sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Parlemen Inggris gagal loloskan opsi alternatif Brexit

Hasil pemungutan suara di parlemen Inggris tidak mengikat secara hukum, sehingga pemerintah tidak akan dipaksa mengadopsi hasil apapun.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 02 Apr 2019 10:33 WIB
Parlemen Inggris gagal loloskan opsi alternatif Brexit

Anggota parlemen kembali gagal menyetujui opsi alternatif untuk menentukan langkah selanjutnya dalam proses Brexit.

Pada Senin (1/4), parlemen melakukan pemungutan suara bagi empat mosi alternatif Brexit. Namun, tidak ada satu pun mosi yang berhasil memperoleh suara mayoritas.

Hasil pemungutan suara tersebut tidak mengikat secara hukum, sehingga pemerintah tidak akan dipaksa mengadopsi hasil apapun.

Sementara itu, draf Brexit milik Perdana Menteri Theresa May, hasil negosiasinya dengan Uni Eropa, telah tiga kali ditolak parlemen.

PM May kini memiliki waktu hingga 12 April untuk meminta penundaan waktu yang lebih lama dari Uni Eropa agar Inggris dapat mengambil jalan lain atau memutuskan untuk hengkang dari blok itu dengan skenario tanpa kesepakatan (no-deal Brexit).

Dia akan bertemu dengan kabinetnya pada Selasa (2/4) pagi waktu setempat untuk membahas langkah selanjutnya.

Mosi yang ditolak dengan margin paling tipis adalah proposal terkait serikat pabean, mosi tersebut kalah hanya dengan selisih tiga suara.

Itu akan membuat Inggris tetap berada dalam sistem tarif dan pajak yang sama dengan Uni Eropa. Mosi tersebut berpotensi menyederhanakan masalah perbatasan Irlandia Utara, tetapi mencegah Inggris melakukan perjanjian perdagangan independen dengan negara lain.

Sponsored

Mosi yang menyerukan referendum konfirmasi menerima suara terbanyak, total 280, tetapi masih kalah dengan selisih 12 suara.

Menyusul kegagalan mosinya sendiri untuk tetap di pasar tunggal, anggota parlemen Partai Konservatif, Nick Boles, mengundurkan diri dari partainya.

"Saya telah melakukan semua yang saya bisa saya lakukan untuk berkompromi," kata dia.

Ketika dia berjalan meninggalkan ruang sidang Parlemen Inggris, anggota parlemen terdengar berteriak, "jangan pergi Nick", dan yang lainnya bertepuk tangan untuknya.

Menteri Brexit Stephen Barclay mengatakan satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menemukan jalan yang memungkinkan Inggris meninggalkan Uni Eropa dengan kesepakatan.

"Pemerintah terus percaya bahwa tindakan terbaik adalah melakukannya sesegera mungkin," katanya. "Jika parlemen mampu meloloskan draf Brexit pada pekan ini, masih ada kemungkinan untuk menghindari pemilihan Parlemen Eropa."

Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn menyampaikan kekecewaannya karena tidak ada proposal alternatif yang meraih suara mayoritas.

"Jika PM May diberi tiga peluang untuk mengajukan draf miliknya, maka saya sarankan mungkin parlemen harus mempertimbangkan lagi pilihan yang ada ... sehingga parlemen dapat berhasil di mana PM May telah gagal, yakni dalam memberikan hubungan masa depan ekonomi yang kredibel dengan Eropa yang mencegah kita untuk keluar secara no-deal," ujar Corbyn.

Empat mosi

Parlemen melakukan pemungutan suara untuk membahas delapan poin solusi alternatif Brexit. Delapan mosi itu kemudian mereka pangkas menjadi empat yang kemudian tetap gagal disepakati oleh anggota parlemen.

Mosi C merupakan komitmen pemerintah untuk menegosiasikan serikat pabean yang komprehensif dan permanen antara Inggris dan Uni Eropa sebagai bagian dari draf Brexit.

Sementara itu, mosi D disebut sebagai Common Market 2.0. Opsi tersebut berarti bergabung dengan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA) dan Wilayah Ekonomi Eropa (EEA).

Kemudian mosi E merupakan opsi untuk mengadakan referendum konfirmasi, di mana publik dapat memberikan suara untuk menyetujui segala kesepakatan Brexit yang disahkan oleh parlemen sebelum diimplementasikan.

Dan yang terakhir, mosi G, bertujuan untuk mencegah Inggris hengkang dengan skenario no-deal Brexit. Mosi ini mencakup opsi untuk menggelar pemungutan suara untuk mencabut Pasal 50 dan menghentikan proses Brexit, jika Uni Eropa tidak menyetujui penundaan tenggat cerai.

Pasal 50 sendiri merupakan mekanisme hukum Uni Eropa yang mengatur tentang proses di mana negara-negara anggota dapat mencabut keanggotaan dari blok itu.

Sejumlah anggota parlemen mengkritik sesama rekan mereka karena tidak menyetujui opsi apa pun. 

Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock menyuarakan protesnya, mengatakan sudah saatnya kesepakatan PM May disahkan.

Anggota parlemen dari Partai Liberal Demokrat, Norman Lamb, mengatakan bahwa dia malu menjadi bagian dari Dewan Rakyat Inggris dan mengecam anggota parlemen asal partainya.

Menurutnya, parlemen "bermain dengan api" dan akan membawa banyak masalah kecuali mereka belajar untuk berkompromi.

Namun, Brexiteer terkemuka, Steve Baker, menuturkan bahwa dia senang karena parlemen tidak mencapai kesepakatan apa pun.

Dia menyebut, PM May kini harus kembali ke Uni Eropa dan membujuk para petinggi di Brussels untuk menulis ulang draf Brexit, jika tidak, pilihan yang tersedia hanya antara no-deal dan tidak ada Brexit sama sekali.

Pejabat senior di Uni Eropa pun menunjukkan kefrustasian mereka atas hasil pemungutan suara parlemen.

Koordinator Brexit di Parlemen Eropa Guy Verhofstadt mentwit bahwa dengan menolak semua mosi, "Skenario no-deal Brexit hampir tak terelakkan".

Sumber : BBC