabadikan para demonstran yang dibawa masuk ke dalam mobil dari depan gedung TVRI. 

"Saya ditarik bajunya, dihapus fotonya," ujar wartawan Jawa Pos itu. 

Tidak berhenti di situ, jurnalis dari kantor berita Antara juga turut mendapat perlakuan tak menyenangkan dari aparat kepolisian ketika memotret massa aksi yang akan melakukan demonstrasi di depan gedung DPR. 

Sponsored

"Disuruh dihapus juga video dan foto. Polisi bilang ‘tunggu rilis, kamu jangan sewenang-wenang lo dari tadi. Hapus foto-foto (dan) video lo tadi’," kata wartawan Antara itu menirukan ucapan polisi.

Selanjutnya, awak media dari Inews TV juga menerima perlakuan yang sama dalam melakukan peliputan. Sampai saat ini kondisi di sekitar DPR masih dijaga aparat kepolisan. Beberapa buruh yang akan melakukan demonstrasi diminta menjauh dari area gedung wakil rakyat yang saat ini melaksanakan agenda kenegaraan.