logo alinea.id logo alinea.id

Jumlah pengangguran turun jadi 6,82 juta orang pada Februari 2019

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Soraya Novika
Soraya Novika Senin, 06 Mei 2019 13:21 WIB
Jumlah pengangguran turun jadi 6,82 juta orang pada Februari 2019

Jumlah pengangguran terbuka di Indonesia pada Februari 2019 mencapai 6,82 juta orang, atau hanya 5,01% dari total angkatan kerja aktif sebanyak 129,36 juta orang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

"Tingkat pengangguran terbuka ada Februari terus turun menjadi 5,01% dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 5,13%," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/5).

Dari sisi daerah tempat tinggal, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di perkotaan tercatat lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan. Pada Februari 2019, TPT di wilayah perkotaan sebesar 6,30%, sedangkan TPT di wilayah perdesaan hanya sebesar 3,45%. 

Dibandingkan setahun yang lalu, baik di perkotaan maupun di perdesaan TPT mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,04% poin dan 0,27% poin.

Dilihat dari tingkat pendidikan pada Februari 2019, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih tertinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,63%. TPT tertinggi berikutnya terdapat pada tingkat Diploma I/II/III sebanyak 6,89%. 

"Dengan kata lain, ada tenaga kerja tidak terserap terutama pada tingkat pendidikan SMK dan Diploma I/II/III. Mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja,” kata Suhariyanto

Hal ini, lanjut Suhariyanto, dapat dilihat dari TPT SD ke bawah yang nilainya paling kecil di antara semua tingkat pendidikan, yaitu sebesar 2,65%. 

Apabila dibandingkan kondisi setahun lalu, penurunan pengangguran terjadi pada semua tingkat pendidikan. Penurunan pengangguran sebanding dengan kenaikan jumlah angkatan kerja pada Februari 2019 sebanyak 2,24 juta orang atau menjadi 136,18 juta orang. Naik cukup tinggi dibandingkan Februari 2018 yang sebesar 133,94 juta orang.

Sponsored

Demikian pula dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang naik sebesar 0,12% poin atau menjadi 69,32% dibanding 2018. "Peningkatan TPAK memberikan indikasi adanya potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja yang juga meningkat," katanya.

Sebanyak 74,08 juta orang atau 57,27% dari total angkatan kerja bekerja pada kegiatan informal. Akan tetapi, selama setahun terakhir (Februari 2018–Februari 2019), pekerja informal turun sebesar 0,95% poin.

Persentase tertinggi pada Februari 2019 adalah pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu) sebesar 69,96%. Sedangkan penduduk yang bekerja dengan jam kerja 1–7 jam memiliki persentase yang paling kecil, yaitu sebesar 2,69%. 

Sementara itu, pekerja tidak penuh terbagi menjadi dua, yaitu pekerja paruh waktu sebanyak 22,67% dan pekerja setengah penganggur sebanyak 7,37%.

Upah buruh

Sementara itu, rata-rata upah buruh berdasarkan hasil Sakernas Februari 2019 ialah sebesar Rp2,79 juta.

Dari 17 kategori lapangan pekerjaan, tujuh sektor berada pada skala terendah rata-rata upah buruh nasional. Rata-rata upah buruh tertinggi berada di kategori pertambangan dan penggalian, yaitu sebesar Rp5,08 juta. Sedangkan yang terendah berada di kategori jasa lainnya, yaitu sebesar Rp1,68 juta. 

Rata-rata upah buruh laki-laki sebesar Rp3,05 juta dan rata-rata upah buruh perempuan sebesar Rp2,33 juta. Rata-rata upah buruh berpendidikan universitas sebesar Rp4,34 juta, sedangkan buruh berpendidikan SD ke bawah sebesar Rp1,73 juta.

"Jika dilihat menurut jenis kelamin, terdapat perbedaan upah antara buruh laki-laki dan perempuan. Upah buruh laki-laki selalu lebih tinggi daripada perempuan di setiap jenjang pendidikan yang ditamatkan," tutur Suhariyanto.