Dunia / Korea Selatan

AS jual pesawat militer dan rudal ke Korea Selatan senilai US$2,6 miliar

Ada enam pesawat pengintai dan 64 rudal Patriot yang disepakati dalam penjualan ini.

AS jual pesawat militer dan rudal ke Korea Selatan senilai US$2,6 miliar Ilustrasi pesawat patroli AS. Wikipedia/Public Domain

Amerika Serikat telah menyetujui kesepakatan penjualan pesawat patroli dan rudal patriot dengan nilai total mencapai US$2,6 miliar. 

Kementerian Luar Negeri AS pada Kamis (13/9) menjelaskan bahwa perjanjian tersebut di antaranya pembelian enam pesawat patroli P-8A senilai US$2,1 miliar dan 64 rudal Patriot seharga US$501 juta.

Jika disetujui oleh Kongres, penjualan pesawat ini akan meningkatkan kapasitas armada pengintai udara Korea Selatan yang sudah lebih dari 25 tahun menggunakan P-3 buatan AS.

"Penjualan ini akan mendukung kebijakan luar negeri AS dan tujuan keamanan nasional dengan meningkatkan kemampuan Angkatan Laut Korea Selatan untuk menyediakan pertahanan nasional dan kontribusi signifikan bagi operasi koalisi," ungkap pernyataan Kementerian Luar Negeri AS.

Kementerian Luar Negeri AS menambahkan, pembelian sistem rudal Patriot akan memungkinkan Korea Selatan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan rudalnya, mempertahankan integritas teritorialnya, serta mencegah ancaman terhadap stabilitas regional. Selain itu, juga akan meningkatkan kemampuan pertahanan militer Korea Selatan untuk mengantisipasi agresi musuh dan melindungi sekutu yang berlatih dan beroperasi dalam perbatasan Korea Selatan.

P-8A adalah pesawat maritim, patroli dan pengintaian terbaru yang diproduksi AS. Sebagai pesawat multi-misi, P-8A dirancang anti-kapal selam, dan perang anti-permukaan. Intelijen, pengawasan, dan pengintaian merupakan misi P-8A.

Sebagai bagian dari penjualan, Korea Selatan juga akan menerima radio taktis, navigasi dan sensor peringatan rudal dini.

Jual beli pesawat P-8A disebut-sebut sebagai upaya baru oleh AS untuk menegakkan sanksi PBB terhadap Korea Utara, khususnya pemantauan terhadap kapal-kapal yang melakukan transfer ilegal minyak ke tanker Korea Utara di Laut China Timur.

AS dikabarkan telah mengerahkan pesawat dan kapal permukaan untuk mendeteksi dan mengganggu kegiatan tersebut, namun Washington belum terlalu terbuka soal tindakan ini.

Pembicaraan denuklirisasi antara Korea Utara dan Amerika Serikat saat ini mandek. Namun, Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders pada Senin (10/9) menekankan bahwa Presiden Donald Trump terbuka untuk melakukan pertemuan lain dengan Kim Jong-un.

Sebelumnya, penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, mengatakan bahwa presiden AS telah mencoba membukakan pintu bagi Kim Jong-un untuk melakukan denuklirisasi. Namun, menurutnya, Washington masih menunggu langkah yang akan diambil Pyongyang.

 

Sumber: CNN


Berita Terkait