sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Final SEA Games 2021: Mental Thailand tahan agresivitas Vietnam

Messi Jay Songkrasin membintangi klub papan atas J1 League. Jadi, bukan sekadar mirip pemain iklan untuk menarik banyak pengikut medsos.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Minggu, 22 Mei 2022 12:28 WIB
Final SEA Games 2021: Mental Thailand tahan agresivitas Vietnam


Laga final SEA Games XXXI 2022 Vietnam bertemu Thailand dipanggungkan di Stadion Nasional My Dinh, Hanoi, Minggu (22/5/2022). Kemarin, kedua kesebelasan bertemu di final cabang olahraga sepak bola putri dengan hasil tuan rumah unggul tipis 1-0.

Siapa yang akan menggondol medali emas cabor sepak bola putra di pesta olahraga se-Asia Tenggara? Duel kali ini merupakan pertaruhan kekuatan mental menghadapi agresivitas serangan. Thailand bertahan, Vietnam menyerang.

Berada sedikit di bawah angin, tampilan Thailand sempat diwarnai kekalahan 1-2 dari Malaysia di pembuka Grup B. Namun, tim Gajah Perang kemudian melaju kencang, meraup angka penuh di tiga laga sisa. Yang terpenting, mereka menyapu telak Singapura 5-0.

Bugar karena Santai

Pelatih Alexandre Polking terbilang cerdik penuh perhitungan. Hal itu diperlihatkannya di laga terakhir Grup B menghadapi Laos. Ketika itu, mereka sudah menyegel tempat di semifinal. Dia menyimpan beberapa pemain inti untuk beristirahat santai agar lebih bugar pada pertandingan berikutnya.

Poros kekuatan Thailand bertumpu pada vitalitas kapten kesebelasan Kawin Thamsatchanan. Di semifinal, penjaga gawang klub Port FC itu mementahkan dua peluang krusial Indonesia, sundulan Marc Klok dan tendangan bebas Syahrian Abimanyu.

Dua pemain senior lain, Worachit Kanitsribumphen dan striker Weerathep Pomphan, juga menjadi suri teladan dengan peran fungsional. Gelandang Worachit senantiasa turut bergerak simultan dalam sistem yang terjalin sangat rapi. Mayoritas pemain U-23 di tim itupun tidak terlalu tergantung kepadanya.

Peran jauh berbeda ditunjukkan Klok di Indonesia, yang selalu bahkan setengah mati melawan letihnya sendiri, sebab rekan-rekan setimnya seperti kebingungan. Semua seakan meminta dia saja yang memutar otak permainan. Dia membangun serangan, dia pula memutus serangan, dan bukan hanya itu.

Sponsored

Sebelum Pomphan menghujam jala Garuda Muda di semifinal, Klok empat kali menyentuh bola dalam waktu satu menit! Sejak ditunjuk menendang bebas, menerima umpan dari bek, mengumpan tanpa tahu siapa yang mampu menerima bola. Lalu dikacaukan bola gila dari rekannya sesama gelandang. Gerakan itu belum berakhir, Klok masih berlari ikut memburu bola di kaki Patrick Gustaffson. Kalau Anda pernah bermain dengan beban seperti itu, niscaya besok Anda kapok main bola lagi karena semaput ngos-ngosan.  

Tapi, tidak mungkin jera kalau tim Anda bernama Thailand. Trio pemain mancanegara mereka, Jonathan Khemdee, Chayapipat Suphannapeset, dan Benjamin Davis, cukup elok dipandang. Kecerdasan intelektual mereka di lapangan pasti bernilai di atas rata-rata.

Terutama Ben Davis, malah layak disebut "The Next Chanatip" di lini tengah Gajah Perang. Gelandang Oxford United itu telah menjelma konduktor yang memporak-porandakan skema permainan acak-acakan PSSI U-23.

Sistem Sel ala Korsel

Bagaimana pengetahuan fisika sederhana dan matematika terapan di tengah lapangan sepak bola yang dikuasai pemain kesayangan Madame Pang? Seperti tentang gaya berat, ilmu ukur sudut, rumus Momen Inersia, rumus ergonomi, perhitungan koordinat, dan lain-lain. Cukupkah itu semua buat menaklukkan Golden Stars di kandangnya sendiri?

Di atas kertas, peluang Thailand cukup tipis. Pasalnya, selain tuan rumah, Vietnam juara bertahan. Itu menjadi faktor penting.

Vietnam menduplikasi gaya ala Korea Selatan sempurna sejak Park Hang-seo membesut mereka. Cepat bertenaga, aktif dengan bukaan ruang, mengutamakan penguasaan bola, agresi ofensif. Negeri Indochina itu bisa cepat adaptif dengan pola speed and power barangkali dari budaya sosialis mereka dan kebiasaan hidup diterpa musim angin Monsoon yang kejam.

Permainan menyerang ditunjukkan terpilihnya tiga senior, duo gelandang Do Hung Dung dan Nguyen Hoang Duc serta striker Nguyen Tien Linh. Ketiganya peraih medali emas SEA Games terakhir 2019. Sumbu tengah-depan Dung-Duc-Linh akan menyalakan api neraka ke pertahanan yang digalang Kawin. Sebaliknya, bila Kawin dkk unggul lebih dulu, akting provokatif di luar permainan teknis yang pasti banyak bicara.

Indonesia sendiri masih ada di tengah final. Vietnam unggul 3-0 di Grup A, Thailand hanya 1-0 di semifinal, itu sepasang skor akhir mereka melumat Asnawi Mangkualam cs. PSSI, yang berlambang bukan Garuda, menjadi batu loncatan yang diinjak oleh kaki mereka untuk bertemu di partai puncak ini.

Persaingan Vietnam versus Thailand di peta sepak bola di kawasan Melayu regional semakin menegaskan bahwa mereka kini selangkah lebih maju daripada negara-negara lain. Di lapis kedua, terdapat tiga kekuatan seimbang Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sisanya dihuni Myanmar, Filipina, dan Laos.

Menyoroti sukses sepak bola Thailand, diketahui sejauh ini banyak dibantu Jepang. Liga Primernya disponsori Toyota Motor dan resmi dinamakan Hilux Revo Thai League. Angka penjualan unit mobil Suzuki, sponsor Piala AFF, di Negeri Siam lebih laris ketimbang negeri +62.

Messi Jay Songkrasin membintangi klub papan atas J1 League. Jadi, bukan sekadar mirip pemain iklan untuk menarik banyak pengikut media sosial, yang bahkan terus tidak masuk daftar cadangan, seperti Pratama Arhan. Sejumlah kerja sama juga dibangun kedua asosiasi, JFA dan FAT. Bila ditengok, video rekaman laga Thai League 1 mulai persis tiruan J1 League.

Karena itu, tidak heran, kiblat permainan Gajah Perang ialah Samurai Biru. Paling mencolok, gaya berlari mereka bersebelas sangat indah dipandang. Terlihat amat seimbang gerak tubuh dan langkah kaki, antara cepat dan cerdas. Satu unsur vital itu membentuk mental mereka lebih tangguh. Indonesia pernah menyaksikan keindahan yang serupa di Galatama sampai kompetisi itu mati awal tahun 90-an. 

Berita Lainnya
×
tekid