sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Rusia dan Myanmar diduga kerja sama pasokan peralatan militer

Sejumlah aktivis HAM menuduh Moskow melegitimasi junta militer Myanmar, yang merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1 Februari.

Valerie Dante
Valerie Dante Kamis, 22 Jul 2021 18:34 WIB
Rusia dan Myanmar diduga kerja sama pasokan peralatan militer

Kantor berita Interfax, mengutip Kepala Industri Senjata Rusia Rosoboronexport Alexander Mikheev, pada Rabu (21/7) melaporkan bahwa Rusia tengah bekerja sama dengan Myanmar untuk memasok peralatan militer.

Menurut Interfax, peralatan militer tersebut termasuk pesawat tempur.

Sejumlah aktivis HAM menuduh Moskow melegitimasi junta militer Myanmar, yang merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1 Februari, dengan melanjutkan kunjungan bilateral dan mengadakan kesepakatan senjata.

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengatakan kepada pemimpin junta Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, dalam kunjungannya ke Rusia pada bulan lalu bahwa Moskow berkomitmen untuk memperkuat hubungan militer.

Berbicara di sela-sela pertunjukan udara MAKS di Rusia, yang dihadiri Presiden Vladimir Putin pada Selasa (20/7), Mikheev mengatakan bahwa Myanmar adalah salah satu pelanggan utama Rosoboronexport di Asia Tenggara dan mitra utama Rostec, konglomerat pertahanan dan kedirgantaraan negara Rusia.

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai kesepakatan militer yang dijalin dengan Rusia.

Hubungan pertahanan antara kedua negara telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Moskow memberikan pelatihan dan beasiswa kepada ribuan tentara Myanmar, serta menjual senjata ke militer yang masuk daftar hitam oleh beberapa negara Barat.

Belum lama ini, junta Myanmar menolak resolusi Majelis Umum PBB yang mendesak embargo senjata ke negara tersebut.

Sponsored

Embargo senjata diterapkan setelah militer Myanmar menindak pemrotes antikudeta secara brutal. 

Sumber : Channel News Asia

Berita Lainnya