logo alinea.id logo alinea.id

Iran: Arab Saudi berupaya menggiring opini publik

Dalam KTT Arab pada Kamis (30/5), Raja Salman mengatakan diperlukan tindakan tegas untuk menghentikan meningkatnya ancaman asal Iran.

Valerie Dante
Valerie Dante Jumat, 31 Mei 2019 18:35 WIB
Iran: Arab Saudi berupaya menggiring opini publik

Iran telah menolak apa yang disebutnya sebagai tuduhan tidak berdasar yang dilayangkan Arab Saudi dalam KTT Arab. Teheran mengatakan Arab Saudi telah bergabung dengan Amerika Serikat dan Israel dalam upaya untuk menggiring opini dunia terhadap Iran.

Dalam KTT Arab pada Kamis (30/5), Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mengatakan bahwa diperlukan tindakan tegas untuk menghentikan meningkatnya ancaman dari Iran di kawasan setelah serangan terhadap beberapa tanker minyak di Teluk. 

Sama seperti AS, Arab Saudi meyakini bahwa Iran merupakan pihak yang bertanggung jawab atas serangan ke tanker minyak tersebut.

"Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi ... menolak tuduhan tanpa dasar oleh para kepala negara-negara Arab tertentu ... Kami melihat upaya Arab Saudi untuk menggiring opini publik terhadap rezim Iran seperti yang juga dilakukan oleh AS dan Israel," jelas kantor berita Iran, IRNA, pada Jumat (31/5).

Raja Salman menyampaikan komentarnya itu saat Arab Saudi menjadi tuan rumah dalam pertemuan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan Liga Arab untuk melawan apa yang disebutnya sebagai pengaruh buruk Iran yang semakin membesar.

Pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah KTT mendukung hak Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk membela kepentingan nasional setelah tanker minyak mereka disabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab.

Namun Irak, yang memiliki hubungan baik dengan Iran dan AS, keberatan dengan pernyataan KTT Arab. Irak menegaskan bahwa kerja sama dengan Teheran harus didasarkan pada prinsip tidak ada campur tangan dari negara asing.

Agresi terang-terangan

Sponsored

Berbicara kepada para pemimpin negara Arab, Raja Salman mendesak masyarakat internasional untuk menggunakan segala cara untuk menghentikan campur tangan Iran dalam urusan negara Arab lainnya.

Dia mengatakan tindakan Teheran mengancam perdagangan maritim internasional dan pasokan minyak global, serta merupakan pelanggaran terhadap perjanjian PBB.

"Ini adalah agresi terang-terangan terhadap stabilitas dan keamanan internasional," kata Raja Salman. "Tindakan kriminal Iran baru-baru ini ... mengharuskan kita semua bekerja serius untuk menjaga keamanan negara anggota GCC."

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Ibrahim al-Assaf mengatakan dugaan sabotase kapal tanker minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab dan serangan terhadap pipa minyak Arab Saudi oleh kelompok pemberontak Houthi mengancam ekonomi global serta membahayakan stabilitas regional dan internasional.

"Kita harus mengatasinya dengan segala cara yang ada," tegasnya.

Seorang pejabat Iran hadir di saat Menlu Assaf menyampaikan sambutannya. Segera setelah itu, Teheran membantah terlibat dalam serangan tanker minyak tersebut.

Pada Rabu (29/5), Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengklaim bahwa Iran hampir pasti terlibat dalam insiden sabotase tanker. Namun, dia tidak memberikan bukti apa pun untuk mendukung klaimnya. Seorang pejabat Iran menyebut tuduhan Bolton sebagai klaim yang konyol.

Ketegangan meningkat antara AS dan Iran setelah Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir multinasional dengan Teheran, menerapkan kembali sanksi, dan meningkatkan kehadiran militernya di Teluk.

Menargetkan Iran, merapat ke Qatar 

Raja Salman mengundang Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani ke KTT Arab. Emir Qatar yang berhalangan hadir diwakili oleh Perdana Menteri Sheikh Abdullah bin Nasser Al Thani.

PM Abdullah merupakan pejabat Qatar tertinggi yang mengunjungi Arab Saudi sejak Riyadh, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir memberlakukan blokade darat, laut, dan udara terhadap Qatar pada Juni 2017.

Thomas Pickering, mantan Duta Besar AS untuk PBB, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kehadiran PM Abdullah di KTT merupakan langkah penting.

"Kehadiran PM Abdullah di sana dan jabat tangannya dengan Raja Salman adalah tanda bahwa Arab Saudi menginginkan persatuan di GCC," kata Pickering.

Para analis mengatakan bahwa kini tinggal menunggu pernyataan terkait apakah Arab Saudi mendukung peran Qatar sebagai mediator sejumlah negara Arab dengan Iran.

Pada awal Mei, Menteri Luar Negeri Qatar telah bertatap muka dengan Menlu Iran di Teheran. Pertemuan itu kabarnya bertujuan untuk meredakan ketegangan yang meningkat di Teluk.

"Washington tampaknya bertaruh pada Doha untuk membuka kembali saluran dengan Teheran. Pertanyaannya adalah apakah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dapat menyetujui Qatar sebagai mediator," tutur Andreas Krieg, analis dari King's College London.

Krieg menilai, fakta bahwa Arab Saudi menghubungi Emir Qatar secara langsung menunjukkan bahwa ketegangan dengan Iran ditanggapi serius oleh Riyadh.

"Arab Saudi siap untuk membangun konsensus yang lebih luas demi menangani persoalan Iran," kata Krieg.

Negara-negara Teluk memiliki pasukan keamanan bersama di bawah GCC, tetapi aliansi yang berusia 39 tahun itu rusak akibat blokade terhadap Qatar.

Sumber : Al Jazeera