logo alinea.id logo alinea.id

Donald Trump tidak khawatir soal pemakzulan

Donald Trump mengaku tidak sedikit pun khawatir soal pemakzulan yang menargetkannya.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 23 Apr 2019 13:13 WIB
Donald Trump tidak khawatir soal pemakzulan

Donald Trump pada Senin (22/4) mengatakan bahwa Kongres tidak dapat memakzulkan dirinya berdasarkan laporan Robert Mueller menyangkut campur tangan Rusia dalam Pilpres Amerika Serikat 2016 dan dugaan upayanya untuk menghambat penyelidikan.

Trump bersikeras bahwa dia tidak melakukan kesalahan. Dia membantah potret disfungsi di Gedung Putih di mana staf yang tidak taat disebut telah menyelamatkannya dari upayanya menghalangi keadilan dengan menolak menjalankan perintahnya.

Saat ditanya oleh wartawan saat perayaan Paskah di Gedung Putih soal apakah dia khawatir dengan pemakzulan, Trump menjawab, "Tidak sedikitpun saya khawatir."

Sementara itu di Twitter dia menuliskan, "Hanya kejahatan tingkat tinggi dan pelanggaran ringan yang dapat menyebabkan pemakzulan. Saya tidak melakukan kejahatan (tidak ada kolusi, tidak ada upaya menghalangi keadilan), jadi Anda tidak memakzulkan saya. Demokratlah yang melakukan kejahatan, bukan presiden Republik Anda!."

Dalam laporannya Mueller menuliskan, "Upaya presiden untuk memengaruhi penyelidikan sebagian besar tidak berhasil, tetapi itu terutama karena orang-orang yang mengelilingi presiden menolak untuk melaksanakan perintah atau menyetujui permintaannya."

Trump pada Senin membantah bahwa segala macam pembangkangan akan dimungkinkan.

"Tidak ada yang melanggar perintah saya," katanya.

Sponsored

Kubu Demokrat percaya bahwa laporan Mueller telah mengungkapkan kesalahan serius yang dilakukan oleh presiden. Mereka belum memutuskan untuk menyuarakan pemakzulan.

Laporan Mueller mengonfirmasi bahwa para operator Rusia telah berusaha untuk mencampuri Pilpres 2016 demi membantu Trump mengalahkan Hillary Clinton, termasuk lewat peretasan sejumlah email. Laporan itu juga menemukan bahwa kampanye Trump mengambil keuntungan dari dampak yang ditimbulkan terhadap Hillary, tetapi tidak sengaja berkolusi dengan Rusia.

Selama penyelidikan, menurut laporan yang sama, Trump berulang kali mencoba menghambat pekerjaan Mueller.

Namun, Mueller tidak memutuskan apakah Trump telah melakukan kejahatan menghalangi keadilan. Jadi keputusannya saat ini ada di Kongres, ingin menyelesaikan atau tidak.

Demokrat, yang mengendalikan majelis rendah atau DPR, sejauh ini sebagian besar menahan diri dari menyerukan proses pemakzulan, yang akan sangat memecah belah jelang Pilpres 2020.

Di antara politikus Demokrat yang menahan diri, kandidat capres Kamala Harris bersuara lantang dengan mengatakan bahwa Kongres harus mengambil langkah-langkah menuju pemakzulan. Itu menjadikannya kandidat capres kedua yang menyerukan hal tersebut setelah Senator Elizabeth Warren melakukannya pekan lalu.

Adapun komite-komiter di DPR berencana untuk menggali lebih jauh ke dalam soal skandal Pilpres 2016 dan mendesak agar seluruh laporan Mueller dibuka, termasuk bagian-bagian yang saat ini dihitamkan karena alasan keamanan atau hukum.

Bagi Trump, laporan Mueller adalah bukti bahwa dirinya terbebas sepenuhnya dari segala tuduhan. Dia telah berulang kali mengatakan bahwa penyelidikan Mueller setara dengan tindak pengkhianatan dan mata-mata.

Demokrat berkeyakinan, laporan tersebut telah menunjukkan secara rinci bahwa Trump tidak layak untuk menjabat, bahkan jika bukti tidak cukup untuk membuktikan kejahatan di pengadilan.

Selain diskusi yang sedang berlangsung tentang apa yang harus dilakukan tentang laporan Mueller, Trump menghadapi bahaya dari penyelidikan kongres terhadap kepentingan bisnis dan sejarah pajaknya. Dia telah menolak untuk mengumumkannya kepada publik.

Pada Senin, Trump dan perusahaannya mengajukan gugatan ke pengadilan federal Washington untuk mencoba dan memblokir panggilan pengadilan yang dikeluarkan oleh Komite Pengawasan dan Reformasi House untuk mendapatkan akses ke catatan keuangan mereka.

"Partai Demokrat, dengan kontrol yang baru ditemukannya dari Dewan Perwakilan Rakyat AS, telah menyatakan perang politik habis-habisan terhadap Presiden Donald J. Trump," sebut gugatan tersebut. (AFP)