logo alinea.id logo alinea.id

IHSG dan rupiah rontok akibat perang dagang AS-China

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dan rupiah kompak rontok akibat respons perang dagang Amerika Serikat dan China.

Annisa Saumi Soraya Novika
Annisa Saumi | Soraya Novika Rabu, 15 Mei 2019 07:11 WIB
IHSG dan rupiah rontok akibat perang dagang AS-China

Indeks harga saham gabungan (IHSG) dan rupiah kompak rontok akibat respons perang dagang Amerika Serikat dan China. Meski demikian, pada perdagangan hari ini, Rabu (15/5), IHSG diprediksi akan menguat.

Tekanan jual diperkirakan akan melemah sehingga ada potensi rebound dalam jangka pendek. "Dari dalam negeri, investor akan menanti rilis data neraca perdagangan untuk bulan April 2019," kata analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan, Selasa (14/5).

Senada dengan Dennies, menurut analis Indo Surya Sekuritas William Surya Wijaya, rilis data perekonomian neraca perdagangan akan turut memberi warna terhadap pola gerak IHSG pada hari ini.

Sementara itu, capital inflow yang masih terus berlangsung, kata William, sejak awal tahun juga akan turut menopang pola gerak IHSG hingga jangka panjang. William mengatakan hari ini potensi kenaikan masih terlihat pada pergerakan IHSG.

Pada perdagangan Selasa (14/5), IHSG merosot sebesar 1,05% atau ditutup melemah ke level 6.071,2. Sektor industri kimia dasar yang turun sebesar 1,75% dan keuangan tertekan 1,37% menghantam IHSG.

Untuk hari ini, William menyarankan investor untuk mencermati saham-saham seperti  SMRA, ASRI, PWON, TLKM, EXCL, BBCA, BBNI, BJTM, WIKA dan WSBP. 

Terpisah, analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan IHSG yang bergerak melemah juga dipengaruhi aksi jual akibat sentimen global, terutama merespons aksi balasan pengenaan tarif dari China terhadap barang asal Amerika Serikat.

"Imbal hasil obligasi naik 1 basis poin ke level 8,06%. Investor asing tercatat net sell cukup besar Rp998,91 miliar," ujar Lanjar.

Sponsored

Rupiah terdepresiasi

Sementara itu, rupiah juga menurun 0,08% atau tertahan di level Rp14.434 per dolar AS setelah rangkaian intervensi dalam pembelian obligasi sejak awal pekan.

Lanjar Nafi mengaku pesimisme akan adanya pemangkasan suku bunga, di tengah gejolak tensi perdagangan global mendorong imbal hasil obligasi yang kian melonjak.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution melihat adanya dampak secara langsung yang diterima Indonesia atas perang dagang antara AS dan China belakangan ini. Salah satunya merembet hingga kepada pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS sejak April 2019 lalu.

Sebagaimana mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, Selasa (14/5), rupiah diperdagangkan pada posisi Rp14.444 per dolar AS atau melemah dari hari sebelumnya Rp14.362 per dolar AS. 

"Situasi internasional sedang tidak kondusif, dan kalau tidak kondusif, selalu yang terjadi adalah negara emerging market dirugikan," ujar Darmin saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (14/5).

Kendati begitu, ia memastikan kondisi kurs rupiah saat ini belum mengkhawatirkan, termasuk bagi industri riil. Meskipun memang, ia tak memungkiri bila pelemahan rupiah masih bisa berlanjut lagi. 

"Kalau mengkhawatirkan sih tidak. Tapi tendensi melambatnya akan muncul perlahan-lahan, dia akan makin lambat makin lambat. Tapi tidak kemudian membuat gejolak yang tajam. Ya memang situasinya lebih dinamis, tapi tidak apa-apa, memang dunia sedang bergerak," katanya. 

Pelemahan nilai tukar rupiah di bawah fundamental (undervalue) tersebut juga terpangaruh oleh faktor internal.

"Ya saat ini kan lagi momennya, karena sudah bulan puasa. Kalau pelemahan pada bulan April pastilah ada hubungannya dengan pembagian dividen yang sedang ramai, juga kan laporan keuangan sudah ditutup bulan itu," tuturnya.

Akan tetapi, Darmin tak berbicara banyak soal langkah yang akan dilakukan pemerintah untuk mengatasi pelemahan tersebut.

"Yang jelas, pemerintah akan terus memantau kondisi ekonomi global dan mengantisipasinya dengan menguatkan ekonomi domestik," ucapnya.

Perang dagang AS dan China dimulai dari ancaman Trump terhadap China yang bakal menaikkan tarif bea impor nya terhadap produk China dari 10% menjadi 25% atau naik hingga US$325 miliar. Ancaman tersebut kemudian resmi diberlakukan per 10 Mei 2019 kemarin. 

Adapun keputusan itu diberlakukan sebab Trump merasa China telah melanggar kesepakatan dagang kedua negara tersebut yakni meningkatkan jumlah barang impornya. 

Aksi tersebut, ternyata malah memperlebar peluang perang dagang kedua negara tersebut. Di mana, per hari yang sama, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengumumkan negaranya bakal memberlakukan aksi balas yang serupa kepada AS yaitu menaikkan tarif impor atas barang AS senilai US$60 miliar per 1 Juni 2019 mendatang.