logo alinea.id logo alinea.id

PM Inggris bawa kekasih tinggal di rumah dinas

Johnson tercatat sebagai PM Inggris pertama yang tinggal dengan kekasihnya di Downing Street 10.

Valerie Dante
Valerie Dante Selasa, 30 Jul 2019 19:22 WIB
 PM Inggris bawa kekasih tinggal di rumah dinas

Pada Senin (29/7), Boris Johnson dan kekasihnya, Carrie Symonds, secara resmi pindah ke rumah dinas sekaligus kantor perdana menteri di Downing Street 10.

Sejak pekan lalu, ada spekulasi mengenai apakah Symonds akan ikut tinggal bersama Johnson di kediaman itu. Kantor PM Inggris sebelumnya menyatakan bahwa mereka belum tahu apakah pasangan itu akan hidup bersama atau tidak.

Langkah ini menjadikan Johnson sebagai PM Inggris pertama yang tinggal dengan kekasihnya di Downing Street 10.

Perceraian Johnson dari istri keduanya, Marina Wheeler, belum difinalisasi. Johnson memiliki empat anak dengan Wheeler.

Pada September 2018, Johnson dan Wheeler mengumumkan bahwa mereka akan berpisah setelah 25 tahun menikah. Tidak lama setelah itu, Johnson mengonfirmasi hubungannya dengan Symonds.

Hubungan Johnson dengan Symonds menjadi sorotan publik setelah pada akhir Juni, keduanya terlibat pertikaian di rumah mereka di London. Dikabarkan bahwa polisi datang ke lokasi untuk mengatasi pertikaian tersebut.

Johnson memenangi pemilihan kepemimpinan Partai Konservatif pekan lalu dan diangkat menjadi perdana menteri pada Rabu (24/7). Symonds berdiri bersama sejumlah pejabat di luar Downing Street 10 ketika Johnson menyampaikan pidato pertamanya sebagai PM Inggris.

Sebelumnya, Symonds sempat bekerja sebagai bagian dari tim kampanye yang membuat Johnson terpilih kembali sebagai Wali Kota London pada 2012.

Sponsored

Symonds kemudian menjadi direktur komunikasi termuda di Partai Konservatif. Para analis menilai, dia berperan penting dalam "merapikan" persona Johnson selama masa kampanye dalam perlombaan kepemimpinan Partai Konservatif. 

Dorong kesepakatan Brexit baru

Kantor PM Inggris menyatakan bahwa dalam beberapa pekan ke depan, Johnson akan terus berupaya menekan Uni Eropa untuk menegosiasikan kesepakatan Brexit baru.

Pada Selasa (30/7), Johnson mengunjungi sebuah pertanian di Wales untuk mendengar pandangan para petani terkait harapan mereka usai Inggris hengkang dari Uni Eropa.

Berbicara sebelum perjalanannya, Johnson mengatakan Brexit akan memungkinkan Inggris untuk membatalkan Kebijakan Pertanian Bersama milik Uni Eropa. Setelah pemerintah menandatangani kesepakatan perdagangan baru di luar Uni Eropa, Inggris dapat mengekspor lebih banyak makanan dan hasil pertanian ke seluruh dunia.

"Begitu kami meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober, kami akan memiliki peluang untuk memperkenalkan skema baru untuk mendukung pertanian nasional," tutur Johnson.

Dia menegaskan bahwa Brexit menghadirkan peluang besar bagi Inggris dan masyarakat perlu memandang masa depan dengan optimistis.

Namun, bukan optimisme, melainkan kekhawatiran yang terus meningkat di dunia bisnis. Sejumlah pebisnis khawatir Brexit tanpa kesepakatan (no-deal Brexit) dapat merusak kondisi ekonomi negara.

Dengan kurang dari 100 hari tersisa menuju tenggat Brexit, Johnson berupaya mempersiapkan negara itu menghadapi dampak yang dapat ditimbulkan dari no-deal Brexit.

Dalam beberapa pekan ke depan, pemerintah akan meluncurkan kampanye informasi publik secara massal. Kampanye tersebut bertujuan untuk memberikan saran kepada pebisnis dan masyarakat Inggris terkait persiapan yang harus mereka lakukan untuk mencegah dampak buruk dari no-deal Brexit.

PM Johnson mengungkapkan bahwa dia ingin Inggris cerai dari Uni Eropa dengan kesepakatan yang memenuhi dua syarat utama. Pertama, blok itu harus bersedia menegosiasikan kembali kesepakatan Brexit yang disepakati dengan Theresa May pada 2018. Dan kedua, Uni Eropa harus setuju untuk mencabut klausul backstop Irlandia.

Backstop Irlandia dimaksudkan untuk memastikan tidak perlu adanya pemeriksaan pada barang yang melintasi perbatasan darat antara Irlandia dan Irlandia Utara.

Para pemimpin Uni Eropa telah berulang kali mengatakan bahwa mereka tidak ingin merevisi kesepakatan Brexit yang sudah ada. Lebih lanjut, blok itu menegaskan kesepakatan Brexit apa pun yang disepakati harus mencantumkan backstop Irlandia.

Oleh sebab itu, juru bicara Johnson, Alison Donnelly, mengatakan bahwa PM melihat tidak ada gunanya bertemu langsung dengan para pemimpin Uni Eropa.

"PM Johnson akan dengan senang hati duduk bersama para pemimpin Uni Eropa jika mereka mengubah posisi mereka," jelas Donnelly. (CNN dan Bloomberg)