sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Setidaknya 16 tewas dalam sengketa wilayah Armenia-Azerbaijan

Armenia dan Azerbaijan berperang selama enam tahun di wilayah tersebut hingga gencatan senjata pada 1994.

Valerie Dante
Valerie Dante Senin, 28 Sep 2020 12:32 WIB
Setidaknya 16 tewas dalam sengketa wilayah Armenia-Azerbaijan

Setidaknya 16 tentara dan warga sipil tewas dalam bentrok terburuk antara pasukan Azerbaijan dan Armenia sejak 2016. Bentrokan tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait ketidakstabilan di wilayah sengketa yang merupakan rute transit penting bagi gas dan minyak ke pasar internasional.

Armenia mengumumkan darurat militer dan memerintahkan mobilisasi total militernya pada Minggu (27/9) setelah mengklaim telah menghancurkan beberapa pesawat dan tank milik Azerbaijan dalam bentrokan dini hari.

Pemerintah Armenia menuduh Azerbaijan melakukan serangan udara dan artileri di wilayah yang disengketakan, Nagorno-Karabakh, yang secara internasional diakui sebagai wilayah Azerbaijan tetapi memisahkan diri pada 1991 dan dijalankan oleh etnis Armenia.

Azerbaijan mengatakan, mereka telah melakukan serangan balik sebagai tanggapan atas penembakan yang dilakukan pihak Armenia.

Bentrokan itu memicu rentetan langkah diplomasi untuk mencegah gejolak konflik puluhan tahun antara mayoritas Kristen di Armenia dan sebagian besar muslim di Azerbaijan. Rusia menyerukan gencatan senjata segera dan kekuatan regional lainnya. Sementara Turki menyatakan bahwa mereka mendukung Azerbaijan.

Jalur pipa yang menyalurkan minyak dan gas alam dari Laut Kaspia dari Azerbaijan ke dunia melewati wilayah di sekitar Nagorno-Karabakh.

Aktivis hak asasi manusia di Armenia mengatakan dua warga sipil, seorang wanita dan seorang anak, tewas akibat penembakan Azerbaijan. Pejabat militer Armenia telah melaporkan setidaknya 10 korban di pihak mereka.

Para pejabat di Baku, ibu kota Azerbaijan, mengatakan sejumlah warga sipil tewas dan enam luka-luka. Sementara itu pihak berwenang di Nagorno-Karabakh mengatakan 16 staf militernya tewas.

Sponsored

Tentara Azerbaijan menyatakan bahwa mereka telah menguasai sejumlah desa di Nagorno-Karabakh pada Minggu sore, klaim yang ditolak Armenia.

Perselisihan berkepanjangan tersebut menarik perhatian regional dan barat karena daerah itu merupakan koridor pipa yang membawa minyak dan gas dari Laut Kaspia ke pasar global.

Turki memiliki ikatan budaya dan ekonomi yang kuat dengan Azerbaijan, mereka menegaskan akan mendukungnya dalam konflik apa pun. Di sisi lain, Rusia, kekuatan regional lainnya, secara tradisional dekat dengan Armenia, tetapi telah menjalin hubungan dengan elite Azerbaijan dalam beberapa tahun terakhir.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa Armenia telah sekali lagi menunjukkan bahwa mereka adalah ancaman terbesar bagi perdamaian dan ketenangan di kawasan.

"Turki berdiri di samping Azerbaijan dan akan mendukung dengan segala kemampuan kami," ujar Erdogan.

Kementerian Pertahanan Armenia pada Minggu mengatakan, pasukannya telah menghancurkan tiga tank, serta menembak jatuh dua helikopter dan tiga kendaraan udara tanpa awak sebagai tanggapan atas serangan terhadap sasaran sipil termasuk ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert.

"Tanggapan kami akan proporsional dan kepemimpinan militer-politik Azerbaijan memikul tanggung jawab penuh atas situasi tersebut," kata Kemenhan Armenia dalam pernyataannya.

Azerbaijan membantah pernyataan Kemenhan Armenia dan menuduh pasukan Armenia melancarkan serangan yang disengaja dan terarah di sepanjang garis depan.

"Kami membela kedaulatan wilayah kami, tujuan kami benar," kata Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev.

Dua negara bekas Soviet tersebut telah terlibat dalam bentrok selama bertahun-tahun di wilayah pegunungan Nagorno-Karabakh, wilayah mayoritas etnis Armenia yang secara resmi merupakan bagian dari Azerbaijan tetapi memisahkan diri dari negara itu saat Uni Soviet bubar.

Armenia dan Azerbaijan berperang selama enam tahun di wilayah tersebut hingga gencatan senjata pada 1994. Sejak itu Nagorno-Karabakh telah mengatur dirinya sendiri sebagai Republik Artsakh yang independen secara de facto.

Kedua negara terus menuduh satu sama lain melanggar gencatan senjata di sepanjang perbatasan mereka pada tahun-tahun sejak itu, termasuk sepanjang 2020. Lebih dari selusin tentara dan warga sipil tewas dalam pertempuran dalam beberapa bulan terakhir.

Sumber : The Guardian

Berita Lainnya