sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Analis: Dugaan saham gorengan Jiwasraya dan Asabri harus dibuktikan

PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) terbukti merugikan negara akibat berinvestasi pada aset yang bermasalah.

Annisa Saumi
Annisa Saumi Selasa, 14 Jan 2020 15:30 WIB
Analis: Dugaan saham gorengan Jiwasraya dan Asabri harus dibuktikan

Dua perusahaan asuransi milik pemerintah, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) diduga merugikan negara akibat berinvestasi pada aset yang bermasalah.  

Jiwasraya diketahui banyak melakukan investasi pada aset-aset berisiko tinggi untuk mengejar profit atau keuntungan tinggi. Dugaan praktik gorengan saham pun mencuat.

Beberapa saham yang tercatat dimiliki Jiwasraya antara lain di PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR), PT SMR Utama Tbk. (SMRU), PT PP Properti Tbk. (PPRO), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR), dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. (BIPI).

Selain itu, penempatan tidak langsung di antaranya ada di PT Prima Cakrawala Abadi Tbk. (PCAR), PT Eureka Prima Jakarta Tbk. (LCGP), PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk. (JGLE), PT Pool Advista Finance Tbk. (POLA), dan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM)

Sementara, Asabari juga diketahui bermain pada saham-saham gorengan. Praktik ini terkuak usai Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan adanya dugaan korupsi di atas Rp10 triliun dalam tubuh Asabri.

Beberapa saham yang sempat dimiliki Asabri adalah PT Bank Yudha Bhakti Tbk. (BBYB), PT Hanson International Tbk. (MYRX), PT Inti Agri Resources Tbk. (IIKP), PT Indofarma Tbk. (INAF), PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL), PT Prima Cakrawala Abadi Tbk. (PCAR), dan PT Alfa Energi Investama Tbk. (FIRE).

Perusahaan lain adalah PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), PT SMR Utama Tbk. (SMRU), PT Kimia Farma Tbk. (KAEF), PT Sidomulyo Selaras Tbk. (SDMU), dan PT Island Concepts Indonesia Tbk. (ICON).

Menanggapi hal ini, Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan aturan di industri asuransi memang tidak rigid seperti di industri pasar modal. Sehingga, investasi pada saham-saham gorengan bisa terjadi.

Sponsored

"Ada produk yang memberikan jaminan fixed rate return yang relatif lebih tinggi. Tapi ketika mereka investasi, investasinya di saham berisiko tinggi. Sehingga kalau kita lihat, ada risiko di sana," ujar Hans ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (14/1).

Hans mengatakan, investor saat ini harus berhati-hati melihat fenomena tersebut. Selain itu, Hans meminta otoritas terkait melakukan evaluasi dan segera membuktikan dugaan praktik saham gorengan tersebut.

Hans melihat apabila fund managers Jiwasraya dan Asabri melakukan perhitungan dengan saksama atas investasi yang dilakukan dan memiliki kertas kerja yang mampu dipertanggungjawabkan, maka investasi yang dilakukan kedua asuransi itu tak bisa dianggap sebagai satu kesalahan.

Sebaliknya, apabila ditemukan indikasi adanya permainan, ada sesuatu yang memengaruhi fund managers, atau memengaruhi pihak lain sehingga memasukkan saham ke saham-saham gorengan, hal tersebut baru bisa dikatakan sebagai satu kesalahan.

"Dan tentu ini prosesnya tak gampang. Artinya ini sudah merupakan kasus kriminalitas," ujar Hans.

Dalam kasus Jiwasraya, lanjut Hans, penyidik perlu melihat kapabilitas fund managers dan strateginya dalam mengambil keputusan membeli saham-saham yang masuk portofolio sehingga menimbulkan kerugian.

Hans menuturkan, sejak awal pengelolaan investasi asuransi harus prudent. Sebab, apabila periode saat ini investasi asuransi mengalami kerugian, ke depan, asuransi harus melipatgandakan lagi target mereka.

"Artinya kalau biasanya mencari target 8%, tahun depan karena kita rugi, harus double. Ini yang ketika dibiarkan, ketika diakumulasi menjadi risiko," ujar dia.

Hans pun mengimbau, jika investor ingin membeli saham, maka terlebih dahulu harus mengerti terkait bisnis perusahaan, prospek, serta fundamentalnya. Hans mengingatkan kenaikan harga saham harus didukung oleh fundamental perusahaan.

"Ketika tidak didukung fundamental yang baik atau prospek yang baik, kemungkinan kita harus mencurigai, saham mungkin saja dimanipulasi," katanya. 

Berita Lainnya