logo alinea.id logo alinea.id

WIKA bidik kontrak luar negeri Rp10 triliun

Emiten BUMN konstruksi PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) membidik kontrak dari luar negeri senilai Rp10 triliun pada 2019.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Kamis, 28 Mar 2019 01:47 WIB
WIKA bidik kontrak luar negeri Rp10 triliun

Emiten BUMN konstruksi PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA) membidik kontrak dari luar negeri senilai Rp10 triliun pada 2019.

Direktur Operasi III Wijaya Karya Destiawan Soewardjono mengatakan perseroan membidik kontrak (order book) infrastruktur senilai Rp10 triliun dari proyek luar negeri sepanjang 2019. 

WIKA yang kini tergabung dalam holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Perumahan tersebut saat ini memiliki order book proyek luar negeri masih sekitar Rp7 triliun.

"Cita-cita kami sebenarnya ingin order book luar negeri bisa mencapai US$1 miliar," katanya di Jakarta, Rabu (27/3).

Destiawan mengatakan, peluang pasar jasa konstruksi di luar negeri sebenarnya cukup besar. Sehingga, perusahaan tengah merambah pasar di Benua Afrika. Salah satunya melalui proyek pembangunan 3.950 unit rumah bersubsidi (logement) di Aljazair. 

Dalam proyek tersebut, perusahaan akan membangun 1.700 unit rumah di Baraki dan El-Harrach wilayah Algier dan 2.250 unit rumah di Ain Defla dan Khemis Miliana di wilayah Bilda.

Selain Aljazair, perusahaan juga mengincar proyek pembangunan rel kereta api bersama PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA dan PT Len Industri (Persero) untuk pembangunan proyek rel kereta api sepanjang 1.000 kilometer (km) di sejumlah negara di Afrika Barat.

"Afrika itu beberapa negara, saya enggak tahu persis namanya, kalau enggak salah Senegal, Nigeria, kita (garap) Afrika Barat lah. Afrika potensial sekali, karena untuk jaringan railway di Afrika banyak sekali," ujar Destiawan.

Sponsored

Adapun total nilai proyeknya berkisar Rp40 triliun karena mencakup kegiatan konstruksi, penyediaan sarana dan prasarana, hingga sistem.

"Mungkin Rp40 triliun karena ini komplet, paket bukan track-nya saja. Kerja samanya WIKA untuk konstruksinya, INKA untuk rolling stock, gerbong sama lokomotifnya, kemudian Len untuk sistemnya," ucap dia.

Menurut Destiawan, untuk masuk ke pasar Afrika relatif mudah. Namun, pemerintah setempat tidak memiliki dana likuid sehingga pembayaran dilakukan bertahap. 

Selain itu, emiten bersandi saham WIKA tersebut juga mendapatkan proyek pembangunan jalan dan jembatan di Malaysia, Filipina, Timor Leste dan Dubai Uni Emirat Arab (UAE). Dalam menjalankan proyek-proyek tersebut, perusahaan menggandeng mitra perusahaan lokal untuk mengurangi risiko.

Sebagai informasi, WIKA baru saja mendapat kredit dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) untuk membangun perumahan di Aljazair senilai Rp187,7 miliar.

Pada perdagangan Rabu (27/3) saham WIKA ditutup melejit 5,58% sebesar 110 poin ke level Rp2.080 per lembar. Kapitalisasi pasar saham WIKA mencapai Rp18,65 triliun dengan imbal hasil 24,97% dalam setahun.