sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Korsel akan campur vaksin Covid-19 bagi 760.000 orang

Pemerintah Korsel menawarkan opsi tersebut akibat penundaan pengiriman oleh skema pembagian vaksin global, Covax.

Valerie Dante
Valerie Dante Sabtu, 19 Jun 2021 10:31 WIB
Korsel akan campur vaksin Covid-19 bagi 760.000 orang

Sekitar 760.000 warga Korea Selatan yang telah menerima dosis pertama vaksin Covid-19 milik AstraZeneca akan ditawarkan vaksin Pfizer-BioNTech sebagai suntikan dosis kedua mereka.

Pemerintah pada Jumat (18/6) menyatakan, mereka menawarkan opsi tersebut akibat penundaan pengiriman oleh skema pembagian vaksin global Covax.

Sejumlah negara, termasuk Kanada dan Spanyol, telah menyetujui metode vaksinasi dengan pencampuran dosis, terutama karena kekhawatiran tentang pembekuan darah yang langka dan berpotensi fatal terkait dengan vaksin AstraZeneca.

Sebuah penelitian di Spanyol menemukan bahwa memberikan dosis suntikan Pfizer kepada orang yang telah menerima vaksin AstraZeneca sangat aman dan efektif.

Sekitar 835.000 dosis vaksin AstraZeneca dari Covax dijadwalkan tiba pada akhir Juni, yang direncanakan Korea Selatan akan digunakan terutama sebagai suntikan dosis kedua bagi sekitar 760.000 petugas kesehatan yang telah menerima dosis pertama pada April.

Akibat pengiriman yang tertunda, vaksin AstraZeneca diperkirakan baru akan tiba pada Juli atau lebih lambat dari itu.

Lebih dari 27% dari 52 juta penduduk Negeri Ginseng telah menerima setidaknya satu dosis vaksin Covid-19. Korea Selatan kini berada di jalur yang tepat untuk memenuhi target 70% vaksinasi massal pada September dan mencapai kekebalan kawanan (herd immunity) sebelum November.

Bulan lalu, otoritas Korea Selatan mengatakan akan melakukan uji klinis yang mencampur dosis Covid-19 dari AstraZeneca dengan vaksin dari Pfizer dan lainnya.

Sponsored

Direktur Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) Jeong Eun-kyeong pada Kamis (17/6) mengatakan bahwa sejauh ini, Korea Selatan telah menjalankan uji coba pada 100 petugas kesehatan untuk memeriksa pembentukan antibodi dan efek kekebalan lainnya.

Sumber : Channel News Asia

Berita Lainnya