logo alinea.id logo alinea.id

Surplus neraca perdagangan Februari justru diwaspadai, kenapa?

Darmin Nasution dan Sri Mulyani mengatakan pemerintah mewaspadai surplus neraca perdagangan pada Februari 2019.

Eka Setiyaningsih Soraya Novika
Eka Setiyaningsih | Soraya Novika Jumat, 15 Mar 2019 16:35 WIB
Surplus neraca perdagangan Februari justru diwaspadai, kenapa?

Neraca Perdagangan Indonesia pada Februari 2019 tercatat surplus senilai US$330 juta dengan nilai ekspor US$12,53 miliar dan impor US$12,2 miliar. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan surplus ini justru memaksa pemerintah untuk bekerja keras mempertahankannya hingga akhir tahun. Sebab, hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

"Kelihatannya masih perlu bekerja lebih keras lagi untuk membuat neraca perdagangan dan transaksi berjalan bisa lebih konsisten dan lebih baik," kata Darmin di Jakarta, Jumat (15/3).

Menurut Darmin, surplus di awal tahun memang menjadi prestasi perekonomian yang berulang bagi Indonesia. Hal itu juga terjadi pada 2018 lalu, neraca perdagangan Maret 2018 tercatat surplus US$1,09 miliar, dengan nilai ekspor sebesar US$15,58 miliar dan impor US$14,49 miliar.

Dengan demikian, siklus awal tahunan ini belum bisa dijadikan acuan pemerintah untuk memastikan keberlanjutan surplus neraca perdagangan. Apalagi, kata Darmin, situasi ekonomi global yang belum stabil.

"Situasi dunia masih terus berubah, belum pulih. Ekspor kita ke tiga negara utama yang tadinya positif sekarang jadi negatif seperti yang terjadi dengan Jepang," ucapnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Indonesia ke tiga negara utama mengalami penurunan besar pada Februari dibandingkan Januari, yakni  ekspor ke AS turun 15,79%, China 11,07%, dan Jepang turun 13,57%.

Sementara, kata Darmin, Indonesia juga harus wasapada terhadap angka impor yang menurun. Darmin menyebut penyebab impor turun di Februari sebagian besar dipengaruhi oleh musim. Untuk pembangunan infrastruktur yang mengandalkan bahan impor, sebagian besar masih berjalan dengan baik.

Kendati demikian, Darmin menjelaskan efek posisi impor tersebut tidak bisa dilihat pengaruhnya dalam jangka pendek. 

Sponsored

"Bisa berpengaruh dalam jangka waktu satu hingga dua tahun ke depan. Artinya, pemerintah masih memiliki ruang untuk memperbaiki neraca perdagangan sekaligus tak kehilangan momentum menjaga pertumbuhan ekonomi," katanya.

Perlu pendalaman

Dalam kesempatan lain,  Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan pemerintah justru mewaspadai neraca perdagangan Februari 2019 yang mengalami surplus, setelah defisit pada bulan sebelumnya.

Menurut Sri Mulyani, neraca perdagangan ini positif karena kedua indikator penyusunnya yakni ekspor dan impor mengalami penurunan yang dalam. 

"Kita akan tetap terus waspada,” kata dia, seperti dilansir Antara.

Sri Mulyani juga mengatakan pemerintah akan mendalami faktor-faktor yang menyebabkan neraca perdagangan Februari surplus. Menurut dia, penyebabnya bisa karena faktor musiman atau fundamental perekonomian Indonesia yang terdampak pelemahan ekonomi dunia.

"Kita juga harus lihat dampak dari penurunan impor itu apakah diganti dengan substitusi impor, sehingga seluruh kebutuhan bahan baku barang modal itu masih tetap berjalan," katanya.

Apabila tidak ada substitusi impor, lanjut Sri Mulyani, hal tersebut berarti sektor-sektor produksi yang menggunakan bahan baku dan barang modal itu, akan mengalami dampak dari penurunan impor tersebut.

"Nanti kami akan lihat statistiknya lebih dalam, tapi paling tidak dengan surplus ini memberikan suatu positive signal. Namun pekerjaan rumahnya masih banyak dan harus kita lakukan," ujar Menkeu.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan Februari 2019 mengalami surplus US$330 juta, karena impor yang turun tajam.

Nilai ekspor pada Februari 2019 mencapai US$12,53 miliar atau turun 10,03% jika dibandingkan Januari 2019, karena menurunnya ekspor migas maupun nonmigas.

Sementara, nilai impor pada Februari 2019 senilai US$12,2 miliar atau turun tajam hingga 18,61% jika dibandingkan dengan Januari 2019.

Surplus hanya semu

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai surplus ini adalah semu.

"Kalau surplus berkualitas, impor turun dan ekspor naik. Tapi kalau semu, impor turun lebih besar dari penurunan ekspor," kata Bhima kepada Alinea.id, Jumat (15/3).

BPS mencatat, penurunan ekspor nonmigas pada Februari 2019 terjadi ke negara terbesar yaitu China, AS, dan Jepang. Bhima mengatakan, hal itu disebabkan oleh dampak perang dagang antara AS dan China. Sementara faktor musiman karena pada Februari di China libur imlek cukup lama.

“Produk olahan yang potensial sawit, alas kaki perlu dicarikan pasar baru. Tidak bisa mengandalkan pasar Amerika Serikat (AS) dan China yang sedang berada dalam perang dagang," ujar Bhima.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah perlu melakukan pengendalian impor khususnya gula dan kembang gula yang tercatat naik signifikan 216,99% pada Februari 2019 dibandingkan bulan sebelumnya.

"Hambatan tarif maupun kuota impor diperlukan selain untuk jaga neraca dagang juga lindungi produsen lokal," kata dia.

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA FEBRUARI 2019 . Nilai ekspor Indonesia Februari 2019 mencapai US$12,53 miliar atau menurun 10,03 persen dibanding ekspor Januari 2019. Demikian juga dibanding Februari 2018 menurun 11,33 persen . Ekspor nonmigas Februari 2019 mencapai US$11,44 miliar, turun 9,85 persen dibanding Januari 2019. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas Februari 2018, turun 10,19 persen . Nilai impor Indonesia Februari 2019 mencapai US$12,20 miliar atau turun 18,61 persen dibanding Januari 2019. Demikian juga bila dibandingkan Februari 2018 turun 13,98 persen . Impor nonmigas Februari 2019 mencapai US$10,65 miliar atau turun 20,14 persen dibanding Januari 2019 dan turun 10,89 persen jika dibanding Februari 2018 . Info selengkapnya dapat diunduh pada tautan berikut ini: https://laci.bps.go.id/s/lfOS12GLRI9Xedi #GerakanCintaData #rilisbps

A post shared by Badan Pusat Statistik (@bps_statistics) on