logo alinea.id logo alinea.id

Bank Mandiri: BI punya peluang longgarkan moneter

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) memandang Bank Indonesia masih memiliki peluang untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Senin, 09 Sep 2019 18:31 WIB
Bank Mandiri: BI punya peluang longgarkan moneter

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) memandang Bank Indonesia masih memiliki peluang untuk melakukan pelonggaran kebijakan moneter. 

Alasannya, Bank Mandiri menilai stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga dengan tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah yang relatif stabil.

Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri Panji Irawan mengatakan, BI telah menurunkan suku bunga acuan BI-7 days revese repo rate selama dua bulan berturut-turut pada Juli dan Agustus masing-masing 25 basis poin menjadi 5,5%.

Dengan demikian, Bank Mandiri berharap kebijakan moneter ke depan akan lebih longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pelonggaran kebijakan moneter ini sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, di tengah kecenderungan perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan peningkatan ketidakpastian yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Panji di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9).

Panji pun menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging market lainnya. Pada kuartal II-2019, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,05%, sedangkan pada kuartal I-2019, sebesar 5,07%.

Panji melanjutkan, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I dan II memang di bawah ekspektasi banyak pihak. Namun menurutnya, pencapaian tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara lain seperti Turki yang mengalami kontraksi sebesar 1,5% pada kuartal II-2019.

"Selain itu, beberapa negara berkembang lainnya pada saat yang bersamaan juga mencatatkan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan Indonesia, antara lain Malaysia yang tumbuh 4,9%, Thailand 3,7%, Brasil 1,01%, dan Rusia 0,9%," ujar Panji.

Sponsored

Bank Mandiri juga memandang keseimbangan ekonomi internal yaitu inflasi, dan keseimbangan ekonomi eksternal yaitu kurs rupiah masih terjaga. Tingkat harga-harga umum atau inflasi masih terkendali. Laju inflasi bulanan pada Agustus tercatat sebesar 3,49%. Angka ini masih dalam rentang target Bank Indonesia.

Lalu, kurs rupiah pada kuartal I dan II tahun 2019 juga masih terkendali dengan nilai tukar sekitar Rp14.200 per dolar Amerika Serikat. Selain itu, aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi dan pasar saham masing–masing sebesar Rp116 triliun dan Rp59 triliun sampai akhir Agustus 2019, mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Bank Mandiri pun memperkirakan inflasi hingga akhir tahun 2019 sebesar 3,41% dan kurs rupiah akan berada pada rentang Rp14.200-Rp14.300 per dolar Amerika Serikat.