sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Cegah penyebaran wabah Coronavirus baru, Wuhan diisolasi

Coronavirus baru yang muncul pada akhir tahun lalu diduga berasal dari satwa liar yang diperdagangkan secara ilegal di Kota Wuhan.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Kamis, 23 Jan 2020 13:41 WIB
Cegah penyebaran wabah Coronavirus baru, Wuhan diisolasi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 76981
Dirawat 36636
Meninggal 3656
Sembuh 36689

China mengisolasi Kota Wuhan di Provinsi Hubei, yang dianggap sebagai pusat penyebaran coronavirus jenis baru. Otoritas kesehatan global khawatir laju penularan akan meningkat cepat menyusul libur Tahun Baru Imlek selama sepekan yang membuat jutaan warga China bepergian baik di dalam maupun luar negeri.

Coronavirus baru yang muncul pada akhir tahun lalu diduga berasal dari satwa liar yang diperdagangkan secara ilegal di pasar hewan di Kota Wuhan.

Media pemerintah melaporkan, otoritas Kota Wuhan akan menutup seluruh jaringan transportasi mulai Kamis (23/1). Kota yang berpenduduk sekitar 11 juta orang itu adalah pusat transportasi, industri, dan komersial utama di China tengah.

Pemerintah mendesak warga untuk tidak meninggalkan Wuhan tanpa keadaan khusus.

Bertolak belakang dengan kerahasiaannya terkait Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) pada 2002-2003, yang menewaskan hampir 800 orang, pemerintah China kali ini memberikan pembaruan rutin untuk menghindari kepanikan di tengah libur Imlek.

Komisi Kesehatan Nasional China telah mengonfirmasi 571 kasus dan 17 kematian terkait coronavirus jenis baru. Komisi itu mengatakan 393 kasus lain yang dicurigai telah dilaporkan.

Di China sendiri, virus telah menyebar ke sejumlah provinsi, bahkan hingga ke Macau dan Hong Kong.

Ada pun delapan kasus lain diketahui di seluruh dunia, di mana Thailand mengonfirmasi empat kasus, sementara Amerika Serikat, Taiwan, Korea Selatan, dan Jepang masing-masing melaporkan satu kasus.

Sponsored

Setidaknya 16 orang yang memiliki kontak dekat dengan seorang pria AS yang didiagnosis terkait coronavirus sedang dipantau.

Wakil Perdana Menteri China Sun Chunlan dalam kunjungannya ke Wuhan menyatakan bahwa pihak berwenang perlu terbuka tentang penyebaran virus dan upaya mereka untuk mencegah penyebarannya. Demikian dilaporkan kantor berita resmi Xinhua pada Kamis.

Sementara itu, setelah mengadakan pertemuan di kantor pusat Jenewa pada Rabu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan akan memutuskan pada Kamis apakah akan mengumumkan wabah darurat kesehatan global, yang berarti peningkatan respons internasional.

Jika WHO menyatakan demikian maka ini akan menjadi darurat kesehatan publik internasional keenam yang diumumkan dalam dekade terakhir.

Beberapa ahli percaya virus baru ini tidak berbahaya seperti SARS dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS).

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kepada wartawan di Jenewa bahwa tindakan yang dilakukan China sejauh ini "sangat kuat". Tetapi, dia menyerukan Beijing untuk mengambil langkah-langkah yang lebih dan signifikan untuk membatasi atau meminimalkan penyebaran virus.

"Kami menekankan pada mereka bahwa dengan memiliki tindakan yang kuat tidak hanya mereka akan mengendalikan wabah di negara mereka tetapi mereka juga akan meminimalkan kemungkinan wabah ini menyebar secara internasional," kata dia.

Berasal dari ular?

Belum ada obat untuk virus yang gejalanya meliputi demam, kesulitan bernapas, dan batuk serta dapat menyebabkan pneumonia ini.

Asal usul virus masih diselidiki. Menurut analisis genetik, coronavirus jenis baru mungkin telah ditularkan dari ular ke orang dan ular itu diduga menerimanya dari kelelawar di pasar Wuhan, di mana kedua spesies itu dijual.

Untuk mengetahui apakah virus itu mungkin berasal dari salah satu spesies, Wei Ji dan rekan-rekannya di Peking University, China, membandingkan genom dari lima sampel virus baru dengan 217 virus serupa yang dikumpulkan dari berbagai spesies.

Analisis tim menunjukkan bahwa virus baru terlihat mirip dengan yang ditemukan pada kelelawar, tetapi secara genetis lebih mirip seperti virus yang terlihat pada ular.

"Hasil yang diperoleh dari analisis sekuens kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa ular adalah reservoir hewan liar yang paling mungkin," sebut tim itu.

Merespons temuan tersebut, Haitao Guo University of Pittsburgh di Pennsylvania mengatakan, "Kami sangat gembira dengan spekulasi baru ini. Kita membutuhkan lebih banyak bukti eksperimental, tetapi (penelitian) itu memberi kita petunjuk."

Peter Rabinowitz dari University of Washington di Seattle menerangkan bahwa virus baru mungkin terbentuk sebagai hasil kombinasi virus dari kelelawar dan ular, yang dapat terjadi ketika dua spesies hewan itu ditempatkan dalam jarak dekat seperti yang terjadi di pasar. (Reuters, The New York Times, dan New Scientist)

Berita Lainnya