logo alinea.id logo alinea.id

Pascabentrokan akhir pekan, Hong Kong berbenah

Senin (12/8), layanan kereta bawah tanah kembali beroperasi seperti biasa dan jalan-jalan pun telah dibersihkan.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 12 Agst 2019 10:13 WIB
Pascabentrokan akhir pekan, Hong Kong berbenah

Pada Senin (12/8), stasiun-stasiun kereta bawah tanah di Hong Kong kembali beroperasi normal dan puing-puing mulai dibersihkan dari jalan raya usai bentrokan keras antara demonstran anti-pemerintah dan polisi pada Minggu (11/8).

Dalam protes pada Minggu, pengunjuk rasa di Wan Chai dilaporkan melemparkan dua bom bensin yang menurut polisi melukai seorang petugasnya. Para demonstran menggunakan strategi gerombolan massa (flash-mob), mereka menarik diri ketika ditekan polisi kemudian muncul kembali untuk melanjutkan aksi unjuk rasa di wilayah lain.

Pada hari yang sama, polisi menembakkan gas air mata dan menangkap pengunjuk rasa di stasiun MTR Kwai Fong.

Aksi protes memblokir sebagian besar jalan di kawasan komersial dan perbelanjaan utama serta memberhentikan layanan fasilitas publik di kota itu.

Demonstran menuntut pengunduran diri Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam, mengadakan pemilu demokratis, pembebasan warga yang ditangkap dalam serangkaian protes sebelumnya dan penyelidikan independen bagi polisi yang menggunakan kekerasan terhadap para pengunjuk rasa.

Dalam unjuk rasa lainnya di Victoria Park pada Minggu, demonstran membawa spanduk bertuliskan, "Give Hong Kong back to us" dan "Withdraw the evil law", merujuk pada RUU ekstradisi yang telah ditangguhkan pembahasannya.

Di bawah RUU tersebut, warga dapat diekstradisi untuk diadili di pengadilan yang dikendalikan Partai Komunis di China daratan.

Pada Minggu, kerusuhan juga terjadi di Sham Shui Po di mana massa melemparkan batu bata ke petugas kepolisian dan mengabaikan peringatan untuk meninggalkan daerah tersebut.

Sponsored

Tidak jauh dari Sham Shui Po, pemrotes yang mengenakan masker gas mengepung kantor polisi di Cheung Sha Wan. Tidak hanya masker, beberapa lainnya menggunakan helm, ransel dan kaus hitam yang telah menjadi seragam mereka.

Pada saat yang sama, aksi protes damai yang telah digelar sejak Jumat (9/8), berlanjut di Bandara Internasional Hong Kong. Para pengunjuk rasa diperkirakan akan kembali berkumpul di bandara untuk hari keempat berturut-turut pada Senin dan berencana untuk berunjuk rasa di luar markas polisi pada malam harinya.

Demonstrasi yang awalnya dimulai sebagai bentuk penentangan terhadap RUU ekstradisi telah berkembang menjadi seruan reformasi demokrasi yang lebih besar di Hong Kong.

Polisi telah menangkap lebih dari 600 orang sejak protes dimulai lebih dari dua bulan lalu. 

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka memerangi erosi perjanjian "satu negara, dua sistem" yang menjamin sejumlah otonomi dan kebebasan bagi Hong Kong. Perjanjian tersebut disepakati ketika Inggris mengembalikan kota itu ke China pada 1997.

Beijing mengklaim para penjahat dan penghasut menyulut api kekerasan di Hong Kong, didorong oleh campur tangan kekuatan asing termasuk Inggris.

Pada Minggu, Korea Utara menyatakan dukungan terhadap China terkait situasi di Hong Kong. Pyongyang menyebut gejolak di kota itu disebabkan oleh pihak asing yang ikut campur dalam urusan dalam negeri China.

China merupakan sekutu diplomatik utama dan penyokong ekonomi Korea Utara, negara yang terisolasi akibat sanksi internasional yang dijatuhkan karena pengembangan rudal balistik dan nuklir.

"Tidak ada negara, entitas atau individu yang boleh diizinkan untuk menghancurkan kedaulatan dan keamanan China dan 'satu negara dan dua sistem' karena Hong Kong merupakan bagian dari China," kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara, dilaporkan oleh kantor berita KCNA. (Reuters dan Al Jazeera)