logo alinea.id logo alinea.id

Kim Jong-un janji beri balasan ke negara yang jatuhkan sanksi

Meski Kim Jong-un tidak secara terang-terangan menyebut AS, tetapi para analis yakin pernyataannya merupakan tekanan terhadap Washington.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 11 Apr 2019 19:15 WIB
Kim Jong-un janji beri balasan ke negara yang jatuhkan sanksi

Kim Jong-un berjanji akan memberikan balasan serius kepada negara-negara yang menjatuhkan sanksi pada Korea Utara.

Kritik Kim Jong-un ini datang berminggu-minggu usai KTT kedua Korea Utara-Amerika Serikat gagal mencapai kesepakatan setelah kedua pihak berselisih pandang mengenai pengangkatan sanksi demi kemajuan proses denuklirisasi.

"Kami harus memberikan balasan serius kepada pihak-pihak yang ingin menjatuhkan kami dengan menggunakan sanksi," ujar Kim Jong-un dalam sidang pleno Partai Buruh pada Rabu (10/4). Demikian dikutip oleh kantor berita negara KCNA.

Meski Kim Jong-un tidak secara terang-terangan menyebut AS, tetapi para analis menilai rujukannya terkait "pihak yang ingin menjatuhkan Korea Utara" sebagai upaya untuk memberi tekanan kepada Washington.

"Pernyataannya tidak secara gamblang menyebutkan AS, tetapi dia menyebutkan sanksi yang diberikan oleh pihak-pihak yang ingin menjatuhkan Korea Utara," kata Shin Beom-chul, peneliti dari Asan Institute for Policy Studies di Seoul.

Shin Beom-chul menyebut, ucapan Kim Jong-un itu dapat diartikan sebagai pernyataan bahwa Korea Utara akan mengambil jalur independen jika AS tidak mencabut sanksi atas mereka.

"Jika AS mempertahankan pemberlakuan sanksi, mereka adalah musuh. Namun, jika meringankan sanksi, mereka bukan musuh," kata dia.

Upaya diplomatik untuk memecah kebuntuan terkait denuklirisasi Korea Utara tersendat sejak Kim Jong-un dan Trump berpisah tanpa mencapai kesepakatan setelah KTT dua hari di ibu kota Vietnam pada akhir Februari.

Sponsored

Pyongyang mengatakan pihaknya menginginkan adanya pencabutan sejumlah sanksi sebagai imbalan atas pembongkaran fasilitas nuklir utama mereka di Yongbyon.

Namun, AS mengklaim bahwa Korea Utara menuntut agar semua sanksi dicabut.

Pemerintahan Trump menegaskan bahwa Washington hanya akan mencabut semua sanksi jika Pyongyang membongkar seluruh program senjata nuklir mereka.

Dalam pertemuan politbiro pada awal pekan, Kim Jong-un menggambarkan situasi sedang penuh ketegangan.

Dia berulang kali menekankan bahwa kemandirian merupakan jalan terbaik untuk melawan upaya internasional yang menggunakan sanksi untuk memaksa Korea Utara menyerahkan senjata nuklir dan rudal balistiknya.

Perhatian pemimpin berusia 35 tahun itu pada ekonomi telah terbukti dalam sepekan terakhir. Media pemerintah melaporkan bahwa Kim Jong-un berkunjung ke beberapa tempat termasuk toserba yang telah direnovasi, resor wisata, dan pusat ekonomi di dekat perbatasan dengan China.

Terlepas dari peringatan Kim Jong-un pada awal 2019 yang menyatakan Korea Utara akan mengambil jalan lain jika Washington mempertahankan sanksi, para pejabat Korea Selatan berharap agar dia terus fokus pada kondisi ekonomi negaranya.

"Kami percaya bahwa kebijakan strategis tahun lalu, yang berfokus pada pembangunan ekonomi, akan terus berjalan," tutur Juru Bicara Kementerian Unifikasi Baik Tae-hyun.

Majelis Tertinggi Rakyat Korea Utara mengadakan pertemuan pada Kamis (11/4). Di saat yang sama, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in akan bertemu dengan Trump di Washington dalam upaya untuk memulai kembali diskusi denuklirisasi.

Moon Jae-in berharap untuk mendapatkan konsesi terkait sanksi dari AS agar Seoul dapat bekerja sama dalam proyek pariwisata dan industri lintas batas yang disepakati oleh dirinya dan Kim Jong-un dalam KTT ketiga mereka pada September 2018.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo memberikan secercah harapan kepada Moon Jae-in ketika pada Rabu mengatakan akan sedikit melonggarkan sanksi terhadap Korea Utara jika rezim itu membuat kemajuan substansial terkait denuklirisasi.

Sumber : The Guardian