logo alinea.id logo alinea.id

Titek Soeharto: Aksi damai kok ditodong senjata?

Setelah menyebut pemilu kali ini lebih curang dari era Orde Baru, Titiek Soeharto kini mempertanyakan todongan senjata aparat.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Selasa, 21 Mei 2019 22:50 WIB
Titek Soeharto: Aksi damai kok ditodong senjata?

Setelah menyebut pemilu kali ini lebih curang dari era Orde Baru, Titiek Soeharto kini mempertanyakan todongan senjata aparat.

Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiga Uno, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto terlihat hadir di tengah-tengah massa yang melangsungkan aksi di Gedung Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu), Jakarta Pusat.

Putri mediang Presiden Soeharto ini menyempatkan hadir untuk bertemu dan mengapresiasi massa, khususnya untuk massa yang datang dari luar daerah.

"Saya hari ini, sore ini menyempatkan datang ke sini untuk ketemu teman-teman yang sudah datang jauh dan ikut aksi damai di sini. Saya mau ikut buka bersama dengan mereka, dan beri semangat pada rekan yang dukung 02 di sini," kata politisi Partai Berkarya itu, Senin (21/5).

Titiek sangat berterima kasih karena massa yang datang dari daerah telah rela mengorbankan waktunya hanya untuk menuntut keadilan dan mendukung pasangan calon (paslon) nomor urut 02 Prabowo-Sandi. Namun, ia merasa kaget ketika melihat di lapangan.

Ia menyayangkan aparat kepolisian yang menjaga aksi massa tersebut dengan sangat ketat. Pasalnya, lanjut Titiek, hal tersebut tidak etis dilakukan karena dalam aksi tersebut banyak dilakukan oleh ibu-ibu dan perempuan.

"Saya kaget sampai di sini. Ini aksi damai, banyak ibu-ibu tapi kok kita kaya dijagain mau perang sama aparat di sini. Ini mau ada apa sih? Padahal kan kita tidak membawa senjata, lagian mau apa?" paparnya.

Menurutnya, massa aksi berkumpul bukan untuk menggeruduk Bawaslu. Semua dilakukan dengan damai karena massa ini merupakan bagian dari negara, dan mereka berhak untuk menyuarakan apa yang telah mereka rasakan.

Sponsored

Lebih lanjut, Titiek menerangkan, pihaknya akan melihat perkembangan aksi massa dalam satu hingga dua hari ini sebelum BPN pada akhirnya mempertimbangkan untuk meneruskan ke Mahkama Konstitusi (MK). Dikatakannya, pihaknya masih belum terima putusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam kontestasi pemilihan presiden (pilpres) 2019.

"Dengarkanlah dulu dong prosesnya. Ngumumin di tengah malam buta kalau tidak ada maksud yang jelas, kalau namanya pengumuman di siang hari lah," urainya.

Hal tersebut membuat BPN merasa aneh. Aksi massa ini, dikatakan Titiek, merupakan wujud masyarakat yang tidak menerima putusan tersebut. "Insha Allah sebisa saya akan menemani massa di sini," kata dia.