sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Skandal salah urus Jiwasraya dan ASABRI

Dampak sistemik yang ditimbulkan dari kasus Jiwasraya dan ASABRI disinyalir dapat memerosotkan kepercayaan publik terhadap asuransi.

Fajar Yusuf Rasdianto
Fajar Yusuf Rasdianto Selasa, 21 Jan 2020 06:06 WIB
Skandal salah urus Jiwasraya dan ASABRI

Problematika yang membelit PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) alias ASABRI sejatinya berasal dari sumber masalah yang sama. 

Kedua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) 'sakit' itu tersungkur lantaran tata kelola manajemen investasi yang keliru.

Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengatakan, baik Jiwasraya maupun ASABRI sama-sama terjebak dalam permainan ‘saham gorengan’ atau saham-saham lapis ketiga dengan fundamental kurang baik dan produk reksa dana berkinerja negatif.

“Karena mereka menjanjikan bunga yang tinggi kepada nasabah. Maka mereka harus menginvestasikan pada saham-saham yang memberikan return yang tinggi tapi juga dengan risiko yang tinggi,” tutur Irvan saat berbincang dengan reporter Alinea.id pada pertengahan pekan lalu.

Dalam hal ini, Jiwasraya ditengarai telah memainkan saham di 14 reksa dana dengan total investasi mencapai Rp9 triliun dan nilai kepemilikan sebesar 50%-100% pada masing-masing emiten. Sebanyak 99,64% dana kelolaan investasi Jiwasraya dilimpahkan pada instrumen saham.

Pertaruhan terbesar Jiwasraya jatuh pada perusahaan perdagangan ikan hias, PT Inti Agri Resources Tbk. (IIKP) dengan total investasi sebesar Rp6 triliun. Nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan aset yang dimiliki IIKP sendiri.

Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), IIKP hanya memiliki aset Rp332 miliar dan kerap mengalami kerugian. Perusahaan ini hanya pernah mencatat keuntungan pada 2008. Setelahnya, perusahaan yang dikomandoi Heru Hidayat selaku presiden direktur itu terus merugi.

Berlaku sama untuk ASABRI. Perusahaan asuransi sosial untuk TNI dan Polri ini memegang saham 17 perusahaan. Portofolio saham terbesar ASABRI dipegang PT Hanson International Tbk. (MYRX) sebanyak 4,7 miliar saham.

Sponsored

Pada akhir 2017, saham dengan kode MYRX itu melorot 56,1% dari Rp114 menjadi Rp50 per lembar. Mayoritas harga saham yang dimiliki ASABRI lainnya turun 50%-90%.

Kesalahan tata kelola investasi itu telah membawa kerugian untuk Jiwasraya hingga Rp12,4 triliun dan ASABRI sebesar Rp10 triliun.

Komisaris PT Hanson International Tbk. (MYRX) Benny Tjokrosaputro berjalan meninggalkan gedung bundar Kejaksaan Agung usai diperiksa sebagai saksi di Jakarta, Senin (6/1). Benny Tjokrosaputro diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). / Antara Foto

Investor asing merangsek

Dampak kerugian akhirnya memaksa Menteri BUMN Erick Thohir mengambil sejumlah langkah penyelamatan (exit plan). Salah satu upaya penyelamatan yang sedang digodok adalah melepas saham PT Jiwasraya Putra, anak PT Jiwasraya (Persero) kepada investor asing.

Tak tanggung-tanggung, delapan perusahaan asing dikabarkan tertarik bergabung sebagai mitra strategis investasi Jiwasraya. Namun sampai sekarang, belum diketahui secara pasti nama-nama calon investor tersebut.

Terlepas dari nama-nama calon investor itu, Irvan mengatakan, kemungkinan besar Jiwasraya hanya akan melakukan divestasi sebesar 40% dari total saham yang dimiliki.

“Yang dilepas itu hanya sebagian saham saja. Mayoritas sekitar 60% itu akan dipegang Jiwasraya,” katanya.

Hal ini, tambahnya, akan jadi langkah yang paling muskil dilakukan untuk menyelamatkan Jiwasraya. Namun dengan catatan, Jiwasraya tidak lagi terlibat dalam konflik kepentingan dan lebih teliti berinvestasi.

“Harus menghindari dari konflik kepentingan. Terus ada check and balances. Ketiga soal risk management jadi portofolianya harus hati-hati,” tegas dia.

Pelepasan saham PT Jiwasraya Putra kepada investor asing juga mendapat tanggapan dari Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

Menurut Togar, kepemilikan asing di perusahaan asuransi jiwa tidak akan berpengaruh banyak terhadap investor lokal. (Untuk laporan lengkap industri asuransi jiwa RI dikuasai asing, bisa disimak di sini).

Toh, katanya, selama ini perusahaan asuransi jiwa justru kesulitan mendapatkan rekanan atau investor dalam negeri untuk meningkatkan kapasitas modal.

“Investor dalam negeri dinilai kurang berminat mengalokasikan modal yang besar untuk asuransi yang merupakan sektor jasa keungan padat modal, padat teknologi, dan berjangka panjang,” terangnya melalui pesan singkat.

Pernyataan tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran sejumlah pihak akan tenggelamnya peran anak bangsa di tengah kepungan perusahaan asuransi jiwa milik investor asing, jika PT Jiwasraya Putra dijual. Terlebih saat ini, potensi pasar asuransi jiwa di Indonesia kian gemuk dan menggiurkan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per November 2019, total aset industri asuransi jiwa di Indonesia mencapai Rp543,88 triliun. Angka ini bisa terus bertambah seiring dengan semakin meningkatnya pemahaman literasi keuangan masyarakat.

Skandal ASABRI dan Jiwasraya turut andil dalam hal ini. Di satu sisi, dampak sistemik yang ditimbulkan oleh dua kasus tersebut disinyalir bakal memerosotkan kepercayaan publik terhadap perusahaan asuransi, tapi di sisi berbeda justru bisa membuka mata semua pihak akan literasi keuangan yang lebih baik.

Untuk itu, terlepas dari masalah yang dihadapi dua perusahaan asuransi nasional tersebut, Togar mengaku tetap optimistis industri asuransi jiwa di Indonesia akan terus mengalami pertumbuhan positif tahun ini.

“Pendapatan premi di tahun 2020 diperkirakan akan meningkat sekitar 10%-14% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Togar.

Hal senada juga disampaikan oleh Antony Japari, Direktur Utama PT Capital Life Indonesia. Antony mengaku tetap optimistis menyongsong 2020 dengan kinerja yang lebih baik dari sebelumnya.

“Optimistis tahun depan bisa mencapai peningkatan 15%-20%, serta yang terpenting penambahan jangkauan wilayah layanan di seluruh Indonesia” tuturnya melalui rilis resmi pertengahan Desember tahun lalu.

Setali tiga uang dengan Capital Life, PT Asuransi Allianz Life Indonesia juga yakin bahwa pertumbuhan premi asuransinya tahun ini bisa melampui pasar dan kompetitor. Direktur Allianz Life Indonesia, Karin Zulkarnaen optimistis perusahaan asal Jerman ini bakal tetap mempertahankan posisinya sebagai loyalty leader.

“Untuk mencapai hal ini, Allianz Life Indonesia memperkuat kanal distribusi penjualan, baik itu keagenan, bancassurance, syariah, digital dan emerging consumer,” ungkapnya melalui keterangan tertulis kepada Alinea.id.

Akan tetapi, lanjutnya, belajar dari problem yang menjerat ASABRI dan Jiwasraya, ke depan pihaknya akan lebih berhati-hati dalam mengelola dana investasi untuk produk unit link yang ditawarkan kepada nasabah. Caranya, Allianz akan mengalokasikan investasinya ke instrumen saham, obligasi, deposito, dan reksa dana yang disesuaikan dengan strategi masing-masing unit link.

Investasi itu nantinya akan disesuaikan dengan pilihan masing-masing nasabah, tergantung profil risiko yang akan dihadapi. Nasabah diberikan fasilitas switching agar bisa mengubah dana investasinya dari satu instrumen ke instrument lainnya.

“Seluruh jenis investasi tersebut di-update setiap bulan, agar nasabah juga dapat memantau kinerjanya secara transparan,” tukas ia.

Jiwasraya dan ASABRI terkini

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkapkan ada persamaan modus operandi dalam dugaan korupsi Jiwasraya dengan ASABRI.

Selain modus, kata Mahfud, tidak menutup kemungkinan ada beberapa orang yang sama yang terlibat dalam dugaan kasus rasuah di Asabri.

"Modus operandinya sama. Akan mungkin ada beberapa orangnya yang sama, tapi nantilah yang penting itu akan dibongkar," kata Mahfud pekan lalu.

Mahfud bilang, modal ASABRI ambrol Rp17,6 triliun dalam setahun terakhir. Namun, likuiditas ASABRI masih cukup untuk menunaikan kewajibannya.

Saat ini, Kapolri Jendral Idham Azis, memerintahkan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri membentuk tim gabungan, guna menangani kasus dugaan korupsi ASABRI. 

Belakangan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan BPK menyatakan, bakal turut mengusut kasus ini. "Kita akan melakukan joint investigation," kata Pelaksana Tugas (Plt) Juru bicara Bidang Penindakan KPK, Ali Fikri.

Sementara, pimpinan ASABRI membela diri. Direktur Utama Sonny Widjaja, menegaskan, tidak ada praktik lancung diperusahaan yang dinakhodainya.

Dirinya pun meminta nasabah tak cemas dengan uangnya. "Saya menjamin, bahwa uang kalian yang dikelola di ASABRI aman, tidak hilang, dan tidak dikorupsi," ucapnya.

Dalam laporan keuangan yang terakhir dipublikasikan pada akhir 2017, total aset ASABRI mencapai Rp44,8 triliun. Pendapatan perseroan saat itu mencapai Rp4,52 triliun dengan laba bersih Rp943,8 miliar.

Sementara itu, Kejaksaan Agung telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus dugaan korupsi Jiwasraya. Tiga tersangka diketahui merupakan bekas pejabat Jiwasraya, yakni mantan Direktur Utama Hendrisman Rahim, bekas Kepala Investasi dan Divisi Keuangan Jiwasraya Syahmirwan dan eks Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo.

Selain dari internal, ada dua tersangka dari pihak swasta. Salah satunya adalah konglomerat Benny Tjokrosaputro. Dia merupakan Komisaris PT Hanson Internasional Tbk. 

Satu tersangka lain adalah Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM) Heru Hidayat. Kelima tersangka tersebut menjalani tahanan di tempat yang berbeda.

Berdasarkan catatan direksi baru, Jiwasraya tak dapat membayar klaim polis yang jatuh tempo pada periode Oktober-November 2019 sebesar Rp12,4 triliun. Kejaksaan Agung menyebut kerugian negara akibat dugaan korupsi dalam pengelolaan dana investasi Jiwasraya sekitar Rp13,7 triliun pada Agustus 2019.

Dalam laporan keuangan Jiwasraya per triwulan III-2019, total aset mencapai Rp25 triliun. Sedangkan saat bersamaan, total utang Jiwasraya mencapai Rp50 triliun.

Infografik rangkuman kasus yang membelit Jiwasraya dan ASABRI. Alinea.id/Dwi Setiawan

Berita Lainnya