sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sandiaga Uno serukan jihad ekonomi saat Hari Santri

Saat peringatan Hari Raya Santri Nasional, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno menyerukan jihad ekonomi.

Sukirno
Sukirno Selasa, 23 Okt 2018 06:13 WIB
Sandiaga Uno serukan jihad ekonomi saat Hari Santri

Saat peringatan Hari Raya Santri Nasional, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno menyerukan jihad ekonomi.

Pasangan dari Prabowo Subianto itu menyeru jihad ekonomi setelah terinspirasi dari napak tilas 'Resolusi Jihad' dalam rangka Hari Santri Nasional yang diikutinya di Jombang, Jawa Timur.

"Perjalanan dari Jombang tadi sangat menginspirasi. Ini perjalanan yang menggetarkan hati saya," ujarnya, di sela peresmian Rumah Pemenangan Prabowo-Sandi di Surabaya, Jawa Timur, Senin (22/10) petang.

Makna napak tilas 'Resolusi Jihad', bagi dia sangat mendalam. "Semangat Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asyari inilah yang mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajah sehingga pecah perang 10 November 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia," ujarnya.

Hari dicetuskannya Resolusi Jihad itu sendiri kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional setiap tanggal 22 Oktober.

Ke depan, Sandi mengajak segenap pendukungnya untuk berbuat lebih baik lagi demi kemakmuran bangsa Indonesia.

"Mari kita lakukan Jihad Ekonomi. Apalagi barang-barang kebutuhan pokok saat ini harganya mahal. Generasi milenial cemas mencari lapangan kerja," katanya.

Karena itulah dia bersama Prabowo menjanjikan kebangkitan ekonomi. Kaum santri, Sandi menandaskan, harus menjadi penebar manfaat rahmatan lil alamin.

Sponsored

"Santri harus menciptakan lapangan kerja, bukan pencari kerja, yaitu dengan menggerakkan Santrinpreneur. Kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya," tuturnya.

Resolusi Jihad

Pasangan calon Presiden Prabowo Subianto serta calon Wakil Presiden Sandiaga Uno menghadiri acara napak tilas resolusi jihad yang digelar di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, bersamaan dengan Hari Santri 22 Oktober.

"Para ulama adalah pejuang bangsa, kemerdekaan. Jadi, ini sekaligus untuk mengingatkan generasi muda bahwa ulama itu juga nasionalis, yang memimpin langsung perjuangan," kata Prabowo saat di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Ia mengaku sengaja datang dalam acara napak tilas resolusi jihad di Kabupaten Jombang, sebagai bentuk menghargai jasa para pahlawan terutama para ulama. Resolusi jihad dicetuskan oleh KH Hasyim Asyari yang merupakan pengasuh PP Tebuireng, Kabupaten Jombang, yang juga didukung para ulama lainnya.

Perjuangan para ulama, kata dia, sangat luar biasa. Saat itu, Indonesia sudah mendeklarasikan diri untuk merdeka yang ditandai dengan Pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945. Proklamasi kemerdekaan adalah pertanda Indonesia merdeka setelah ratusan tahun berjuang melawan penjajahan, tidak menjadi budak bangsa lain.

Namun, setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, ternyata Indonesia masih menghadapi ancaman penjajahan dari tentara sekutu, salah satunya di Surabaya. Sehingga, para ulama akhirnya juga mengeluarkan resolusi jihad, yang meminta agar para santri ikut membantu para tentara melawan penjajah.

"Ujian setelah proklamasi itu di Jatim, Surabaya, tepatnya Oktober dan November 1945. Karena itu, resolusi jihad untuk mempertahankan kemerdekaan kita. Di bawah kekuatan asing yang luar biasa, menghadapi kekuatan tentara Inggris, untuk itu resolusi jihad bukti atas komitmen para ulama, para pemimpin dan pemuka agama Islam untuk cinta Tanah Air," kata Prabowo.

Prabowo juga mengaku bangga melihat para santri di abad 21 ini, yang tetap berdiri dengan tegak dan disiplin. Semangat mereka juga tidak kalah dengan para purnawirawan. Untuk itu, dirinya mengajak agar santri juga mengambil hikmah dari resolusi jihad.

"Marilah ambil hikmah resolusi jihad, mengenang dan menghormati ulama yang selalu dekat dengan rakyat, membela kepentingan rakyat. Gali pengalaman dan contoh para pendahulu untuk membela kepentingan bangsa dan negara," kata dia.

Prabowo datang bersamaan dengan Sandiaga Uno dan langsung disambut oleh Pengasuh PP Tebuireng, Kabupaten Jombang, KH Shalahudin Wahid di 'Ndalem'. Mereka mengadakan pertemuan secara tertutup. Setelah beberapa saat, mereka keluar dan ziarah ke makam mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur, KH Hasyim Asyari yang merupakan kakek Gus Dur, dan sejumlah pejuang kemerdekaan yang makamnya di area pondok.

Setelah itu, Prabowo dan Sandiaga ikut apel yang dihadiri para sejumlah pelajar dari berbagai daerah. Kegiatan dilakukan di area parkir dekat dengan makam Gus Dur. Namun, Gus Sholah, sapaan akrab KH Shalahudin Wahid tidak ikut serta di apel itu. (Ant).