sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Saiful Mujani ungkap hitung-hitungan Capres 2024

Kendati masih sekitar tiga tahun lagi, namun sejumlah partai sudah memunculkan nama untuk calon presiden 2024.

Nadia Lutfiana Mawarni
Nadia Lutfiana Mawarni Sabtu, 06 Nov 2021 09:19 WIB
Saiful Mujani ungkap hitung-hitungan Capres 2024

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menjadi satu-satunya partai politik pemegang tiket emas menuju Pemilihan Umum 2024. Partai moncong putih itu menjadi satu-satunya partai yang tidak perlu mengusung koalisi untuk melaju mulus dalam pemilu 2024.

Komisioner KPU Ilham Saputra menyebutkan, untuk mengusung calon presiden dan calon wakil presiden pada pemilu 2024, partai politik harus menguasai minimal 20% kursi DPR atau memperoleh minimal 25% suara secara nasional pada pemilu 2019. Hasil tersebut hanya dimiliki oleh PDIP.

Menanggapi fenomena ini, Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Saiful Mujani, dalam cuitannya di Twitter, Sabtu (6/11) menyebutkan partai-partai lain di Senayan harus berkoalisi untuk mengusung calon mereka. Padahal di sisi lain sejumlah partai sudah memunculkan nama untuk calon presiden 2024. Sebut saja Airlangga Hartarto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), dan Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat). Sementara dari kubu PDIP, Puan Maharani sudah terlihat masif melakukan sosialisasi dan berpeluang cukup bagus untuk menjadi calon pada pemilu dua tahun mendatang.

Partai-partai lain bakal menunggu hasil survei elektabilitas terhadap beberapa kader. Prabowo (Gerindra) sementara ini dinilai menduduki posisi puncak terkait elektabilitas dalam pemilu diikuti AHY. Puan, Airlangga, dan Muhaimin berada jauh di bawah nama-nama tersebut.

Berbicara soal persaingan Prabowo dan AHY yang memiliki elektabilitas tinggi, kemungkinan besar Nasdem akan berpihak ke AHY. Kondisi ini akan bertentangan dengan PDIP yang justru kontra dengan AHY dan tidak akan berkoalisi dengan Nasdem.

Sementara itu, Golkar bisa memilih bersama Prabowo maupun AHY tergantung dari keputusan Ketua Umumnya, Airlangga Hartarto. Bila kans AHY dinilai baik, maka kemungkinan Airlangga bisa bersama AHY. Jika disangkutkan dengan jumlah pemenuhan kursi di DPR maka koalisi yang terbentuk bisa jadi adalah Prabowo-Puan melawan AHY-Airlangga. Di luar itu tak ada lagi kader yang kompetitif.  

Calon alternatif

Melihat hal ini, nama-nama di luar ketua partai menunjukkan gejala dukungan kuat dari rakyat. Nama yang muncul adalah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo; Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil; dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Di antara nama-nama ini, Ganjar unggul cukup jauh, bahkan besar peluangnya untuk mengalahkan semua calon.

Sponsored

Kendati begitu, kalau PDIP tidak mencalonkannya karena memasangkan Puan dengan Prabowo, mungkin Ganjar tidak maju. Jika demikian, calon alternatif lainnya adalah Anies, Ridwan, atau Khofifah. Sementara, Anies berpeluang unggul atas Prabowo dan AHY.

Bila Anies unggul atas Prabowo, Golkar mungkin memasangkan Airlangga dengan Anies, dan partai-partai lain mungkin akan mendukung Anies-Airlangga melawan Prabowo-Puan: PDIP-Gerindra melawan the rest. Bisa jadi calon yang terbentuk adalah Prabowo-Puan vs Anies-Airlangga (Ridwan atau Khofifah atau AHY). Kemungkinan Anies lebih baik peluangnya untuk menang karena yang sementara ini tidak ada yang bisa menghentikan Anies kecuali Ganjar yang terancam batal nyalon karena PDIP lebih memilih Puan. Maka yang menentukan kemudian adalah apakah PDIP akan tetap dukung Prabowo lawan Anies karena ingin Puan jadi wapres Prabowo padahal Prabowo akan kalah melawan Anies sehingga target Puan tak tercapai.

Kemungkinan selanjutnya adalah Anies-Puan melawan Prabowo yang belum memiliki calon pasangan wapres untuk mencapai target Puan sebagai wapres. Bila Anies berpasangan dengan Puan, Demokrat dan Nasdem mungkin tidak berkoalisi, begitu pula dengan Golkar karena Airlangga tidak mendapat posisi. PKS juga mungkin memilih netral karena sulit berkoalisi dengan PDIP.

Kemungkinan lain, PKS bisa saja bergabung dengan Prabowo. Bila ini yang terjadi, maka kemungkinan ada tiga pasangan calon yakni dari PDIP, Gerindra-PKS, dan Golkar-Nasdem-Demokrat. Partai-partai kecil seperti PKB, PAN, dan PPP harus melebur ke dalam tiga poros utama tersebut.

Namun, apabila PDIP ingin menjaga tradisi rasional seperti dua kali pilpres terakhir, Puan tidak akan dipaksakan harus menjadi wapres. PDIP akan bisa tetap punya presiden dari kadernya sendiri, dengan memilih Ganjar sebagai calonnya. Bila ini yang terjadi,  maka capresnya kemungkinan adalah Prabowo (Gerindra dan koalisinya) melawan Ganjar (PDIP, Golkar, PKB) dan Anies (PKS, Nasdem, Demokrat).

Pasangan calon yang kemungkinan muncul adalah Prabowo tanpa cawapres vs Ganjar-Airlangga (Khofifah) vs Anies-AHY (Ridwan Kamil). Dalam keadaan demikian mungkin saja Prabowo tidak dapat menarik partai lain untuk bergabung sehingga dia tidak bisa mencalonkan diri.

Bila Prabowo tidak jadi mencalonkan diri karena partai-partai lain tak ada yang mau mencalonkan, dan Gerindra tak bisa sendirian, maka calon-calon Presiden 2024 diisi oleh anak-anak bangsa yang semuanya dari generasi baru. Regenerasi politik terjadi secara alamiah dan politik.

Berita Lainnya