logo alinea.id logo alinea.id

Boni Hargens sebut ada penumpang gelap yang ingin kacaukan negara

Boni mengatakan, ada penumpang gelap yang ingin memanfaatkan kegalauan politik yang membahayakan eksistensi negara.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Sabtu, 11 Mei 2019 21:08 WIB
Boni Hargens sebut ada penumpang gelap yang ingin kacaukan negara

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens mengatakan, ada penumpang gelap yang ingin memanfaatkan ketegangan Pemilu 2019 untuk mengacaukan negara.

"Saya kira ini indikasi yang sangat kuat bahwa memang penumpang gelap ingin memanfaatkan ketegangan pemilu ini untuk menghancurkan negara," kata Boni dalam diskusi “Merawat Keindonesiaan” di Plaza Central, Jakarta, Sabtu (10/5).

Menurutnya, ketegangan pemilu bukan lagi soal menang atau kalah, bukan perkara ada kecurangan atau tidak, tetapi ada penumpang gelap yang ingin memanfaatkan situasi kegalauan politik yang dapat membahayakan eksistensi negara, ideologi negara, termasuk eksistensi NKRI.

"Kepolisian sudah mengungkap ada bukti-bukti teroris JAD, bagian dari ISIS merancang bom untuk mengacaukan saat pengumuman hasil pilpres pada 22 Mei 2019. Saya kira ini indikasi kuatnya," ujarnya.

Dengan demikian, kata dia, menjelang pengumuman hasil pemilu pada 22 Mei 2019, masyarakat diimbau untuk tetap optimis dan tenang. Ia juga mengimbau agar masyarakat tidak terpecah belah.

"Kita harus bersatu. Ini bukan lagi urusan Pak Prabowo melawan Pak Jokowi. Ini sudah urusan negara melawan kekuatan yang ingin menghancurkan republik," ucapnya.

Lebih lanjut, Boni menegaskan agar seluruh rakyat harus bersatu memberikan dukungan dan apresiasi yang kepada aparat keamanan, Polri, TNI, BIN serta KPU dan Bawaslu.

"Mereka sudah bekerja dengan sangat keras dan mereka mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk kebaikan bangsa ini. Jangan sampai permainan satu dua orang kami sebut sebagai bandar politik, mengacaukan seluruh konstruksi demokrasi dan negara kita," tuturnya.

Sponsored

Boni mengatakan, siapa pun yang terpilih adalah pilihan rakyat dan presiden untuk semua.

"Mari kita hentikan dan tahan diri untuk tidak terprovokasi oleh siapa pun di luar sana yang ingin menggalang massa dan menyerbu KPU. Kita harapkan masyarakat lebih bijaksana dibandingkan para elite politik," katanya.