sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

FCCC: China jadikan visa sebagai senjata lawan jurnalis asing

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan bahwa laporan FCCC itu tidak tepat.

Khairisa Ferida
Khairisa Ferida Selasa, 03 Mar 2020 08:10 WIB
FCCC: China jadikan visa sebagai senjata lawan jurnalis asing
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 389.712
Dirawat 62.649
Meninggal 13.299
Sembuh 313.764

Pemerintah China telah menjadikan visa sebagai bagian dari kampanye peningkatan tekanan bagi jurnalis asing yang beroperasi di negara itu. Hal tersebut diungkapkan oleh Foreign Correspondents Club of China (FCCC) pada Senin (2/3).

China bulan lalu mencabut visa tiga wartawan Wall Street Journal (WSJ) di Beijing setelah surat kabar itu menolak meminta maaf atas tajuk berita "China is the real sick man of Asia". Seorang jurnalis WSJ lainnya juga harus angkat kaki setelah China menolak memperbarui visanya.

"Sejak 2013, ketika Xi Jinping naik ke tampuk kekuasaan, China telah memaksa sembilan jurnalis asing, baik melalui pengusiran langsung atau dengan tidak diperpanjangnya visa. FCCC khawatir bahwa China sedang bersiap untuk mengusir lebih banyak wartawan," kata FCCC, dengan mengutip kekhawatiran 114 wartawan lewat sebuah survei. 

"Otoritas China menggunakan visa sebagai senjata melawan pers asing lebih dari sebelumnya  ... kondisi kerja bagi wartawan asing di China sangat memburuk pada 2019."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan bahwa laporan FCCC itu tidak tepat dan bahwa China tidak mengakui organisasi itu.

"Ada lebih dari 600 jurnalis asing yang ditempatkan di Tiongkok dan mereka tidak perlu khawatir tentang pelaporan mereka di China selama mematuhi hukum dan peraturan," kata dia.

Beijing sebelumnya membantah keras tuduhan bahwa pemerintah membatasi kebebasan pers bagi wartawan asing. Mereka juga mengkritik liputan media asing tentang sejumlah isu seperti perlakuan terhadap muslim Uighur dan protes antipemerintah di Hong Kong, menyebutnya bias.

FCCC menyebutkan bahwa untuk tahun kedua berturut-turut tidak ada responden dalam survei mereka mengatakan bahwa kondisi pelaporan di China telah membaik, dengan 82% menuturkan mereka telah mengalami gangguan, pelecehan atau kekerasan saat bertugas.

Sponsored

Seperempat responden juga mengatakan bahwa mereka telah menerima visa kurang dari 12 bulan. 

Wartawan asing yang berbasis di China biasanya menerima visa satu tahun dan harus memperbaruinya setiap tahun.

"Ketika China mencapai level pengaruh ekonomi baru, mereka telah menunjukkan keinginan yang semakin besar untuk menggunakan kekuatan negaranya yang lebih besar lagi demi menekan pelaporan faktual yang tidak sesuai dengan citra global yang ingin mereka sajikan," sebut laporan FCCC.

Laporan yang sama menambahkan, "Karena pengamatan semakin intensif terhadap China, lebih penting dari sebelumnya bagi media asing untuk memiliki kebebasan dalam melaporkan dan meliput di negara itu."

"Kemampuan jurnalis asing untuk bermarkas di China tanpa hambatan sangat penting bagi peliputan berita internasional berkualitas tentang negara itu," ungkap laporan tersebut.

Berita Lainnya