sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jelang Piala Dunia 2022: Kutukan juara dunia

Siapa bilang mereka tidak bisa sukses beruntun di Piala Dunia?

Arpan Rachman
Arpan Rachman Selasa, 25 Okt 2022 17:29 WIB
Jelang Piala Dunia 2022: Kutukan juara dunia

Trofi Piala Dunia berubah dari Piala Jules Rimet mulai 1930 hingga 1970, kini menjadi FIFA World Cup sejak 1974. Tidak ada tim yang pernah mempertahankan gelar juara bertahan.

Pada abad XX, daftar negara yang berhasil mengangkat trofi meliputi Jerman 1974, Argentina '78, Italia '82, Argentina '86, Jerman '90, Brasil '94, dan Prancis '98. Di era milenium tercantum Brasil 2002, Italia 2006, Spanyol 2010, Jerman 2014, dan Prancis 2018.

FIFA World Cup sudah diperebutkan dalam 12 edisi. Jerman meraih hattrick namun tidak beruntun. Juara ganda tapi bukan daur ulangan: Argentina, Italia, Brasil, dan Prancis, serta Spanyol sekali. Jadi, cuma enam negara yang berjaya di antara 211 anggota FIFA.

"Jika kita harus jujur, Prancis adalah salah satu favorit untuk memenangkan Piala Dunia tahun ini," kata narator di kanal Goal 90, memuji Prancis di awal tapi menjatuhkannya di ujung ulasannya nanti.

Ayam Jantan Keok

Itu bukan hanya karena Ayam Jantan juara bertahan, tetapi juga karena mereka memiliki skuad tim nasional terbaik di planet ini. Skuad Prancis memiliki dua atau bahkan tiga pemain kelas dunia di masing-masing dari 11 posisi di lapangan.

Mereka memiliki pemimpin, pejuang, pengalaman, pemuda, bakat, bintang cepat, monster mentalitas, secara harfiah segalanya. Terakhir terkonfirmasi Paul Pogba dan N’golo Kante, dua bintang 2018, harus absen karena cedera. Dan mereka telah menunjukkan bahwa mereka tahu bagaimana untuk menang, mereka adalah juara bertahan Piala Dunia dan UEFA Nations League saat ini.

Siapa bilang mereka tidak bisa sukses beruntun di Piala Dunia? Sepertinya tertulis di bintang-bintang bahwa, di zaman modern, tim tidak dapat memenangkan Piala Dunia secara berurutan.

Sponsored

Faktanya, dalam seluruh sejarah kompetisi, hanya dua yang memenangkan Piala Dunia berturut-turut, dan mereka adalah dua tim paling sukses dalam sejarah kompetisi – Italia dan Brasil. Tapi itu di tahun 30-an dan 60-an ketika masih Piala Jules Rimet yang diangkat.

Era modern, sejak trofinya berubah, itu tidak pernah terjadi. Bahkan, akhir-akhir ini, pemenang Piala Dunia sulit mencari jalan keluar dari babak penyisihan grup di turnamen berikutnya. Itulah yang disebut dengan 'Kutukan Juara Dunia' dan tampaknya menjadi pola yang cukup konsisten belakangan ini.

Prancis menang Piala Dunia di kandang pada 1998, namun mereka gagal keluar dari grup di turnamen Piala Dunia berikutnya di Korea-Jepang 2002. Italia mengalahkan Prancis melalui adu penalti untuk meraih Piala Dunia 2006 di Jerman tetapi gagal dari grup di Afrika Selatan 2010.

Spanyol, yang pertama kali menjuarai turnamen tersebut pada 2010, juga terkena kutukan karena gagal total dari grupnya di Brasil 2014. Jerman juara 2014 melanjutkan tradisi dengan kehancuran, tersingkir di babak penyisihan grup di Rusia 2018.

Jadi, sebenarnya tidak akan terlalu mengejutkan jika Prancis melanjutkan tradisi itu dengan tersingkir di babak penyisihan grup di Qatar tahun ini. Dalam lima turnamen terakhir, empat juara telah terkutuk.

Hanya Brasil, juara 2002 yang berhasil mencapai perempat final di edisi berikutnya. Tapi kemudian, itulah Brasil. Negara yang paling banyak memenangkan Piala Dunia. Satu-satunya negara yang diberi trofi Piala Dunia untuk disimpan. Satu-satunya negara yang lolos ke setiap edisi Piala Dunia.

Prancis, dan faktanya, tidak ada negara lain di dunia yang memiliki silsilah Piala Dunia seperti Brasil, jadi dapat dimengerti bahwa kutukan itu melewati Brasil. Sekarang, jika Anda berpikir Prancis terlalu kuat untuk menghindari kutukan, ingatlah bahwa, tahun lalu, mereka hanya memenangkan satu pertandingan di Euro 2020 dan akhirnya tersingkir di babak 16 besar ke Swiss.

Retaknya Persahabatan

Apalagi mereka saat ini berada di posisi terbawah grup mereka di UEFA Nations League 2022-23 yang sedang berlangsung, setelah gagal memenangkan semua dari empat laga yang mereka mainkan. Mereka sebenarnya tidak sekuat yang Anda bayangkan saat memasuki Piala Dunia pada November mendatang.

Di Grup D Qatar 2022, Prancis akan bermain melawan semifinalis Euro 2020 Denmark, yang baru-baru ini dua kali mengalahkan Les Bleus di Nations League. Selain itu, kekuatan Afrika di seragam Tunisia dan Australia.

Jangan heran jika Hugo Lloris cs terjerumus ke dalam Kutukan Juara Dunia dan gagal keluar dari grupnya nanti. Sejujurnya, selain penampilan terakhir mereka di kompetisi Eropa, tampaknya ada faktor lain yang menunjukkan kemungkinan kegagalan Prancis di Piala Dunia tahun ini.

Pertama-tama, persahabatan yang mereka nikmati di 2018 yang menjadi salah satu alasan kesuksesan mereka tampaknya telah hilang. Telah terdengar tentang ketidaksepakatan antara anggota skuad, orang tua pemain bahkan terlibat. Terlihat bagaimana semuanya terbuka ke publik setelah tersingkir prematur di Euro 2020.

Jika masih ada noda buruk yang belum terselesaikan di ruang ganti, terasa bahwa skuad Didier Deschamps bisa meledak di panggung terbesar dengan semua tekanan itu. Berbicara tentang tekanan, memiliki skuad terbaik di dunia berarti ada banyak tekanan pada pemain untuk selalu menang.

Kalau tidak, tampaknya seperti membuang-buang talenta terbaik dunia. Tekanan itu mungkin berakhir menjadi bencana bagi para pemain dan terutama pelatih. Dan sekarang, bila menyebutkan pelatihnya, penting untuk diingat bahwa Deschamps pelatih yang sama, yang membawa mereka meraih kesuksesan Piala Dunia 2018 dan kemungkinan besar masih akan membawa mereka ke Qatar tahun ini.

Bila Coach Didier gagal mengubah keadaan dan memunculkan ide-ide segar untuk turnamen November, ia berisiko berakhir seperti Marcelo Lippi, Joachim Low, dan Vincente del Bosque yang masing-masing memimpin Italia, Jerman, dan Spanyol, pertama ke Piala Dunia dengan kemenangan dan kemudian loyo di babak penyisihan grup edisi berikutnya empat tahun kemudian.

Dalam setiap kasus ini, para manajer bersalah karena gagal mengubah keadaan atau menyuntikkan ide-ide segar ke dalam tim. Mereka juga terkenal bersalah karena menggunakan pemain yang sama dari kampanye sukses mereka sebelumnya dan hanya berharap formula yang serupa akan bekerja untuk hasil yang berbeda. Jadi, Deschamps harus belajar dari Lippi, Low, dan del Bosque jika dia ingin menyingkirkan kutukan yang saat ini tampaknya lebih besar darinya.

Apa yang secara umum begitu menarik dari skuad Prancis? Meskipun telah bertebaran alasan yang sangat kuat mengapa mereka bisa gagal di Piala Dunia 2022, masih agak konyol untuk tidak menyebut mereka sebagai salah satu favorit untuk melaju jauh di Qatar.

Apakah Anda Les Bleus memiliki apa yang diperlukan untuk mematahkan Kutukan Juara Dunia? Atau mereka akan jatuh seperti yang mereka lakukan saat pertama kali memenangkan trofi?

Berita Lainnya
×
tekid