sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Aksi bela tauhid diwarnai kampanye Capres sertakan anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan aksi bendera tauhid membawa anak-anak lantaran ada kampanye Capres di dalamnya.

Robi Ardianto Dimeitri Marilyn
Robi Ardianto | Dimeitri Marilyn Selasa, 06 Nov 2018 00:02 WIB
Aksi bela tauhid diwarnai kampanye Capres sertakan anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan aksi bendera tauhid membawa anak-anak lantaran ada kampanye Capres di dalamnya.

Anggota Komisi KPAI Retno Listriyati menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melibatkan anak-anak dalam kegiatan politik kelompok tertentu. Termasuk di dalamnya aksi membela bendera tauhid pada Jumat, (2/11) di kawasan Monas sampai Bunderan Hotel Indonesia.

Aksi membela bendera tauhid memang tidak berkaitan langsung aksi kampanye politik. Hanya saja, dari potongan unggahan akun @keadilansemu_reborn, yang tampaknya diambil dari Instagram 'generasi pejuang' ada pantun yang diucapkan oleh anak-anak dan remaja tanggung mengarah kepada kampanye tak memilih presiden petahana.

Adapun, potongan ucapan pantun tersebut berbunyi "Jalan-jalan ke kelapa dua, Jangan lupa mampir ke toko sepatu, Eh Lu pade jangan lupa pilih nomor dua, Lupain yang nomor satu." 

Menurut Retno, KPAI menyesalkan aksi tersebut disisipi pesan kampanye politik untuk mendukung pasangan Capres-Cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"KPAI menyesalkan aksi bela tauhid disisipi pesan kampanye politik dan dikaitkan dengan pemilihan presiden dan diduga kuat menggunakan anak-anak sebagai juru kampanye. Anak-anak seharusnya tidak dilibatkan dalam kepentingan politik oleh pihak manapun," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Alinea.id, Senin (5/11).

Melihat dugaan gelagat keterlibatan anak-anak dan remaja tanggung itu dilibatkan pada sikap politik sebuah golongan tertentu, KPAI pun tak segan-segan melaporkan kasus ini pada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). 

Dia berharap Bawaslu bisa tegas mengambil tindakan atas dugaan pelanggaran yang dilakulan oleh pihak-pihak yang terekam dalam video berdurasi 1 menit itu.

Sponsored

Retno juga menjelaskan laporan potongan video pantun ini diterima oleh KPAI pada Sabtu, (3/11). Dari pengamatan KPAI, pada video tersebut terlihat seorang anak laki-laki sedang berorasi dengan berapi-api.

Anak itu diperkirakan berusia sekitar 10-11 tahun, di awal video ada tulisan 'Orator Termuda Di dunia'. Orasinya terkait bendera tauhid yang di bakar, ada ucapan 'mati bersimbah darah' dan ditutup dengan sebuah pantun yang mengarah memilih Capres tertentu.  

Untuk kedepannya, KPAI berharap untuk aksi apapun yang berkaitan dengan penentuan sikap dan sampai turun ke jalan sebaiknya tidak menggunakan anak-anak di dalamnya. Sebab, anak-anak berhak untuk mendapatkan hak sekolah dan hak untuk menimba ilmu di sekolah. 

"Untuk kedepannya KPAI berharap masyarakat bijaksana tidak melibatkan anak-anak dalam aksi turun ke jalan. Mereka butuh sekolah. Kalaupun hari libur dilakukan mereka butuh bermain dan bersosialisasi," tutur Retno dengan tegas.