close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Warga mengumpulkan limbah tumpahan minyak
icon caption
Warga mengumpulkan limbah tumpahan minyak
Nasional
Senin, 29 Juli 2019 17:49

PT Pertamina dinilai abai pada keselamatan nelayan di Karawang

Walhi mendapat laporan PT Pertamina belum seluruhnya membayar kompensasi kepada nelayan.
swipe

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menilai PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java abai terhadap keselamatan para nelayan yang membantu membersihkan tumpahan minyak di pesisir pantai di Karawang, Jawa Barat.

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Meiki Paendong, mengatakan meski ada pemberian upah kepada para nelayan yang membantu mengangkut tumpahan minyak di pesisir pantai Karawang, namun PT Pertamina belum memikirkan standarisasi keselamatan bagi para nelayan tersebut. 

“Standar keselamatan yang diberikan belum merata antara nelayan dan pegawai PT Pertamina. Jika pegawai PT Pertamina yang membersihkan tumpahan minyak diberikan pakaian hazard (baju keselamatan), sementara nelayan dibiarkan seadanya,” kata Meiki dala konferensi pers di Jakarta, Senin (29/7).

Padahal, lanjut Meiki, membersihkan tumpahan minyak tanpa menggunakan pakaian hazard sangat berbahaya bagi para nelayan. PT Pertamina seolah hanya memikirkan kebersihan laut, namun tidak memikirkan nyawa prang yang membersihkan tumpahan minyak tersebut. 

“Ini menjadi ancaman bagi para nelayan yang membantu,” ujarnya.

Celakanya lagi, kata Meiki, berdasarkan informasi yang diterima Walhi, PT Pertamina belum membayarkan kompensasi ke semua para nelayan yang ikut membantu membersihkan minyak tersebut. Banyak nelayan yang masih terkatung-katung terkait penerimaan upah kerja yang dijanjikan oleh PT Pertamina.

“Hal ini tentunya menjadi kerugian bagi para nelayan. Apalagi kegiatan tersebut adalah pengganti ketika mereka (para nelayan) telah kehilangan lumbung mata pencariannya,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Meiki mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan PT Pertamina untuk segera bertanggung jawab atas upah tersebut. Setidaknya, memperhatikan keselamatan para nelayan yang bekerja dan memberikan upah kepada para nelayan yang ikut membantu membersihkan tumpahan minyak itu.

“Penanganan limbahnya melibatkan warga. Akan tetapi dari sisi prosedur kerjanya tidak diperhatikan. Sementara kita tahu ada sekitar 75% sampai 80% pendapatan nelayan Karawang berkurang,” ucap Meiki.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan para nelayan yang terdampak pada insiden kebocoran tumpahan minyak dan gas di lepas pantai YYA-1, area PHE ONWJ, Karawang, Jawa Barat. PT Pertamina (Persero) telah mendirikan beberapa pos sebagai saluran bagi para nelayan yang terdampak dan mengalami kerugian.

Selain mendirikan pos, PT Pertamina juga telah memberikan kesempatan bagi para nelayan untuk bekerja guna membantu membersihkan tumpahan minyak sebagai pengganti pekerjaan utama mereka yang harus terhenti.

img
Fadli Mubarok
Reporter
img
Tito Dirhantoro
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan