sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

TNI dan Polri diminta antisipasi benturan di masyarakat

Para pendukung capres tidak hanya larut dalam euforia politik , tapi juga sudah terjebak dalam 'pertarungan hidup mati'. 

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Selasa, 19 Mar 2019 10:09 WIB
TNI dan Polri diminta antisipasi benturan di masyarakat
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Menjelang pemilihan umum (pemilu) pada April aparat kepolisian dan TNI diingatkan agar lebih profesional dan tegas dalam menghadapi sejumlah potensi kerawanan yang ada. 

Indonesian Police Watch (IPW) menilai sejumlah potensi kerawanan yang telah dideteksi oleh aparat keamanan belum diimbangi dengan sikap yang seharusnya.

Ketua Presidium IPW Neta S. Pane kepada Alinea.id mengatakan, kalau Polri dan TNI masih terkesan ragu-ragu karena khawatir dituding tidak netral. 

Seharusnya, Polri dan TNI bersikap profesional tanpa mengkhawatirkan tudingan tidak netral. Apalagi menurut Neta dari rezim ke rezim Polri dan TNI memang seringkali ditarik-tarik untuk kepentingan kekuasaan, namun harus tetap menjaga netralitas dan profesionalismenya.

Neta mengatakan, TNI dan Polri harus dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya benturan di masyarakat. Hal ini berkaca pada para pendukung capres yang memiliki kepercayaan diri berlebihan, walhasil hal tersebut dapat memungkinkan upaya menghalalkan segala cara untuk memenangkan paslon yang didukungnya.

IPW menilai situasi keamanan nasional menjelang Pilpres 2019 semakin panas. Para pendukung capres tidak hanya larut dalam euforia politik yang tinggi, tapi juga sudah terjebak dalam 'pertarungan hidup mati'. 

Upaya mendelegitimasi hasil pilpres yang bisa mengancam keamanan masyarakat. Isu itu benar-benar dianggap perlu mendapat perhatian khusus.

Neta menilai kedua kubu punya kepentingan. Misalnya, kubu petahana terlihat sangat berusaha memenangkan kontestasi kedua kali sedangkan lawannya bertekad menang karena merupakan kesempatan terakhirnya.

Sponsored

Lebih lanjut Neta mengungkapkan kerawanan sel-sel terorisme menjelang pemilu, terlebih setelah penangkapan di Sibolga. Menurut Neta jaringan terorisme yang memanfaatkan situasi politik harus dikunci oleh penegak hukum.

Soal ancaman terorisme, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menyatakan sampai saat ini tim Densus 88 terus memitigasi sel-sel terorisme yang ada. Polri meyakini sejumlah peristiwa teror yang terjadi di dalam dan luar negeri tetap dipantau.

"Kami pantau semuanya termasuk narapidana teroris yang keluar. Kami terus bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)," terang Dedi. 

Berita Lainnya
×
img