sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

ISIS klaim tanggung jawab atas ledakan di Jeddah

Orang Eropa dan Amerika lainnya menghadiri upacara di pemakaman non-Muslim di kota pesisir Jeddah milik kerajaan.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Jumat, 13 Nov 2020 11:23 WIB
ISIS klaim tanggung jawab atas ledakan di Jeddah
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 506.302
Dirawat 64.878
Meninggal 16.111
Sembuh 425.313

Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab atas ledakan di sebuah pemakaman di Arab Saudi pada Rabu (11/11). Dan mengatakan target utamanya adalah diplomat Prancis yang menghadiri upacara tersebut untuk mengenang akhir Perang Dunia I.

Orang Eropa dan Amerika lainnya menghadiri upacara di pemakaman non-Muslim di kota pesisir Jeddah milik kerajaan. Ledakan itu melukai tiga orang, dengan luka ringan.

Sekitar 20 orang dari berbagai negara menghadiri upacara di Jeddah pada Rabu (11/11) menandai peringatan 102 tahun gencatan senjata yang mengakhiri Perang Dunia I, hari yang juga diperingati di beberapa negara Eropa.

ISIS mengatakan dalam sebuah posting di kantor berita mereka, Aamaq, bahwa mereka menargetkan konsul Perancis yang menghadiri upacara tersebut karena penerbitan karikatur Nabi Muhammad di negaranya.

Klaim itu juga dilakukan di salah satu saluran Telegram militan yang digunakan oleh ISIS, yang mengatakan, para pejuangnya dapat memasang alat peledak pada upacara tersebut. Namun, kelompok militan tidak memberikan bukti untuk klaimnya.

Aamaq mengatakan negara-negara Eropa lainnya pada upacara itu juga dianggap sebagai sasaran karena mereka adalah bagian dari koalisi internasional yang memerangi militan ISIS. Koalisi pimpinan AS melawan ISIS menyatakan kemenangan melawan kelompok itu pada awal 2019 setelah mengusir militannya dari wilayah yang mereka kuasai di Suriah dan Irak.

Namun, sisa-sisa kelompok militan telah menyebar ke gurun di Suriah dan Irak, sementara yang lain juga melarikan diri ke negara asal mereka. Ribuan lainnya mendekam di penjara Suriah dan Irak.
Sementara kelompok itu tidak pernah memiliki kehadiran besar di Arab Saudi, serangan besar terakhir yang dilakukan militannya di kerajaan itu terjadi pada 2015.

Dalam pernyataan yang disampaikan oleh Saudi Press Agency pada Kamis (12/11) malam, Putra Mahkota Mohammed bin Salman berjanji untuk menyerang dengan tangan besi siapa pun yang ingin merusak keamanan dan stabilitas negaranya.

Sponsored

Prancis telah menjadi target tiga serangan dalam beberapa pekan terakhir yang oleh pihak berwenang dikaitkan dengan ekstremis muslim.

Karikatur nabi yang kembali ke domain publik awal tahun ini, dianggap ofensif oleh banyak muslim dan telah memicu protes di Asia dan Timur Tengah, dengan seruan untuk memboikot produk Prancis. Mereka juga dipandang sebagai pemicu beberapa serangan terhadap warga dan kepentingan Prancis dalam beberapa pekan terakhir.

Serangan tersebut termasuk pemenggalan kepala seorang guru bahasa Prancis di luar Paris yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di kelasnya. Tiga orang kemudian tewas di sebuah gereja di selatan Kota Nice.

Ledakan hari Rabu (11/11) di kota pelabuhan Jeddah melukai seorang warga Inggris, seorang polisi Yunani dan seorang petugas keamanan Saudi. Itu terjadi setelah serangan penikaman bulan lalu yang melukai seorang penjaga keamanan di Konsulat Prancis, juga di Jeddah. Penyerangnya, seorang pria Saudi yang dikatakan berusia 40-an, ditangkap tetapi motifnya masih belum jelas.

Seorang simpatisan ISIS juga melakukan serangan mematikan di Austria awal bulan ini.

Kedutaan Besar Saudi di Den Haag dihujani dengan tembakan pada Kamis (12/11) pagi, meninggalkan lubang peluru di fasad dan di beberapa jendela. Tidak ada yang terluka, menurut polisi Belanda.

Tidak jelas apakah semua serangan ini terkait.

 

Sumber: ABC News
 

Berita Lainnya