sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Tol Jakarta-Cikampek, momok menakutkan tiap mudik lebaran

Harapan akan mudik lancar belum bisa terwujud tahun ini. Tol Jakarta-Cikampek masih seperti yang dulu..

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Kamis, 06 Jun 2019 22:02 WIB
Tol Jakarta-Cikampek, momok menakutkan tiap mudik lebaran

Strategi tumpul dan tidak merata

Menanggapi kondisi demikian, Ketua Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Tranportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno menilai arus kendaraan dan kepadatan jalan untuk mudik tahun ini tidak merata.

Djoko mengungkapkan arus mudik yang cukup lancar terjadi lantaran beberapa ruas jalan tol yang tadinya masih fungsional, sudah beroperasi penuh sebelum lebaran tahun ini. 

"Secara khusus, untuk mudik jarak jauh itu lancar, bahkan sejak tahun lalu. Tapi ini belum merata," kata Djoko.

Djoko juga mengapresiasi langkah pemerintah karena sudah menyelesaikan proyek infrastruktur tersebut. Terutama untuk jaringan Tol Trans Jawa dan Trans Sumatera yang dirasa sangat membantu masyarakat.

"Pemudik paling banyak itu memang ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari infratruktur dan strategi manajemen rekayasa lalu lintas yang diterapkan itu juga bagus," kata Djoko.

Meski demikian, Djoko mengatakan, kemacetan masih ditemukan di sejumlah ruas jalan tol dan jalan nasional. Banyak pemudik yang mengeluh terjebak belasan jam di titik kemacetan menuju kampung halaman.

“Artinya strategi belum diterapkan secara merata. Masih banyak yang harus dievaluasi,” kata dia.

Sponsored

Menurut Djoko, salah satu penyebab kemacetan yakni masih banyaknya gerbang tol (GT) di ruas-ruas jalan tol. Oleh karena itu, ia mendorong Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) untuk menghapus GT yang tidak diperlukan.

“Misal Cikarang Utama sudah pindah ke Cikampek utama sama Kaliurip Utama. Kalau seandainya tahun berikutnya gerbang tol lainnya hilang kan bisa lancar," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga harus melakukan pengawasan pada setiap rest area yang disediakan. Djoko menilai, rest area juga menjadi faktor penyebab kemacetan atau kepadetan di jalan tol bagi pemudik.

Ia memberikan contoh yang terjadi hari ini di Cikampek. Berdasarkan pemantauannya, masih terjadi kepadatan kendaraan karena banyak kendaraan keluar masuk rest area.

"Orang keluar masuk, keluar masuk jadi menggangu yang lain. Padahal mereka hanya meeting point saja di sana, janjian mau ketemu saudara ketemu bukan belanja," sambung Djoko.

Lebih lanjut Djoko mengungkapkan, pemerintah sebaiknya tidak hanya fokus membenahi infrastruktur untuk mudik jarak jauh, namun juga untuk mudik jarak dekat. Selain itu, bukan hanya jalur darat, namun udara, laut juga harus menjadi perhatian.

Menurut Djoko, lalu lintas yang dilalui pemudik jarak dekat masih banyak yang tesendat. Contohnya yang terjadi di Jawa Barat. Djoko menilai hal ini disebabkan minimnya angkutan umum di daerah tersebut.

"Nah, mereka mau silaturahmi, mau berwisata tidak ada angkutan umum. Sehingga menggunakan kendaraan pribadi, sementara prasarana juga belum memadai," kata Djoko.

Petugas mengatur lalu lintas di Gerbang Tol Cikampek Utama, Jawa Barat, Jumat (31/5). / Antara Foto

Optimalisasi jalur mudik

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sunadi menyatakan kelancaran arus mudik tidak lepas dari pembangunan infrastruktur yang menghubungkan kota ke kota, baik di Jawa maupun Sumatera.

Selain itu, ia juga menjelaskan hal tersebut didukung dengan strategi-strategi yang ada untuk mengurangi kemacetan.

 "Tahun 2019 adalah pembuktian bahwa pembangunan infrastruktur sangat berguna bagi masyarakat dari kota ke kota," ucapnya.

Keberhasilan infratruktur ini, kata Budi, dapat dibuktikan dari waktu tempuh perjalanan mudik lebih singkat dari sebelumnya. Dia mencontohkan, waktu tempuh Jakarta ke Semarang hanya 6 jam, Jakarta ke Solo 8 jam, dan Jakarta ke Surabaya 10 jam.

Pemerintah memang telah membuka sepanjang 1.468 kilometer (km) ruas jalan tol di guna mendukung kelancaran arus mudik 2019. Seluruhnya berada pada jaringan Jalan Tol Trans Jawa dan Jalan Tol Trans Sumatera, baik yang berstatus operasional maupun fungsional.

Pada Jalan Tol Trans Jawa, diketahui panjang jalan yang dibuka mencapai 965 km dan 31 km sesi ruas Pandaan-Malang. Kemudian, pada Jalan Tol Trans Sumatera panjang jalan dibuka sepanjang 503 km yang mencangkup 278 km jalur operasioanl dan 225 km jalur fungsional.

Adapun ruas operasional yang dibuka seperti Bakauheni-Terbanggi Besar (140,9 km), Palemban-Indralaya (21,93 km), Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi (62,11km), dan Belawan-Medan-Tanjung Morawa (42,7km).

Sementara ruas fungsional yang dibuka meliputi Terbanggi Besar-Pematang Panggang (189 km), Kayuagung-Palembang-Betung (33 km), dan Medan Bijani Seksi (12,8 km).

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebagai upaya penanganan arus balik angkutan Lebaran 2019, Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan dengan beberapa instansi terkait melakukan koordinasi demi kelancaran arus balik. Upaya tersebut sebagai berikut: 1. Pemasangan rambu-rambu di akses masuk rest area sebelum tanggal 7 Juni 2019. 2. Penambahan mobil toilet, termasuk kanopi pelindung untuk antrean toilet sebelum tanggal 7 Juni 2019. 3. Untuk mengantisipasi mobil yang mogok di jalan tol, BUPTJ menambah mobil Layanan Jalan Tol (mobil patroli) dan menempatkan bengkel APM (Agen Pemegang Merek) di rest area tipe A sebelum tanggal 7 Juni 2019. 4. Penempatan informasi call center bantuan emergency yang dapat dihubungi setiap saat, yang ditempatkan di bawah rambu-rambu serta tempat-tempat strategis. 5. Penambahan mobile reader dari 28 unit menjadi 38 unit dan EDC dari 2 menjadi 12 di Gerbang Tol Palimanan. 6. Pelaksanaan one way tanggal 7 s/d 10 Juni 2019 dimulai pukul 12.00 WIB s/d 24.00 WIB dari KM 414 Kalikangkung s/d KM 70 Cikampek Utama dan selanjutnya diberlakukan contra flow dari KM 70 s/d KM 65 atau sesuai dinamika di lapangan dengan pertimbangan diskresi Kepolisian. @kemenhub151 @ditjen_hubdat #PenghubungIndonesia #MudikSelamatGuyubRukun #MudikBerkeselamatan #MudikBarengAsyikLancar

A post shared by Kemenhub 151 (@kemenhub151) on

 

Berita Lainnya